Thursday, January 5, 2012

Ikonoklasme:
Sebuah Sisi Destruktif Agama Monoteistik

Baiklah saya awali tulisan ini dengan sebuah puisi saya yang saya beri judul Patung. Hayatilah dalam-dalam dan sebarkan pesan-pesannya ke lingkungan yang lebih luas. 

Belajarlah wahai insan-insan berakal
Pada patung-patung diam tertanam
Niscaya jiwamu akan tambah ikal
Akal dan hatimu akan makin menajam
 
 

Patung-patung berabab-abad membisu diam
Mereka setia hanya mendengar sabar
Mereka telaten hanya memandang tajam
Tak satupun dari mulut mereka kata terlontar
 

Patung-patung lain sekali dengan manusia
Sebelum mendengar cukup kata tertata . . .
Sebelum melihat luas dunia semesta . . .
Manusia sudah mengumbar berjuta kata
 

Kata-kata untuk menyerang
Kata-kata untuk membinasakan
Kata-kata untuk memarang
Diayunkan kuat memenggal korban
 

Ketika kau insan berakal menerjang patung
Kepala mereka kau buat buntung
Lengan-lengan mereka kau jadikan kudung
Sungguh akal muliamu lenyap tanpa gaung
 

Wahai insan yang mengaku berakal
Umurmu paling banter sepuluh windu
Apa yang kau telah lihat sekian kwartal?
Apa yang kau telah dengar hingga batas usiamu?
 

Pandang dan temukan apa yang ada
Dalam benak patung-patung di sana
Yang sudah berusia ribuan era di mayapada
Yang sudah mendengar berlaksa kata khazana 
 


Wahai kau insan yang mengaku berakal
Saat kau umbar sejuta kata amarah membasmi 
Hanya sehelai daun kering yang bergeser tak mental
Tapi kebisuan sang patung menggeser Bumi   


Ternyata batu, besi dan kayu lebih mulia
Ketimbang daging, urat-gemurat dan tulang
Pada mulanya Tuhan menciptakan bukan manusia
Tetapi patung-patung indah gilang-gemilang
 


Hai Saudara, jadilah kawan karib patung-patung
Jadilah kau kekasih sejati patung-patung
Lindungilah mereka dan jangan kau pentung
Berkacalah pada sang patung supaya kau beruntung



Sekarang mari kita masuk ke topik yang menjadi fokus tulisan ini, tentang ikonoklasme. Sudah kita ketahui, ikonoklasme (Yunani: eikonomakhia, “tindakan memerangi atau menghancurkan gambar/ikon”) adalah suatu tindakan menghancurkan gambar-gambar, ikon-ikon, atau patung-patung, atau simbol-simbol dan monumen-monumen lain, baik yang bermakna religius maupun yang bermakna politis, karena motif-motif keagamaan ataupun politis di dalam suatu kebudayaan.

Dalam bahasa Inggris, pelaku ikonoklasme disebut iconoclast, sedangkan orang yang mengagungkan bahkan memuja dan menyembah ikon-ikon disebut iconolater (Yunani: eikonolatreia, “penyembahan ikon”) atau iconodule (“budak ikon”, eikonodoulos) atau iconofile (“sahabat atau orang yang mengasihi ikon”).
 
 
Ikon Yesus Kristus sang Allah Maha Kuasa (Pantokrator). 
Ikon ini, kata para ikonoklast, harus ditolak karena kodrat ilahi Yesus tidak 
memungkinkannya dibuat menjadi sebuah gambar yang tak bernyawa.

Belakangan ini di Indonesia telah dan tengah berlangsung ikonoklasme yang dilakukan kalangan Muslim garis keras terhadap berbagai ikon dan patung dari umat-umat beragama lain, yang dilakukan tanpa mempertimbangkan dengan empatetis keyakinan-keyakinan keagamaan dan perasaan hati umat-umat yang mengalami kekerasan ini.

Tak usah diperdebatkan jika ditegaskan bahwa monoteisme, yakni kepercayaan yang kuat pada keesaan Allah atau tawhid yang mengharuskan kaum monoteis menolak tegas politeisme, dan larangan kuat membuat ikon atau patung apapun untuk disembah, yang ditulis dalam kitab-kitab suci agama-agama monoteistik, adalah landasan-landasan skriptural yang dipakai oleh kaum fundamentalis monoteistik untuk melakukan tindak kekerasan ikonoklasme.

Tulisan ini mau memperlihatkan bahwa dalam apa yang sering disebut oleh para penganutnya sebagai “agama kasih”, yakni kekristenan, ikonoklasme juga banyak bermunculan di dalam sejarah agama ini, bahkan berlangsung dengan massif dan sangat keras.

Tidaklah berlebihan jika ditegaskan bahwa ikonoklasme adalah sebuah sisi destruktif dari agama-agama monoteistik. Mengenali sisi destruktif ini dalam sejarah Kekristenan adalah sebuah keniscayaan jika orang Kristen tidak mau terjebak dalam praktek yang sama pada masa kini dan di masa depan. Mengenali sejarah dan menjadi bertambah arif karena mau belajar dari sejarah adalah bagian-bagian dari usaha besar mendekonstruksi agama-agama pada era sains modern sekarang ini.

Jauh sebelum kekristenan muncul, ikonoklasme sudah berlangsung dalam Yudaisme kuno. Sebagaimana dikisahkan dalam kitab 2 Raja-raja, seorang raja yang bernama Hizkia (722-686 SM, di kerajaan selatan)  “meremukkan tugu-tugu berhala dan menebang tiang-tiang berhala dan menghancurkan ular tembaga (Nehustan) yang dibuat Musa” (2 Raja-raja  18:4), dan Raja Yosia (641/640-609 SM, di kerajaan selatan), karena didorong oleh amanat kitab Taurat Musa yang baru ditemukan di bait Allah, melancarkan ikonoklasme besar-besaran di dalam kerajaannya (2 Raja-raja 23:1-20).

Dalam sebuah komentar (midrash) atas Kitab Kejadian, yang dinamakan Kejadian Rabba (B’reshith Rabba; dikompilasi sekitar abad ke-5 M), dikisahkan bahwa Abraham menghancurkan hampir semua patung berhala yang dibuat, disembah dan dijual ayahnya, Terah. Tradisi tentang Abraham sebagai ikonoklast ini belakangan menjadi penting dalam gambaran Yahudi mengenai karakter Abraham.

Ketika kekaisaran Romawi mengalami pengkristenan yang menyeluruh, ikon-ikon religio-politis Romawi yang semula menguasai seluruh kekaisaran sebagai sebuah negara besar yang politeistik dihancurkan. Tetapi sebagai gantinya, ikon-ikon Yesus Kristus dan para santo/santa bermunculan dalam Gereja Roma Katolik kemudian.

Selanjutnya, tulisan ini fokus pada ikonoklasme yang berlangsung di kekaisaran Byzantium (324-1453 M) pada abad ke-8 dan abad ke-9, dan pada era Reformasi Protestan abad ke-16 yang dimulai di Jerman lalu meluas ke banyak negara di Eropa Barat. Pandangan-pandangan kalangan ikonoklast maupun kalangan ikonodule dalam setiap kurun ini juga akan dikemukakan.


Ikonoklasme di kekaisaran Byzantium

Sebelum ikonoklasme melanda wilayah kekaisaran Byzantium, sudah terdapat banyak penggunaan ikon dalam berbagai bidang, khususnya bidang keagamaan dan bidang politik. Kaisar Yustinianus II, misalnya, pada tahun 695 menaruh gambar penuh wajah Yesus Kristus pada bagian muka koin emasnya; hal ini menjadi penyebab Kalifah Abdul al-Malik selamanya tidak lagi mau mengadopsi jenis-jenis koin Byzantium dan memulai pembuatan koin-koin Islami murni dengan menggunakan hanya huruf-huruf./1/

Seperti ditulis oleh Patriarkh Konstantinopel, Germanus, sebelum tahun 726, tindakan sang Kaisar ini menimbulkan gejolak besar dalam seluruh kota dan sangat banyak penduduk terhasut perkara ini./2/ Seperti ditulis Sarah Brooks, bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa di kawasan-kawasan tertentu Byzantium, termasuk Konstantinopel dan Nicaea, ikon-ikon yang ada dihancurkan atau diplaster./3/ 

Ikonoklasme yang timbul di kekaisaran Byzantium dapat dibagi dalam dua periode.


Periode pertama (730-787)

Pada suatu waktu di antara tahun 726-730, Kaisar Byzantium Leo III Isaurian memulai kampanye penghancuran ikon-ikon, dengan dia memerintahkan sebuah ikon besar Yesus Kristus yang dipasang di atas Gerbang Chalke yang menjadi pintu masuk seremonial ke Istana Besar Konstantinopel dicopot dan diturunkan, lalu diganti dengan sebuah salib. Beberapa orang yang ditugaskan, karena dianggap akan melakukan sakrilegi, dibunuh oleh sekumpulan ikonodule. Dalam pandangan Leo III, pemujaan terhadap ikon-ikon merupakan pemujaan terhadap berhala. Dalam tahun 730, dia mengeluarkan sebuah dekrit yang melarang pemujaan ikon-ikon keagamaan. Dekrit ini tak berlaku bagi bentuk-bentuk kesenian lain, termasuk ikon Kaisar, atau simbol-simbol keagamaan lain seperti salib./4/

Seperti ditulis Warren Treadgold, Leo III tidak melihat keperluan “untuk dia berkonsultasi dengan gereja, dan tampaknya dia sangat terkejut ketika menemukan perlawanan yang sangat kuat dari banyak orang.”/5/ Pada tahap awal ikonoklasme ini, tidak ada konsili gereja yang ditugaskan untuk membahas dan memutuskan, juga tak ada patriarkh atau uskup yang dipanggil oleh Kaisar untuk menyingkirkan atau menghancurkan ikon-ikon. Dalam prosesnya, tulis Treadgold, Leo III hanya menyita piring-piring gereja yang sangat mahal, jubah-jubah altar, dan wadah-wadah penyimpan relik-relik yang diukir dengan gambar-gambar keagamaan.

Patriarkh Konstantinopel, Germanus, yang mendukung pemujaan ikon, mengundurkan diri, atau dipindahkan jabatannya, menyusul dekrit yang dikeluarkan Leo III. Hal yang menjadi kekhawatiran Germanus adalah bahwa dekrit pelarangan pemujaan ikon-ikon yang dikeluarkan sang Kaisar dapat menunjukkan bahwa gereja telah sangat lama keliru, dan akibatnya gereja jatuh ke dalam permainan orang Yahudi dan orang Islam./6/

Di wilayah Barat, Paus Gregorius III menyelenggarakan dua sinode di kota Roma, dan mengutuk tindakan-tindakan Leo III; dan sebagai tanggapan, Leo III menyita tanah-tanah luas milik kepausan di Kalabria dan Sicilia, juga di Illirikum, sehingga tak berada di bawah kekuasaan Paus lagi dan menempatkannya di bawah kekuasaan Patriarkh Konstantinopel. Namun, dalam sinode yang digelar tahun 730, Paus Gregorius III “secara resmi mengutuk ikonoklasme dan mengategorikannya sebagai bidah dan mengekskomunikasi para pembelanya. Surat Paus tak pernah mencapai Konstantinopel karena para kurirnya dicegat dan ditahan di Sicilia oleh orang Byzantium pendukung pemujaan ikon.”/7/

Setelah Leo III wafat (tahun 740), dekritnya diperteguh dan dimapankan sebagai dogma oleh puteranya Kaisar Konstantinus V (741-775), yang pada tahun 754 memanggil Konsili Hieria yang dihadiri antara 330 sampai 340 uskup yang mendukung posisi ikonoklastis. Tetapi konflik tidak reda, malah makin kuat antara pihak ikonoklast dan pihak ikonodule. Biara-biara menjadi basis kuat pemujaan ikon-ikon, dan para rahib membangun jejaring bawah tanah untuk membela pemujaan ikon-ikon.

Seorang rahib kebangsaan Syria, Yohanes dari Damaskus (dikenal juga sebagai Mansur), yang tinggal jauh dari Byzantium, di wilayah kekuasaan Muslim, dan menjadi penasihat Kalifah Damaskus, bersama Theodore Studite yang menjadi kepala biarawan dari Biara Stoudios di Konstantinopel, menjadi lawan-lawan utama terhadap ikonoklasme. Yohanes dari Damaskus menegaskan, pada satu pihak, bahwa dia tidak memuja materi, “melainkan sang pencipta materi”, tetapi di lain pihak dia menyatakan bahwa dia “juga memuja materi yang melaluinya keselamatan telah datang untukku, seolah materi ini berisi energi dan rakhmat ilahi.” Dalam pandangannya, materi itu juga mencakup tinta yang dengannya kitab-kitab Injil ditulis dan juga cat yang dipakai untuk melukis ikon-ikon, kayu yang membentuk salib, dan tubuh serta darah Yesus dalam ekaristi.

Tetapi Kaisar Konstantinus V bergerak menyerang para pemuja ikon yang berdiam dalam biara-biara, membuang relik-relik ke dalam laut, dan menghentikan pemujaan dan doa-doa kepada orang-orang suci yang sudah meninggal. Sebagai reaksi, para rahib berparade di Hippodrome, dengan masing-masing menggandeng tangan seorang perempuan, sebagai tanda bahwa mereka sengaja melanggar ikrar mereka sebagai rahib. Pada tahun 765, Saint Stephen Muda terbunuh, dan tampaknya menjadi seorang martir yang membela kalangan pemuja ikon. Selanjutnya, menurut Robin Cormack, sejumlah besar biara di Konstantinopel disekularisasikan, dan sangat banyak rahib melarikan diri ke daerah-daerah pinggir yang tidak berada dalam kontrol kekaisaran./8/

Putera Konstantinus V, Leo IV (775-780), untuk beberapa waktu berusaha mendamaikan kedua belah pihak yang sedang bertikai,  tetapi menjelang akhir kehidupannya dia mengambil tindakan keras terhadap ikon-ikon dan mau melarang isterinya, Irene, yang dikenal sebagai pemuja ikon diam-diam. Tetapi sebelum hal ini terjadi, Leo IV wafat, lalu Irene mengambil kekuasaan sebagai wali puteranya, Konstantinus VI (780-797). Dengan naiknya Irene ke tampuk kekuasaan sebagai wali puteranya, periode ikonoklastik pertama berakhir.

Irene mengambil prakarsa memanggil konsili ekumenis yang baru, yang dinamakan Konsili Nicaea Kedua, yang pertama-tama bertemu di Konstantinopel pada tahun 786 untuk membahas masalah ikonoklasme. Untuk itu, dia mengajukan permohonan kepada Paus Hadrianus (772-795) di Roma; sang Paus mendukung dan konsili digelar dengan dihadiri Irene dan puteranya.

Pada pertemuan awal, sekelompok prajurit ikonoklast yang tetap setia kepada Konstantinus V, kaisar yang menjadikan ikonoklasme sebagai dogma negara, menyerbu sehingga menimbulkan gangguan yang menghambat jalannya konsili, dengan akibat konsili ditunda sampai tersedianya pasukan yang dapat mengamankan konsili.

Kemudian pada 24 September 787, konsili di Nicaea berkumpul lagi, dengan dihadiri juga oleh wakil-wakil Paus, dan dekrit yang dihasilkannya disetujui oleh kepausan Roma. Gereja Ortodoks Timur memandang konsili ini sebagai konsili ekumenis murni terakhir. Pemujaan ikon-ikon terus berlangsung di sepanjang pemerintahan pengganti Irene, Nikephoros (802-811), dan dua pemerintahan lain sesudahnya yang berlangsung singkat.

Dalam konsili Nicaea tahun 787 ini, dihasilkan pernyataan-pernyataan teologis yang melawan pernyataan-pernyataan ikonoklast sebelumnya yang dihasilkan dalam Konsili Nicaea Pertama dan Konsili Hieria.

Konsili Nicaea Kedua ini (yang juga dinamakan Konsili Ekumenis Ketujuh) menyatakan antara lain bahwa bentuk-bentuk karya seni yang dihasilkan  
“sangat sejalan dengan sejarah persebaran Injil, karena karya-karya seni ini mengonfirmasi sang Firman Allah yang sudah menjadi manusia [= Yesus Kristus] sebagai pribadi yang real dan bukan khayalan…. Figur seperti salib yang dimuliakan dan memberi kehidupan, juga ikon-ikon kudus yang dimuliakan, entah yang dilukis atau yang dibuat dari mosaik atau dari bahan material lain yang cocok, haruslah dinampakkan di dalam gereja-gereja Allah yang kudus…; ini semua adalah gambar-gambar Tuhan kita, Allah dan Juruselamat, Yesus Kristus, dan Ibu kita yang tak bercacat, Bunda Allah yang kudus (= Bunda Maria), dan malaikat-malaikat yang dikuduskan dan semua orang suci yang dimuliakan. Semakin sering semua figur ini tampak dalam wujud karya-karya seni, semakin orang yang melihat mereka ditarik untuk terus mengingat mereka dan merindukan mereka sebagai model-model yang patut dicontoh, dan untuk memberi penghormatan dan pemuliaan dan pemujaan yang penuh respek kepada mereka semua. Tentu saja ini bukanlah pemujaan dan penghormatan yang sepenuh-penuhnya menurut iman kita, yang sudah sepantasnya diberikan hanya kepada kodrat ilahi (Yesus Kristus), tetapi ini sama dengan pemujaan dan penghormatan yang diberikan kepada figur salib yang dimuliakan dan memberi kehidupan, dan kepada kitab-kitab Injil yang suci dan kepada benda-benda kultis kudus lainnya.”/9/

Alasan-alasan kampanye ikonoklasme Leo III

Bisa jadi, alasan utama kampanye ikonoklasme yang dilancarkan Kaisar Leo III adalah kekalahan militer dalam perang melawan orang-orang Islam dan letusan gunung berapi di Pulau Thera, yang mungkin dipandangnya sebagai hukuman Allah yang murka terhadap pemujaan ikon-ikon yang ada dalam gereja./10/ Pertimbangan keagamaan yang ada dalam pikiran Leo III dalam dia melancarkan kampanye ikonoklasme mungkin sekali hanyalah ketentuan  dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam Taurat, yang melarang umat Israel membuat ikon-ikon apapun dan menyembahnya, yang disertai dengan ancaman-ancaman jika larangan ini dilanggar (Keluaran 20:4-5; bdk. Keluaran 32:1-35; Bilangan 25:1-11).

Lepas dari konflik keagamaan yang muncul dari ikonoklasme Leo III, kampanye yang dilancarkannya ini ternyata menimbulkan perpecahan politis dan ekonomis dalam masyarakat Byzantium. Ikonoklasme ini umumnya didukung oleh orang-orang non-Yunani yang miskin, yang berdiam di sebelah timur kekaisaran yang terus-menerus harus berhadapan dengan serbuan-serbuan orang Arab. Pada pihak lain, orang-orang Yunani yang jauh lebih kaya yang berdiam di Konstantinopel, dan juga penduduk provinsi Balkan dan provinsi Italia, dengan sangat kuat menolak ikonoklasme./11/

Jadi, sebagaimana dilihat oleh para sejarawan modern yang memakai analisis sosial dalam membaca dan menafsirkan sejarah, ikonoklasme juga merupakan suatu bentuk perjuangan kelas Abad Pertengahan, perjuangan kelas-kelas  miskin yang melihat diri mereka sedang ditindas oleh kelas-kelas kaya yang mereka pandang tersimbolisasi dalam ikon-ikon religio-politis. Menghancurkan ikon-ikon bagi mereka sama dengan menghancurkan orang-orang kaya, yang faktanya tak dapat mereka sentuh.  


Periode kedua (814-842)

Kaisar Leo V, orang Armenia, melancarkan kampanye ikonoklastis periode kedua pada tahun 815, menyusul kekalahan-kekalahan militer yang dianggapnya sebagai tanda-tanda kemurkaan Allah atas pemerintahannya. Orang Byzantium telah menderita serangkaian kekalahan yang memalukan ketika berperang dengan Raja Bulgaria Khan Krum, pada saat mana Kaisar Nikephoros I terbunuh dan Kaisar Michael I Rangabe dipaksa turun takhta. Pada Juni 813, sebulan sebelum pelantikan Leo V, sekelompok prajurit memasuki mouseleum kekaisaran di dalam komplek Gereja Rasul-rasul Kudus, lalu membongkar makam Konstantinus V, dan berdoa memohon sang Kaisar yang sudah wafat ini mau datang kembali dan menyelamatkan kekaisaran.

Tak lama setelah naik takhta, Leo V mulai melakukan pembahasan mengenai kemungkinan menghidupkan kembali ikonoklasme, bersama banyak dan beragam orang, termasuk para imam, rahib, dan anggota senat. Konon Leo V memberi nasihat kepada sekelompok penasihatnya, demikian: “Semua kaisar  yang mendukung dan memuja ikon-ikon mengalami kematian entah di dalam menghadapi pemberontakan atau di dalam peperangan; tetapi para kaisar yang tidak memuja ikon-ikon semuanya mati secara alamiah, dan tetap berkuasa sampai mereka wafat, lalu dimakamkan dengan segala kehormatan dan kemuliaan dalam mouseleum di dalam Gereja Rasul-rasul Kudus.”/12/

Leo V kemudian mengangkat sebuah “komisi” para rahib dengan tugas “mempelajari kitab-kitab kuno” dan mencapai suatu keputusan mengenai pemujaan ikon-ikon. Segera mereka menemukan keputusan-keputusan Sinode Ikonoklastis tahun 754. Debat pertama timbul di antara para pendukung Leo V dan kaum klerus yang terus membela pemujaan ikon yang dipimpin Patriarkh Nikephoros, dengan tidak menghasilkan keputusan apapun. Namun Leo V sangat meyakini kebenaran posisi ikonoklastis, lalu memerintahkan ikon Yesus Kristus yang dipasang pada Gerbang Chalke diturunkan kembali dan diganti dengan sebuah salib. Pada tahun 815 kebangkitan kembali ikonoklasme diabsahkan oleh suatu sinode yang diadakan di Hagia Sophia.

Leo V digantikan oleh Mikhael II, yang dalam sebuah suratnya yang ditulis tahun 824 dan ditujukan kepada Kaisar Carolingian Louis Si Saleh meratapi pemujaan ikon-ikon dalam gereja dan praktik-praktik pembuatan ikon-ikon para bapa pelindung bagi bayi dan anak-anak yang dibaptis. Dia mengonfirmasi keputusan-keputusan Konsili Ikonoklastis tahun 754.

Mikhael II digantikan oleh puteranya, Theophilus. Ketika Theophilus wafat, dia meninggalkan isterinya Theodora sebagai wali anaknya yang masih kecil, Michael III. Seperti Irene lima puluh tahun sebelumnya, Theodora memobilisasi kalangan ikonodule dan memproklamasikan pemulihan pemujaan ikon-ikon pada 843, dengan sebuah syarat Theophilus tidak dikutuk. Sejak waktu itu, hari Minggu pertama Lente Agung dirayakan dalam Gereja Ortodoks sebagai pesta “Kemenangan Ortodoksi”. 


Soal-soal teologis yang lebih dalam yang mendorong
ikonoklasme Byzantium  

Posisi ikonoklastis

Terdapat sejumlah alasan teologis yang lebih rumit, yang mendorong kemunculan baik kalangan ikonoklast maupun kalangan ikonodule.

Ikonoklasme mengutuk pembuatan ikon tak bernyawa apapun (misalnya lukisan atau patung atau monumen dan simbol-simbol lain) yang dimaksudkan untuk menampilkan dengan kongkret Yesus Kristus atau salah seorang santo. Dalam Ikhtisar Definisi Konsiliabulum Ikonoklastis yang diadakan tahun 754, dinyatakan: 
“Dengan didukung Kitab Suci dan para Bapak gereja, kami menyatakan dengan suara bulat, dalam nama Tritunggal Kudus, bahwa haruslah ditolak dan disingkirkan dan dikutuk setiap bentuk apapun yang dibuat oleh Gereja Kristen untuk menyerupai (figur-figur kudus), yang dibuat dari bahan material dan warna apapun oleh tangan para pelukis yang menghasilkan kesenian yang buruk dan jahat…. Jika seseorang berani menggambarkan citra ilahi (Yunani: kharaktēr, “kodrat”) dari sang Firman setelah Inkarnasi dengan warna-warni material, terkutuklah dia!…. Jika seseorang berani menggambarkan wujud-wujud para orang kudus dalam ikon-ikon yang tak bernyawa dengan warna-warni material yang tak ada nilainya (sebab gagasan ini sia-sia saja dan diintrodusir oleh si setan), dan tidak menggambarkan kebajikan-kebajikan mereka sebagai ikon-ikon yang hidup dalam dirinya sendiri, terkutuklah dia!”/13/

Bagi kalangan ikonoklast, satu-satunya citra keagamaan yang real haruslah suatu wujud yang serupa persis dengan prototipenya (maksudnya: harus memiliki substansi atau dzat yang sama), yang mereka pandang tidak mungkin, karena bagi mereka kayu dan lukisan adalah benda-benda kosong yang tak memiliki roh dan kehidupan. Jadi, bagi kalangan ikonoklast, satu-satunya “ikon” yang sejati dan diperbolehkan bagi Yesus Kristus adalah Ekaristi, yakni Tubuh (yang ditampilkan oleh roti/hosti ekaristi) dan Darah (yang dinampakkan dalam anggur ekaristi) Yesus Kristus, menurut doktrin Katolik.

Bagi mereka, gambar apapun yang benar untuk Yesus Kristus harus dapat menampilkan baik kodrat ilahinya (hal yang tak mungkin karena kodrat ini tak dapat dilihat atau tak dapat dirangkum) maupun kodrat insaninya (yang mungkin ditampakkan). Jadi, titik fokus perdebatannya ada pada doktrin Katolik tentang dua kodrat Yesus Kristus: sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, dua kodrat yang “tidak tercampur” (seperti air dan minyak) dan serentak “tak terpisah” (seperti air dan susu). Dengan membuat sebuah ikon Yesus Kristus, maka si pembuatnya memisahkan kodrat ilahinya dari kodrat insaninya, sebab hanya kodrat insaninya yang dapat ditampilkan dalam sebuah ikon—jika kedua kodrat ini dipisahkan, maka yang dihasilkan adalah bidah nestorianisme (duofisitisme). Atau, jika tidak demikian, kodrat ilahi dan kodrat insaninya dicampuraduk dengan memandang keduanya terlebur menjadi satu kesatuan—jika ini yang terjadi, hasilnya adalah bidah monofisitisme. Doktrin Katolik menolak kedua bidah ini.

Sebagaimana lazimnya terjadi dalam setiap debat doktrinal keagamaan, kalangan yang dinilai bidah langsung dipandang sebagai hasil pekerjaan Setan. Demikianlah, penggunaan ikon untuk tujuan-tujuan keagamaan dipandang kalangan ikonoklastis sebagai pekerjaan Setan yang sedang menyesatkan orang Kristen untuk kembali ke praktik-praktik paganisme, seperti juga dinyatakan dalam Ikhtisar Definisi Konsiliabulum Ikonoklastis yang sudah dirujuk di atas:

“Setan telah menyesatkan manusia, sehingga mereka menyembah makhluk ketimbang menyembah sang Khalik. Hukum Musa dan Para Nabi telah bekerja sama untuk menyingkirkan kejatuhan ini…. Tetapi ilah jahat Demiurgos yang telah disebut sebelumnya… secara bertahap membawa kembali penyembahan berhala dalam wujud Kekristenan.”/14/  

Posisi ikonodule

Para pembela dan pemuja ikon-ikon memberi respons yang tak kalah kuatnya, bahkan memakai poin-poin yang sama untuk membela posisi ikonodule, antara lain berikut ini.

Pernyataan Kitab Suci yang melarang pembuatan ikon-ikon Allah telah digantikan oleh Inkarnasi Yesus Kristus, “sang Firman yang telah menjadi daging”, yang, dalam kedudukannya sebagai pribadi kedua dalam Tritunggal Kudus, adalah Allah yang telah berinkarnasi, mengambil wujud materi yang kasat mata. Dengan demikian, mereka mengklaim tidak sedang menggambarkan Allah yang tak kelihatan, melainkan Allah sebagaimana Dia telah menampakkan diri dalam daging, yakni manusia Yesus Kristus. Doktrin tentang Inkarnasi yang di tangan ikonoklast dipakai untuk menolak pemujaan ikon Yesus Kristus, di tangan kalangan ikonodule juga dipakai untuk membela posisi mereka sendiri yang menerima pemujaan ikon.

Selain itu, kalangan ikonodule juga menunjuk pada bukti-bukti tekstual Perjanjian Lama: Allah telah memerintahkan Musa untuk membuat dua patung emas Kerubim pada tutup Tabut Perjanjian seperti ditulis dalam Keluaran 25:18-22, dan Allah juga meminta Musa untuk membuat sulaman Kerubim pada tirai yang memisahkan Ruang Maha Kudus dalam Tabernakel, seperti ditulis dalam Keluaran 26:31.

Selain itu, bagi kalangan ikonodule, berhala (idol) menggambarkan persona tanpa substansi/dzat atau tanpa realitas, sedangkan ikon menggambarkan persona yang real. Pada dasarnya, argumen mereka adalah “bahwa semua citra keagamaan yang bukan lahir dari iman kita adalah idol-idol, sementara semua gambar dari iman kita adalah ikon-ikon yang harus dimuliakan dan disembah.” Hal ini dipandang sebanding dengan praktik dalam dunia Perjanjian Lama ketika orang Israel mempersembahkan korban bakaran kepada Allah saja, dan bukan kepada ilah-ilah lain manapun.

Mengenai tradisi tertulis yang menolak pembuatan dan pemujaan gambar-gambar, mereka menegaskan bahwa ikon-ikon merupakan bagian dari tradisi lisan yang tak tercatat (Yunani: paradosis, yang dipandang absah dan berwibawa dalam Gereja Ortodoks bagi penyusunan doktrin, dengan mengacu ke figur Basil Agung, dan sebagainya), dan menunjuk ke tulisan-tulisan para Bapak gereja yang mendukung ikon-ikon, seperti Asterius dari Amasia, yang dikutip dua kali dalam risalah Konsili Nicaea Kedua.

Mereka juga menunjuk pada Akheiropoieta (harfiah: “bukan buatan tangan manusia”), yakni ikon-ikon yang dipercaya berasal dari Allah (atau langsung berhubungan dengan Allah), dan mukjizat-mukjizat yang dikaitkan dengan ikon-ikon. Baik ikon Yesus Kristus maupun ikon Bunda Maria sebagai Bunda Allah (Theotokos) diyakini sebagai ikon-ikon Akheiropoieta, karena dipercaya dalam tradisi-tradisi yang kuat bahwa keduanya (Yesus dan Maria) pernah duduk dalam berbagai kejadian berbeda untuk wajah dan tubuh mereka dilukis. Selain itu, ikon-ikon yang terkenal dalam sejarah Byzantium sebagai Akheiropoieta termasuk juga Mandylion (sehelai kain putih yang padanya konon tercetak wajah Yesus Kristus) dan Keramion (sebuah keramik yang padanya tercetak wajah Yesus Kristus yang ada pada Mandylion)./15/

Lebih jauh, kaum ikonodule berargumen bahwa keputusan apakah ikon-ikon harus dipuja sepatutnya dibuat oleh gereja yang terhimpun dalam suatu konsili, bukan dipaksakan pada gereja oleh seorang kaisar. Dengan demikian, argumen ini juga melibatkan soal hubungan yang patut antara gereja dan negara. Terkait dengan hal ini adalah observasi mereka bahwa adalah suatu kebodohan jika orang tidak memberi penghormatan yang sama kepada Allah seperti yang diberikan dengan bebas kepada kaisar yang insani. 

Kalangan pendukung pemujaan terhadap ikon-ikon mengingatkan bahwa kerap para kaisar mencampuri urusan-urusan gereja sejak zaman Konstantinus I, seperti ditulis seorang sejarawan, Cyril Mango, bahwa “hal yang diwariskan Nicaea, konsili universal pertama Gereja, adalah mengikat kaisar pada sesuatu yang bukan urusannya, yakni mendefinisikan dan memaksakan ortodoksi, bahkan jika perlu dengan menggunakan kekerasan.”/16/


Ikonoklasme pada masa Reformasi Prostestan abad ke-16

Sebagaimana umum sudah ketahui, gerakan Reformasi Protestan dipicu oleh seorang rahib Agustinian yang bernama Martin Luther (1483-1546), yang pada 31 Oktober 1517 memaku 95 tesisnya versus Gereja Roma Katolik (GRK) zamannya pada pintu gereja istana di Wittenberg. Tesis-tesisnya ini menyerang antara lain bisnis penjualan surat pengampunan dosa (indulgentia) yang pemasarannya dikampanyekan oleh seorang pengkhotbah Dominikan yang bernama Johann Tetzel (1465-1519). Bisnis ini bertujuan untuk menghimpun dana besar yang dibutuhkan bagi pembangunan kembali Gereja Santo Petrus di Roma, yang dimulai tahun 1506. Gerakan protes ini, yang cepat menjalar ke seluruh Jerman, tak lama kemudian menyerap ke dalamnya banyak tokoh pembaharu lainnya.

Gerakan protes yang cepat meluas dan membesar ini adalah suatu keniscayaan pada abad ke-16 Eropa, sebab, seperti dengan tajam ditulis oleh James Jackson, “Pada permulaan abad ke-16, Gereja Roma Katolik, yang dibangun dengan bermodel pada struktur birokratis Kekaisaran Romawi Kudus, telah menjadi luar biasa kuat, tetapi di dalamnya sangat korup.”/17/ Dampak Reformasi pada peta geopolitik Eropa abad ke-16 sangat besar, sebab gerakan ini telah “menciptakan suatu perpecahan Utara-Selatan di Eropa, di mana negara-negara Utara pada umumnya Protestan, sedang negara-negara Selatan tetap Katolik.”/18/

Beberapa Reformator Protestan, khususnya Andreas Karlstadt, Ulrich Zwingli dan Yohannes Calvin, mendorong penyingkiran ikon-ikon keagamaan dengan mengacu ke satu larangan dalam Dasa Titah yang melarang keras umat Israel membuat ikon-ikon atau patung-patung dalam rupa apapun untuk disembah. Selain itu, ada juga penyebab-penyebab lainnya yang membuat mereka melancarkan kampanye kuat ikonoklasme.

Pada masa itu, dalam GRK praktik pemujaan dan penyembahan ikon-ikon dan relik-relik berlangsung dengan membuta, dan hal ini sangat ditentang oleh mereka. Pemujaan terhadap ikon-ikon ini makin mereka musuhi karena fakta-fakta yang mereka lihat bahwa gambar-gambar, ikon-ikon dan patung-patung yang dibuat dengan sangat berwarna-warni bahkan disepuh dengan sangat mewah bukan dimaksudkan terutama untuk memuliakan Allah, tetapi untuk memamerkan kekayaan para penyumbang ikon-ikon itu dan posisi tinggi mereka dalam masyarakat.

Mereka juga menemukan bahwa pemujaan terhadap ikon-ikon keagamaan telah menyeret umat kebanyakan dalam kepercayaan bodoh terhadap banyak takhayul pada awal abad ke-16. Erasmus, antara lain, dalam karyanya The Praise of Folly, menulis bahwa umat telah menjadi “makhluk-makhluk aneh yang menyandarkan diri kepada takhayul-takhayul yang, meskipun sangat dungu, telah membuat mereka berbahagia. Mereka percaya bahwa jika mereka cukup beruntung bisa melihat suatu patung kayu atau suatu ikon lainnya dari Polyphemus mereka, Santo Kristofer, maka mereka akan aman dari segala bahaya yang mematikan pada masa kehidupan mereka.”

Di balik praktik pemujaan ikon-ikon kultis, dengan mudah dijumpai kepentingan-kepentingan material. Kegiatan perziarahan ke tempat-tempat suci yang memiliki ikon-ikon yang dipercaya mendatangkan mukjizat seringkali dikaitkan dengan indulgentia, dan hasilnya tempat-tempat itu terus-menerus ramai dikunjungi para peziarah.

Sebuah contoh yang terkenal adalah perziarahan ke lokasi yang dinamakan “Perawan Suci” di Regensburg, sosok ikon Bunda Maria yang dikuduskan yang dibuat oleh Michael Ostendorfer (1494-1559) dari kayu pahatan di tahun 1520. Beberapa bulan sebelum gereja ziarah dibangun di situ, sebuah sinagoge di tempat yang sama telah dihancurkan dan orang Yahudi di situ diusir. Ketika kegiatan penghancuran sedang dijalankan, seorang pekerja konon terluput dari suatu bahaya besar, dan hal ini dianggap sebagai mukjizat yang dikerjakan oleh ikon “Perawan Suci” yang ada di situ. Dipercaya bahwa mukjizat itu menjadi suatu tanda bahwa Bunda Allah menyetujui tindakan melawan orang Yahudi di situ. Tak lama sesudahnya, Paus memberikan surat pengampunan dosa kepada setiap peziarah yang datang ke Regensburg, dan alhasil para peziarah datang berduyun-duyun. Kalau sebelumnya pertumbuhan ekonomi di kota itu stagnan, maka dengan adanya indulgentia kota itu segera mengalami peningkatan kemakmuran ekonomi. Namun para Reformator Protestan menolak pemujaan dan komersialisasi “Perawan Suci” di situ./19/

Dalam gerakan ikonoklastis ini, sejumlah kerusuhan pecah bukan hanya di Jerman, tetapi makin meluas: di Zurich (tahun 1523), Kopenhagen (1530), Muenster (1534), Jenewa (1535), Augsburg (1537), Soktlandia (1559), Saintes dan La Rochelle (1562)./20/ Tujuh belas provinsi (kini Nederland, Belgia, dan bagian-bagian Prancis Utara) terguncang oleh ikonoklasme Protestan yang meluas di tahun 1566. Kejadian ini dinamakan “Beeldenstorm” (= “badai yang ditimbulkan ikon-ikon”), yang dimulai dengan penghancuran patung-patung dan ikon-ikon di Biara Saint Lawrence di Steenvoorde setelah sebuah khotbah padang (“Hagenpreek”) dikumandangkan oleh Sebastian Matte. Ratusan serangan lain mencakup perusakan dan penjarahan Biara Saint Anthony setelah Jacob de Buysere berkhotbah. Beeldenstorm menandai dimulainya revolusi melawan kekuatan-kekuatan Spanyol dan GRK.

Selama Perang Saudara pecah di Inggris, Uskup Joseph Hall dari Norwich menggambarkan peristiwa-peristiwa di tahun 1643, ketika pasukan dan warga, karena didorong oleh sebuah ketetapan parlemen ihwal melawan takhayul dan penyembahan berhala, bertindak, sebagai berikut:

“Oh Tuhan, apa yang sedang terjadi di sini! Kaca-kaca berhamburan! Tembok-tembok runtuh! Tugu-tugu ambruk! Bangku-bangku roboh! Besi dan tembaga berhamburan dari pintu-pintu! Tangan-tangan menjadi kotor! Patung-patung batu hancur! Pipa-pipa alat musik dirusak! Di pasar-pasar di hadapan seluruh negeri pesta kemenangan yang menyeramkan dirayakan: semua pipa organ yang terkoyak-koyak, jubah-jubah gereja, bersama salib-salib timah yang baru digergaji dari mimbar lapangan Hijau, dan buku-buku nyanyian serta buku-buku ibadah yang dapat dibawa ke perapian, semuanya ditumpuk jadi satu.”/21/     

William Dowsing ditugaskan dan digaji oleh pemerintah untuk mengunjungi kota-kota dan desa-desa Anglia Timur untuk menghancurkan ikon-ikon dalam gereja-gereja. Dalam catatannya tentang kegiatan penghancuran yang dilakukannya sampai ke Sufflok dan Cambridgeshire, dia menulis:

“Kami menghancurkan seratus gambar takhayul; dan gambar tujuh Fryar merangkul seorang biarawati; Gambar Allah dan Kristus; dan membenamkan lukisan-lukisan lain yang sangat sarat takhayul; dan 200 lagi sudah dihancurkan sebelum aku datang. Kami membawa 2 Inskripsi Paus Ora pro nobis, dan menurunkan sebuah salib besar yang terbuat dari batu pada puncak bangunan gereja.”/22/

Meskipun para Reformator Protestan bersepakat mengkritik ikon-ikon para santo, namun mereka berbeda pendapat mengenai ihwal bagaimana menangani banyak karya seni yang mengisi bangunan-bangunan gereja. Martin Luther, yang semula memusuhi ikon-ikon, belakangan berubah pandangan ketika dia menyatakan bahwa orang Kristen hendaklah bebas menggunakan ikon-ikon keagamaan sejauh mereka tidak menyembah ikon-ikon itu ganti Allah. Seorang pakar Lutheranisme, Jeremiah F. Ohl, menulis:

Zwingli dan orang-orang lainnya demi untuk menyelamatkan sang Firman menolak semua karya seni plastis. Luther, yang juga sama-sama menaruh kepedulian pada sang Firman, tetapi jauh lebih konservatif, menghendaki semua karya seni menjadi hamba-hamba Injil.
Kata Luther, “Aku tidak berpendapat bahwa melalui Injil semua karya seni harus dibuang dan disingkirkan, sebagaimana sejumlah fanatik ingin kita mempercayai hal ini. Tetapi aku ingin melihat semua karya seni itu, khususnya musik, melayani Dia yang telah memberikan dan menciptakan semuanya itu.”
Lanjut Luther, “Aku sendiri telah mendengar orang-orang yang menolak gambar-gambar, yang membaca Alkitab terjemahan Jerman yang aku buat…. Tetapi Alkitab ini memuat banyak gambar Allah, gambar para malaikat, manusia, dan binatang-binatang, khususnya dalam kitab Wahyu Yohanes, dalam kitab-kitab Musa, dan dalam kitab Yosua. Karena itu kami dengan rendah hati meminta para fanatik ini untuk mengizinkan kami juga untuk melukis gambar-gambar ini pada dinding supaya gambar-gambar ini dapat diingat dan dipahami dengan lebih baik, karena gambar-gambar itu dapat berbahaya hanya sedikit ketika tertera pada dinding sama seperti ketika tertera dalam kitab-kitab.”
Sambung Luther, “Jika Allah mengizinkan, aku mau meyakinkan mereka yang mampu untuk melukis semua isi Alkitab dalam rumah-rumah mereka, di dalam dan di luar, sehingga semua orang dapat melihat; tentu saja ini semua haruslah suatu karya seni Kristen. Sebab aku yakin bahwa adalah kehendak Allah bahwa kita dapat mendengar dan belajar tentang apa yang Dia telah lakukan, khususnya tentang apa yang telah diderita Kristus.”
Luther selanjutnya mengakui, “Tetapi ketika aku mendengar semua ini dan merenunginya, aku dapati tidaklah mungkin untuk tidak menggambarkan mereka semua dalam hatiku. Entah aku ingin atau tidak, pada waktu aku mendengar tentang Kristus, yang dalam rupa manusia tergantung di kayu salib, dia muncul dalam hatiku: sama seperti aku melihat wajah alamiahku tercermin ketika aku memandang ke permukaan air. Adapun bagiku, jika tidaklah berdosa memiliki gambar Kristus dalam hatiku, maka mengapa harus merasa berdosa jika aku memilikinya di hadapan mataku.”/23/

Di antara para Reformator, Yohannes Calvin mengambil sikap yang paling radikal terhadap karya-karya seni, dan dia menuntut semua orang Kristen harus tidak membuat gambar Allah dalam bentuk dan wujud apapun. Kalangan ikonoklast yang dengan keras menghancurkan karya-karya seni di seluruh Belanda utara dalam tahun 1566 dan membersihkan gereja-gereja dari atas ke bawah membenarkan tindakan mereka dengan mengacu ke doktrin yang dibangun Yohannes Calvin. Tindakan melenyapkan semua karya seni ini menjelaskan mengapa ada hanya sangat sedikit lukisan sejak sebelum 1566 yang bertahan di Belanda.

Yang juga agak radikal adalah Andreas Bodenstein von Karlstadt (c. 1480-1541). Setelah para penguasa kotapraja Wittenberg  mengeluarkan sebuah “Tata-tertib kota Wittenberg”, 24 Januari 1522, yang mengharuskan semua ikon dan gambar dikeluarkan dari gereja-gereja, hanya tiga hari kemudian Karlstadt mengeluarkan sebuah traktat mengenai “penyingkiran gambar-gambar”. Di dalam traktat ini, dia mengeluh bahwa, setelah tiga hari penuh dekrit itu dikeluarkan, karya-karya seni masih belum disingkirkan. Keadaan ini menimbulkan Kerusuhan Ikonoklastis pada awal Februari dalam gereja Wittenberg di mana “berhala-berhala dalam bentuk lukisan” diturunkan dan dirobek-robek oleh Karlstadt dan para pendukungnya.

Kerusuhan di Wittenberg disusul oleh banyak serangan yang serupa terhadap karya-karya seni di tempat-tempat lain, seperti sudah ditulis di atas, terutama di Zurich dalam bulan September 1523. Di sana Reformator Leo Jud (1482-1542) berpidato tentang penyingkiran berhala-berhala, yang sesudahnya lukisan-lukisan altar, salib-salib dan patung-patung para santo, dihancurkan, dan air suci dicemooh.

Meskipun Zwingli sepakat ikon-ikon harus disingkirkan, namun dia bereaksi keras terhadap penggunaan kekerasan dalam bentuk apapun. Dia mengusulkan patung-patung dalam gereja-gereja cukup diselubungi dengan kain, dan altar-altar yang bersayap ditutup, seperti biasa dilakukan selama Lente. Dengan demikian, bagian-bagian dalam altar yang lebih detail, yang menimbulkan perlawanan, tetap tak terlihat. Zwingli juga menegaskan bahwa gambar-gambar harus tidak dicemooh. Atas dasar ini, Zwingli meminta semua ikonoklast dijatuhi hukuman. Dalam bulan Oktober 1523 di Zurich, Misa Kurban ditiadakan, dan penyingkiran semua ikon disetujui. Selanjutnya, semua karya seni dan relik di Zurich disingkirkan dari gereja-gereja dengan cara-cara yang tertib. Belakangan, Zwingli mentolerir gambar-gambar artistik, sejauh tidak disembah atau dipuja, tetapi dibaca sebagai narasi-narasi./24/     

Penutup

Tulisan di atas tentu masih belum lengkap, karena masih harus ditambah dengan ihwal posisi GRK pasca-Konsili Vatikan II (1963-1965), dan posisi gereja-gereja Protestan pada masa kini. Sedikit catatan tentang ini perlu diajukan.

Setelah Vatikan II, GRK tampak bergerak menuju posisi ikonoklastis di bawah payung program pembaruan atau dekonstruksi liturgi (tata ibadah) dan penurunan nilai arsitektur bangunan gereja./25/ Sementara itu, pada sisi sebaliknya, di dalam kehidupan gereja-gereja Prostestan evangelikal tradisional, yang mewarisi ikonoklasme abad ke-16 yang dilaksanakan para Reformator Protestan di Eropa, kini terlihat kebangkitan kembali secara perlahan kebutuhan pemakaian ikon-ikon Kristen, khususnya ikon-ikon yang dipadukan dalam dekorasi gedung gereja bagian luar maupun bagian dalam, serta dalam kegiatan-kegiatan ibadah yang kini sudah ditunjang oleh berbagai peralatan teknologi informasi-komunikasi dan sinematografi modern, tanpa mempertimbangkan dengan serius implikasi-implikasi doktrinalnya./26/

Pada zaman modern ini, ketika kebudayaan saintifik sudah mendunia, tak terlalu jauh dari fakta jika dinyatakan bahwa orang-orang beragama, meskipun mereka memakai banyak gambar, ikon, patung, simbol-simbol dan monumen-monumen lain dalam kehidupan keagamaan mereka, mereka tentu sadar sepenuhnya untuk tidak memperilah semua ikon ini, dan memanfaatkan semuanya hanya sebagai media artistik untuk bisa masuk ke dalam pengalaman-pengalaman spiritual, yang mereka yakini sebagai pengalaman perjumpaan dengan “yang ilahi”. Media, dalam pandangan dan keyakinan mereka, tentu tidak sama dengan tujuan, melainkan hanya sebagai sarana untuk tiba pada tujuan pamungkas mereka, yakni berjumpa dengan Allah sendiri yang melampaui semua wujud representasional.

Kalaupun dalam kebudayaan saintifik global sekarang ini, yang sangat bertolakbelakang dengan kebudayaan mitologis zaman-zaman kuno, masih ada sosok-sosok manusia dijadikan Allah oleh sesama manusia, deifikasi (atau apotheosis) ini berlangsung hanya di dalam kelompok-kelompok kecil para fanatik religius yang dinamakan cult, kultus pemujaan, yang anggota-anggotanya telah mematikan nalar mereka dan memilih hidup dalam kedunguan.

Jika hal yang ditulis pada alinea persis di atas diterima semua orang beragama, diharapkan tidak akan ada lagi pertentangan dan perselisihan intra-agama maupun antar-agama yang ditimbulkan oleh pemakaian ikon-ikon keagamaan. Pada zaman sekarang, ikonoklasme, jika masih terjadi, mengungkapkan ketidakdewasaan mentalitas orang beragama dan kesalahan memindahkan begitu saja persoalan-persoalan keagamaan yang tertulis dalam kitab-kitab suci kuno dan yang terjadi dalam sejarah masing-masing agama ke masa kini di tempat yang berkebudayaan lain. Dengan demikian, menghindari anakronisme dan etnosentrisme dalam beragama mutlak harus dilakukan jika kita tidak ingin lagi melihat ikonoklasme yang bengis terjadi lagi dalam zaman kita sekarang ini.      

 oleh Ioanes Rakhmat


Catatan-catatan 

/1/ Timothy E. Gregory, A History of Byzantium (edisi kedua; Sussex: Wiley-Blackwell, 2010) 208; lihat juga Robin Cormack, Writing in Gold: Byzantine Society and Its Icons (London: George Philip, 1985). Untuk info sejarah dalam garis besar mengenai relasi kekaisaran Byzantium dengan bangsa-bangsa di sekitarnya pada periode pra-Islam, lihat Bernard Lewis, The Middle East: A Brief History of the Last 2,000 Years (New York: Scribner, 1995) h. 33-47.

/2/ Cyril Mango, “Historical Introduction” dalam Bryer and Herrin (editors), Iconoclasm (Birmingham: Center for Byzantine Studies, University of Birmingham, 1977) h. 2-3.

/3/ Lihat Sarah Brooks, “Icons and Iconoclasm in Byzantium” pada http://www.metmuseum.org/toah/hd/icon/hd_icon.htm.

/4/ Tentang ikonoklasme yang dilancarkan Leo III, lihat khususnya Timothy E. Gregory, A History of Byzantium, bab 8; perhatikan juga hh. 163, 171, 175 ff. 

/5/ Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society (Standford, CA: Standford University Press, 1997) h. 354, 361, 387, 392 ff.; juga Gregory, A History of Byzantium, h. 175 ff.

/6/ Seperti ditulis Patricia Karlin-Hayter, “Iconoclasm”, dalam The Oxford History of Byzantium (diedit oleh Cyril Mango; New York: Oxford University Press, 2002) h. 153-162.

/7/ Bdk. F. Gioia (ed.), The Popes: Twenty Centuries of History (Libreria Editrice Vaticana, 2005) h. 41.

/8/ Robin Cormack, Writing in Gold; juga Gregory, A History of Byzantium, bab 8.

/9/ Norman P. Tanner, Giuseppe Alberigo, et al., Decrees of the Ecumenical Councils Volume One: Nicaea I to Lateran V (London and Washington, D.C.: Sheed and Ward and Georgetown University Press, 1990) h. 132-136.

/10/ Lihat “Volcanism on Santorini/eruptive history” dalam http://www.decadevolcano.net/santorini/santorini_volcanism.htm. Sebagaimana dilaporkan oleh Patriarkh Nikephoros dan sejarawan Theophanes (Chronographia).

/11/ Cyril Mango, “Historical Introduction”.

/12/ Dikutip oleh Pratsch, Theodoros, h. 208, dari Scriptor incertus 349,1-8.

/13/ Epitome of the Iconoclast Council at Hieria, 754 AD; lihat pada http://www.fordham.edu/halsall/source/icono-cncl754.html; http://www.fordham.edu/halsall/sbook.html; juga tersedia online pada Christian Classics Ethereal Library di http://www.ccel.org/ccel/schaff/npnf214.xvi.x.html.

/14/ Epitome of the Iconoclast Council at Hieria, 754 AD. 

/15/ Lihat Sarah Brooks, “Icons and Iconoclasm in Byzantium” pada http://www.metmuseum.org/toah/hd/icon/hd_icon.htm.

/16/ Dalam The Oxford History of Byzantium (editor: Cyril Mango, 2002).

/17/ James Jackson, “The Reformation and Counter-Reformation” di http://www.staff.jccc.net/jjackson/reformation.htm.

/18/ James Jackson, “The Reformation and Counter-Reformation”; dan “The Reformation and Art” pada http://www.en.wikipedia.org/wiki/The_Reformation_and_art.

/19/ Lihat “Reformation and Iconoclasm” pada http://www.wga.hu/tours/german/iconocla.html.

/20/ Neil Kamil, Fortress of the Soul: Violence, Metaphysics, and Material Life in the Huguenots’ New World, 1517-1751 (Baltimore, Maryland: The John Hopkins University Press, 2005) h. 148.

/21/ Lihat “Reformation Iconoclasm” (h. 7) pada http://www.en.wikipedia.org/wiki/Iconoclasm.

/22/ C. H. Evelyn White (1885), “The Journal of William Dowsing of Stratford….” pada http://www.archive.org/details/journalofdowsing00whituoft, h. 15.

/23/ Jeremiah F. Ohl (1906), “Art in Worship”, Memoirs of the Lutheran Liturgical Association, pada http://www.blc.edu/comm/gargy/gargy1/memoirs.Volume2.html, h. 88-89.

/24/ Lihat “Reformation and Iconoclasm” pada http://www.wga.hu/tours/german/iconocla.html.

/25/ Michael Morris, “It Doesn’t Have to Be Ugly” (July/August 2005), h. 2, pada http://www.newoxfordreview.org/reviews.jsp?did=0705-morris.

/26/ Bdk. Philip Morgan, “Iconoclasm, Yesterday and Today” (Oct 2010) pada http://www.helwyssocietyforum.com/?p=218.