Friday, November 4, 2011

Isa menghidupkan burung-burungan dari tanah liat
(Surat Ali Imran 3:49a dan Surat Al-Ma'idah 5:110) Dari mana sumbernya?

Dalam sebuah tulisan lain (klik di sini), saya sudah memperlihatkan bahwa surat quranik an-Nisa 4:157 (tentang penyaliban Yesus) sejajar dengan dua dokumen Kristen (gnostik), yakni Apokalipsis Petrus (NHC 7,3; dari abad ketiga) danTraktat Kedua Seth Agung (NHC 7,2; dari abad kedua). Sebagai kesimpulan, saya menyatakan bahwa sangat mungkin lewat tradisi lisan penulis surat an-Nisa memakai dua dokumen Kristen gnostik pra-Alquran ini sebagai sumber-sumbernya. Sekali lagi, saya tegaskan, lewat tradisi-tradisi lisan! Tradisi-tradisi lisan bisa menghasilkan dokumen-dokumen tertulis, dan sebaliknya juga bisa terjadi: isi dokumen-dokumen tertulis dihafalkan (dalam garis besar), lalu disebarkan secara lisan, dari mulut ke mulut.

Pada kesempatan ini, saya fokus pada dua teks Alquran lainnya yang memuat topik tentang Isa/Yesus membuat burung-burungan dari tanah lalu menghidupkannya. Kutipan-kutipan teks Alquran berikut ini diambil dari Alquran terjemahan Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Qur'an, yang diterbitkan Al-Mizan Publishing House, cetakan ke-3, 2010.

Hayo terbang, terbang, dan jangan kembali, tapi ingatlah daku selalu...!

Surat Ali Imran 3:49a, memuat sebuah ucapan Isa/Yesus yang disampaikan kepada bangsa Israel, yang berbunyi demikian,

“Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah.”

Teks surat Ali Imran 3:49a ini sejajar dengan teks quranik Al-Ma’idah 5:110, yang memuat firman Allah kepada Isa, bunyinya:

“Wahai Isa putra Maryam! Ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu sewaktu Aku menguatkanmu dengan Rohul Kudus. Engkau dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan setelah dewasa…. Dan ingatlah ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung dengan seizin-Ku, kemudian engkau meniupnya, lalu menjadi seekor burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku….”

Dua teks Alquran tentang Isa membuat mukjizat ini juga memiliki kesejajaran dengan teks dari Injil Masa Kanak-kanak Yesus menurut Tomas (The Infancy Gospel of Thomas) pasal 2:1-7. Selengkapnya bagian teks Kristen apokrif ini disajikan di bawah ini, bersumber dari buku The Complete Gospels. Annotated Scholars Version. Revised and Expanded Edition, yang disunting oleh Robert J. Miller (Sonoma, California: Polebridge Press, 1992, 1994) hlm. 369 ff.

Ketika kanak-kanak Yesus berusia lima tahun, dia bermain-main di arungan arus air yang mengalir. Dia membendung aliran air ini lalu mengarahkannya ke kolam-kolam dan segera membuat airnya bersih dan bening. Dia melakukan hal ini hanya dengan satu kali perintah. Kemudian dia mengambil tanah liat dan membuatnya lunak, lalu dari tanah liat ini dia membentuk dua belas ekor burung pipit. Dia melakukan hal ini pada hari Sabat, dan banyak anak lelaki lain bermain bersamanya.

Tetapi ketika seorang Yahudi melihat apa yang dibuat Yesus pada waktu dia sedang bermain-main di hari Sabat, segera orang ini pergi menjumpai Yusuf, ayah Yesus, lalu berkata, “Mari lihat, anakmu sedang berada di arungan air dan telah mengambil lumpur lalu membuat dua belas burung-burungan darinya, dengan demikian dia telah melanggar hari Sabat.”

Maka Yusuf mendatangi anaknya, dan segera setelah dia menjumpainya, berteriaklah dia, “Mengapa engkau melakukan hal yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Tetapi Yesus hanya menepuk-nepuk kedua belah tangannya dan berseru kepada burung-burungan itu, “Terbanglah jauh-jauh, hiduplah, dan ingatlah aku!” Seketika itu juga semua burung pipit itu melambung dan terbang jauh dengan sangat ribut.

Orang-orang Yahudi memperhatikan semua hal ini dengan keheranan, lalu meninggalkan tempat itu untuk melaporkan kejadian ini kepada para sesepuh mereka tentang apa yang mereka lihat telah dilakukan Yesus.

Tentu saja kanak-kanak Yesus faktualnya tidak bisa menghidupkan burung-burungan yang dibuatnya dari tanah liat. Kisah di atas adalah bagian dari banyak mitos tentang tindak-tanduk dan perbuatan luar biasa kanak-kanak Yesus yang memenuhi seluruh dokumen Injil Masa Kanak-kanak Yesus menurut Tomas. (Catatan: Injil ini tidak sama dengan Injil Tomas yang memuat 114 ucapan Yesus yang umumnya berdiri sendiri-sendiri.)

Injil ini mengisahkan tahap-tahap perkembangan yang dialami kanak-kanak Yesus, dan tindakan-tindakannya yang dikisahkan di dalamnya dinyatakan terjadi berturut-turut pada waktu dia berusia lima tahun (2:1), enam tahun (11:1), delapan tahun (12:4) dan terakhir dua belas tahun (19:1).

Episode-episode kehidupan kanak-kanak Yesus yang dituturkan ini, sampai dia berusia dua belas tahun, tampaknya dimaksudkan oleh penyusun injil ini untuk mengisi kekosongan informasi tentang masa kanak-kanak Yesus, mulai dari kelahirannya sampai dia berusia dua belas tahun. Kita tahu, penulis Injil Lukas mengisahkan hanya satu peristiwa yang terjadi pada kanak-kanak Yesus ketika dia sudah berusia dua belas tahun, yakni dia terlibat dalam suatu diskusi agama dengan para alim ulama di Bait Allah Yerusalem (Lukas 2:41-52).

Kalau Yesus mulai tampil di muka umum sebagai seorang guru Yahudi katakanlah pada waktu dia sudah berusia dewasa 30 tahun, maka tentu akan juga timbul spekulasi-spekulasi tentang apa yang telah terjadi pada Yesus mulai dari usia dua belas tahun sampai usia tiga puluh tahun. Salah satu spekulasinya adalah bahwa dalam kurun waktu ini (usia 12-30 tahun) Yesus pergi meninggalkan Israel, berguru pada para ahli agama di kawasan timur, di Asia, mungkin di Tibet, di India, di Kashmir, atau tempat-tempat lain. Sama seperti kisah-kisah hebat tentang kanak-kanak Yesus sampai dia berusia dua belas tahun dalam Injil Masa Kanak-kanak Yesus menurut Tomas, kisah-kisah tentang segala hal apapun yang terjadi pada Yesus dalam usia 12 sampai 30 tahun juga spekulatif!

Penulisan Injil Masa Kanak-kanak Yesus menurut Tomas tak dapat dilepaskan dari keperluan yang dirasakan oleh umat Kristen perdana untuk menyusun kristologi yang bukan hanya menggambarkan peran yang akan dimainkan Yesus Kristus di akhir zaman, di ujung waktu, sebagai sang Hakim adikodrati yang akan datang kembali di akhir zaman untuk mengadili dunia (ini dinamakan eskatologi), tetapi juga menggambarkan asal-usul Yesus Kristus.

Minat kepada asal-usul Yesus ini (dinamakan protologi) membuat kisah-kisah kelahiran Yesus belakangan disusun, dan kisah-kisah tentang kelahiran Yesus ini dapat kita baca dalam Injil Matius (1:18-2:12) dan Injil Lukas (1:26-2:40), yang keduanya ditulis sekitar tahun 85, tetapi tak terdapat dalam Injil Markus yang ditulis lebih dulu (tahun 70). Protologi Kristen di dalam Injil Yohanes (ditulis tahun 90) bahkan menelusuri asal-usul Yesus Kristus sampai ke “pada mulanya”, ke kawasan transenden adikodrati, sehingga Yesus dipandang memiliki kepraadaan, atau pra-eksistensi, di kawasan adikodrati, sebagai “sang Firman” atau “sang Kalam” (ho logos) yang “ada bersama-sama dengan Allah dan yang adalah Allah” (Yohanes 1:1).

Sama seperti kisah-kisah kelahiran Yesus (dalam Injil Matius dan Injil Lukas) dan protologi Injil Yohanes disusun dengan memakai bahasa iman atau bahasa syahadat (confessional language), demikian jugalah halnya dengan Injil Masa Kanak-kanak Yesus menurut Tomas. Kisah-kisah luar biasa tentang Yesus dalam injil ini adalah kisah-kisah yang lahir dari kepercayaan, dari pengakuan iman, dari syahadat, bukan dari fakta-fakta sejarah. Semua eskatologi dan protologi, bahkan semua teologi, adalah bahasa kesalehan, bahasa pengakuan iman, bahasa syahadat, confessional language, bukan bahasa fakta atau factual language atau ontological language.

Kapan Injil Masa Kanak-kanak Yesus menurut Tomas ditulis?

Injil ini tersedia dalam versi-versi bahasa Syria, Yunani, Latin, dan Slavonia, dan manuskrip tertuanya ditulis dalam bahasa Syria pada abad ke-6 Masehi. Namun kita dapat memastikan bahwa injil ini sudah ditulis pada abad kedua, sebab rujukan terawal kepada injil ini terdapat dalam sebuah risalah yang ditulis bapak gereja Irenaeus, uskup dari Lyons, pada penghujung abad ke-2 (sekitar tahun 185 M), dengan judul Melawan Para Bidah (Against Heresies).

Dalam risalah ini, Irenaeus menyebut adanya “tulisan-tulisan apokrif dan palsu” yang mencakup sebuah “kisah yang menuturkan tentang Tuhan ketika dia pada masa kanak-kanak sedang belajar alfabet. Ketika sang guru sebagaimana lazimnya berkata kepadanya, ‘Katakanlah Alfa’, dia menjawab, ‘Alfa’. Ketika selanjutnya sang guru berkata Beta, Tuhan menjawab, ‘Katakanlah pertama-tama kepadaku apa itu Alfa, maka aku akan mengatakan apa itu Beta.’” Teks Irenaeus ini jelas sekali mengacu ke suatu episode kehidupan kanak-kanak Yesus yang dikisahkan dalam Injil Masa Kanak-kanak Yesus menurut Tomas pasal 6-8 dan pasal 14-15.

Mengingat bahwa Injil Masa Kanak-kanak Yesus menurut Tomas sudah ditulis pada abad ke-2, jelaslah teks-teks paralel dalam Alquran tentang Isa yang menghidupkan burung-burungan dari tanah bersumber paling awal pada injil ini. Dengan memakai tradisi-tradisi lisan tentang masa kanak-kanak Yesus, yang bersumber pada Injil Masa Kanak-kanak Yesus menurut Tomas, para penulis surat Ali Imran dan surat Al-Ma’idah menulis teks-teks tentang Isa yang sudah dikutipkan di atas. Sekali lagi, yang berperan terutama adalah tradisi-tradisi lisan, bukan dokumen-dokumen tertulis, tradisi-tradisi lisan yang pada awalnya bersumber dari dokumen-dokumen tertulis, lalu menyebar dari mulut ke mulut, ke mana-mana berabad-abad ke depan.

oleh Ioanes Rakhmat