Saturday, November 5, 2011

Bukan Yesus yang disalibkan?
Suatu analisis sumber atas Surat an-Nisa 4:157

Surat an-Nisa 4:157 dalam Alquran menyatakan bahwa pada waktu Yesus dari Nazaret disalibkan, pada abad pertama Masehi di Palestina, bukan Yesus dari Nazaret yang disalibkan, tetapi seorang lain telah “diserupakan” untuk menggantikan atau menyubstitusi Yesus. Pandangan ini disebut “teori substitusi”.

Dalam konteks keseluruhan naratifnya, teks Surat an-Nisa 4:157 ini muncul sebagai sebuah polemik dengan orang Yahudi yang mengklaim telah membunuh Yesus. Dalam Alquran terjemahan Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Qur'an, yang diterbitkan Al-Mizan Publishing House (cetakan ke-3, 2010), lengkapnya teksnya berbunyi demikian,
“Dan (Kami hukum juga) karena ucapan mereka, 'Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,' padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa (Arab: wa lākin syubbiha lahum). Sesungguhnya mereka berselisih pendapat tentang (pembunuhan) Isa, selalu dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka benar-benar tidak tahu (siapa sebenarnya yang dibunuh itu), melainkan mengikuti persangkaan belaka, jadi mereka tidak yakin telah membunuhnya.”
Seorang lain yang “diserupakan dengan Isa”, yang telah disalibkan menggantikannya, dalam pandangan para penafsir Muslim, bisa seorang murid Yesus, atau Sergius yang sudah dikenal, atau seorang lain, yakni Yudas, yang parasnya telah diubah sehingga serupa dengan paras Yesus.



Selain karena alasan skriptural quranik ini, umat Islam tidak bisa menerima penyaliban Yesus juga karena mereka memandang seorang nabi atau hamba Allah yang benar tidak mungkin mati dibunuh dengan kejam. Tetapi alasan moral ini, to the point saja, tidak bisa diterima, karena faktanya banyak nabi atau hamba Allah dalam berbagai agama, termasuk dalam sejarah Islam, juga mati karena dibunuh. Yohanes Pembaptis, misalnya, seorang nabi Yahudi yang suci dan benar dan mungkin juga menjadi seorang mentor Yesus, mati dengan kepalanya, menurut tuturan Markus, dipenggal oleh Raja Herodes Antipas (Markus 6:14-29). Di samping itu, dari sudut tertentu penolakan kaum Muslim terhadap kematian Yesus melalui penyaliban dapat dilihat sejajar dengan suatu pandangan Kristen gnostik yang memandang Yesus bukanlah seorang manusia sungguh-sungguh, tetapi Allah yang tidak memiliki raga sehingga tidak bisa dibunuh melalui penyaliban.

Tulisan ini mau memperlihatkan bahwa tidaklah ada dasar sejarahnya kalau orang memandang Yesus tidak mati disalibkan, karena beberapa alasan. Pertama, ada sejumlah dokumen kuno yang independen, yang satu tidak bergantung pada yang lainnya, namun satu suara menyatakan bahwa Yesus mati disalibkan. Lalu, akan juga diperlihatkan, bahwa mendahului Alquran (yang ditulis pada abad ketujuh) sudah ada beberapa teks keagamaan Kristen gnostik dari abad kedua dan abad ketiga yang memuat pandangan yang “sejalan” dengan pandangan Alquran. Semua teks Kristen gnostik ini tidak melaporkan sejarah, tetapi mengetengahkan suatu sudut pandang teologis Kristen gnostik yang memandang raga atau daging (Yunani: sarks) manusia tak ada nilainya dibandingkan jiwa atau rohnya, pandangan “sarkofobik”.

Kalaupun ada yang dapat diragukan kesejarahannya di sekitar kematian Yesus, yang patut diragukan ini bukanlah penyaliban Yesus, tetapi jalan sengsara (via dolorosa) Yesus, mulai dari gedung pengadilan sampai di bukit Golgota. Apakah mungkin Yesus, sambil tertatih-tatih sangat kepayahan memikul salibnya sendirian (atau dibantu oleh seorang lain), bisa digiring dan disiksa di sepanjang perjalanannya, sementara ada sangat banyak orang Yahudi dari seluruh wilayah Palestina maupun dari banyak negeri lain di luar Tanah Israel berkumpul di Yerusalem pada masa perayaan Paskah tahunan?

Kalau kita bisa mempercayai sejarawan Yahudi, Flavius Yosefus, bisa ada sampai 3 juta orang terhimpun di Yerusalem pada perayaan Paskah (Jewish War, 6.420-427; 2.280). Menurut sejumlah pakar, angka yang diajukan Yosefus ini fantastis; sebagai gantinya, mereka mengajukan angka yang lebih bisa dipercaya, yakni sekitar 300 ribu sampai 400 ribu orang. Dengan ratusan ribu orang Yahudi terhimpun di Yerusalem, dan dari antara mereka adalah orang-orang yang menjadi pengikut fanatik Yesus, baik yang berasal dari Galilea maupun dari Yudea, apakah tindakan pasukan Romawi menggiring dan menyiksa Yesus, yang sebelumnya sudah diklaim orang banyak sebagai sang Mesias Yahudi yang akan menegakkan kembali Kerajaan Daud, tidak malah menyulut kerusuhan dan gerakan perlawanan bangsa Yahudi terhadap cengkeraman kolonial Roma?

Harus kita ingat, perayaan Paskah Yahudi diadakan untuk memperingati kemerdekaan nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir dulu. Perayaan ini jelas selalu membangkitkan nasionalisme dan patriotisme mereka, suatu perayaan yang berbahaya bagi keamanan, ketertiban dan stabilitas masyarakat kota Yerusalem yang harus dijaga dan dipertahankan Roma. Flavius Yosefus melaporkan sedikitnya sudah pernah terjadi dua kerusuhan massal yang besar pada masa perayaan Paskah Yahudi, yakni pada tahun 4 SM (Jewish War 2.10-13; Jewish Antiquities 17.204) dan pada masa Ventidius Cumanus memerintah wilayah Palestina (48-52 M) (Jewish War 2.224; Jewish Antiquities 20.106-112).

Apakah Yesus digiring dan disiksa dengan pengawalan ekstra ketat oleh tentara Roma dalam jumlah yang sangat besar, demi mengimbangi kekuatan massa Yahudi yang sedang berhimpun di Yerusalem, yang sewaktu-waktu bisa merusak keamanan dan ketertiban kota Yerusalem? Ataukah Yesus dilarikan dengan cepat oleh suatu pasukan berkuda Romawi ke bukit Kalvari? Ataukah kita harus beranggapan bahwa, karena kelihaian Gubernur Pilatus dalam mengendalikan massa, orang banyak yang sebelumnya mengenal dan mendukung Yesus tiba-tiba saja berbalik pro-Roma dan melawan Yesus ketika dia sedang diadili lalu dijatuhi hukuman mati, kemudian diseret, disiksa, dan didorong-dorong paksa sementara dia terus memikul kayu salibnya? 

Sekarang saya biarkan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu ini tetap terbuka; dan orang Kristen Katolik juga saya biarkan untuk terus merenung dan memikirkan kembali apakah ritual via dolorosa dalam tradisi spiritual gereja ini tetap sebagai sebuah ritual dan bukan sebagai sebuah replika peristiwa sejarah. Sudah diketahui, via dolorosa dalam tradisi Gereja Katolik Roma banyak mengambil visi-visi ekstatis Anne Catherine Emmerich yang dituangkan dalam The Dolorous Passion of our Lord Jesus Christ, dari abad kesembilanbelas.

Berikut ini fokus kita alihkan ke soal apakah penyaliban Yesus tidak pernah ada dalam sejarah, seperti diyakini umat Islam.

Dalam pandangan saya, penyaliban Yesus adalah suatu peristiwa sejarah yang tidak dapat disangkal, karena, sudah dikatakan di atas, ada beragam bukti literer (dokumen) kuno yang independen yang memberitakan peristiwa ini. Dalam hal ini, suatu “kriterion autentisitas” penting dalam mengevaluasi Yesus diterapkan: bahwa bahan-bahan bukti literer autentik (authentic literary evidence) tentang Yesus harus ditemukan di lebih dari satu sumber sastra (multiple sources), dan sumber-sumber sastra yang multiple atau multiragam ini harus independen, yang satu tidak bergantung pada yang lainnya. Ini adalah kriterion yang diberi nama “criterion of multiple independent attestation” (yang juga dipakai dalam kasus-kasus pembuktian fakta-fakta di dalam suatu pengadilan negara atas perkara-perkara pidana dan perdata).

Bukti literer pertama (tertua) adalah dokumen-dokumen Kristen Perjanjian Baru yang seluruhnya dengan satu suara memberitakan penyaliban Yesus. Jika penyaliban Yesus hanya diberitakan oleh penulis-penulis Kristen, kita dapat menyatakan bahwa peristiwa penyaliban Yesus itu bisa saja ciptaan atau rekayasa para penulis Kristen perdana sendiri untuk menunjang suatu teologi Kristen tentang penebusan melalui salib Yesus. Tetapi masalahnya adalah bahwa teologi semacam ini hanya bisa disusun kalau penyaliban Yesus sudah terjadi lebih dulu.

Lalu, masalah lainnya adalah: Apa perlunya para penulis Kristen perdana merekayasa tulisan-tulisan yang mempersaksikan penyaliban Yesus, sementara penyaliban Yesus itu sendiri merupakan suatu peristiwa yang memalukan orang Kristen perdana, memalukan karena sang pemimpin mereka dihukum mati dengan cara yang (dalam pandangan Yahudi [lihat Galatia 3:13; Ulangan 21:23]) sangat aib dan terkutuk, yakni dihukum dengan penyaliban sebagai seorang kriminal menurut hukum Romawi. Menurut Rasul Paulus sendiri, bagi orang bukan-Kristen berita bahwa penyaliban Yesus adalah jalan keselamatan sesungguhnya adalah suatu “batu sandungan” dan suatu “kebodohan” (1 Korintus 1:23).

Jadi, penyaliban Yesus sebagai suatu peristiwa sejarah memenuhi suatu kriterion autentisitas lainnya yang dinamakan “criterion of embarrassment”: jika suatu peristiwa dalam kehidupan Yesus memalukan atau menjatuhkan pamor kekristenan perdana, maka pengisahan atau pelaporan peristiwa ini pastilah bukan dibuat-buat, melainkan pelaporan suatu peristiwa sejarah yang tidak bisa ditutup-tutupi. Jadi, tidak ada alasan lain, selain alasan sejarah, kalau para penulis Kristen perdana sampai melaporkan penyaliban Yesus.

Selain itu, hukuman penyaliban adalah sesuatu yang sudah umum dan sering dilakukan oleh para penguasa asing terhadap para revolusioner Yahudi, dengan tatacara yang sudah dibakukan. Penangkapan Yesus juga sudah diatur dengan sangat profesional, sehingga mustahil terjadi salah tangkap.

Jadi, masuk akal, jika Yesus dari Nazaret akhirnya dihukum mati melalui penyaliban mengingat dia memang telah menimbulkan riak gangguan, baik terhadap otoritas Yahudi mau pun terhadap otoritas Roma. Dia dihukum mati dengan suatu tuduhan bahwa dia mengklaim takhta Daud dan dengan demikian menjadikan dirinya sebagai raja Yahudi di suatu kawasan yang dijajah Roma. Tuduhan ini dituliskan pada titulus yang dipancang pada balok salibnya, menurut kesaksian injil-injil Perjanjian Baru.

Bukti-bukti literer lainnya berasal dari dokumen-dokumen non-Kristen, yakni dokumen-dokumen Yahudi dan non-Yahudi, serta dokumen-dokumen Romawi. Karena para penulis dokumen-dokumen ini adalah orang-orang non-Kristen, maka tidak ada kepentingan atau alasan apa pun dalam diri mereka, selain alasan melaporkan suatu peristiwa sejarah, ketika mereka memberitakan Yesus telah mati disalibkan.

Dokumen Yahudi yang pertama adalah tulisan seorang sejarawan Yahudi yang bernama Flavius Yosefus (atau Yosef ben Matthias), yang hidup dari tahun 37 atau 38 sampai setelah tahun 100. Di dalam suatu karya besarnya, Antiquitates Judaicae (Jewish Antiquities), pada bagian 18.63-64 (bagian ini biasa disebut sebagai “Testimonium Flavianum” = kesaksian atau testimoni Flavius Yosefus tentang Yesus) kita baca testimoni berikut (kata-kata yang ditempatkan dalam tanda kurung adalah tambahan belakangan dari seorang editor Kristen):
“Kira-kira pada waktu ini, hiduplah Yesus, seorang yang bijaksana, (jika memang orang harus menyebutnya seorang manusia). Sebab dia adalah seorang yang telah melakukan tindakan-tindakan luar biasa, dan seorang guru bagi orang-orang yang telah dengan senang menerima kebenaran darinya. Dia telah memenangkan banyak orang Yahudi dan banyak orang Yunani. (Dia adalah sang Messias). Setelah mendengar dia dituduh oleh orang orang-orang terkemuka dari antara kita, maka Pilatus menjatuhkan hukuman penyaliban atas dirinya. Tetapi orang-orang yang mula-mula telah mengasihinya itu tidak melepaskan kasih mereka kepadanya. (Pada hari ketiga dia menampakkan diri kepada mereka dan membuktikan dirinya hidup. Nabi-nabi Allah telah menubuatkan hal ini dan hal-hal ajaib lainnya tentang dirinya yang tidak terhitung banyaknya). Dan bangsa Kristen ini, disebut demikian dengan mengikuti namanya, sampai pada hari ini tidak lenyap.”
Berbeda dari Flavius Yosefus yang memberi catatan simpatik tentang Yesus, sumber-sumber rabinik Yahudi (yang ditulis dalam periode Tannaitik, sampai dengan tahun 220) tentang Yesus berisi catatan-catatan penolakan sebagai reaksi orang Yahudi terhadap provokasi-provokasi yang dibuat orang-orang Kristen perdana terhadap Yudaisme.
Sejumlah pakar menilai ada tradisi-tradisi tua dan dapat dipercaya sebagai sumber sejarah tentang Yesus dalam Talmud Babilonia, di antaranya bSanhedrin 43a, yang bunyinya demikian:
“Pada Sabat perayaan Paskah, Yeshu orang Nazaret digantung. Sebab selama empat puluh hari sebelum eksekusi dijalankan, muncul seorang pemberita yang mengatakan: ‘Inilah Yesus orang Nazaret, yang akan dirajam dengan batu sebab dia telah mempraktikkan sihir dan mejik [bdk Markus 3:22] dan memengaruhi orang Israel untuk murtad. Barangsiapa dapat mengatakan sesuatu untuk membelanya, hendaklah tampil dan membelanya.’ Tetapi karena tidak ada sesuatu pun yang tampil untuk membelanya, dia pun digantung pada sore Paskah [ini sejalan dengan kronologi dalam Injil Yohanes]....”
Seorang filsuf stoik kebangsaan Syria, yang berasal dari Samosata, bernama Mara bar Sarapion, menulis sebuah surat kepada anaknya, Sarapion, dari tempatnya di sebuah penjara Roma, mungkin segera setelah tahun 73. Di dalamnya dia menegaskan bahwa satu-satunya yang paling berharga untuk dimiliki dan diperjuangkan adalah kebijaksanaan, dan bahwa kendati pun orang bijak itu dapat dianiaya, kebijaksanaan itu tetap kekal.

Sebagai model orang-orang bijak, si filsuf ini mengacu kepada Sokrates dan Phytagoras, dan juga kepada Yesus meskipun nama Yesus tidak disebutnya:
“Perbuatan baik apa yang dilakukan orang-orang Atena ketika mereka membunuh Sokrates, yang mengakibatkan mereka dihukum dengan bahaya kelaparan dan penyakit menular? Manfaat apa yang diperoleh orang-orang Samian ketika mereka membakar Phytagoras, karena kemudian negeri mereka seluruhnya dikubur pasir dalam sekejap saja? Atau apa keuntungannya ketika orang-orang Yahudi membunuh raja mereka yang arif, karena kerajaan mereka setelah itu direnggut dari mereka [mengacu ke Perang Yahudi I tahun 66-73/74]? Allah telah dengan adil membalas perbuatan-perbuatan jahat yang telah dilakukan kepada tiga orang bijaksana ini. Orang-orang Atena mati kelaparan; bangsa Samian dilanda banjir dari laut; orang-orang Yahudi dibunuh dan diusir dari kerajaan mereka, lalu tinggal di tempat-tempat lain dalam perserakan. Sokrates itu tidak mati; tetapi tetap hidup melalui Plato; begitu juga Phytagoras, karena patung Hera. Demikian juga raja yang bijak itu tidak mati, karena setelah dia tidak ada muncul hukum baru yang dia telah berikan.”
Seorang satiris yang bernama Lucian dari Samosata (sekitar tahun 115-200), dalam tulisannya The Passing of Peregrinus, mengisahkan tentang orang-orang Kristen yang sangat terpikat pada Peregrinus sehingga mereka menyembahnya sebagai suatu allah; selanjutnya Lucian menulis: “... sesungguhnya, selain dia, juga orang yang disalibkan di Palestina karena memperkenalkan kultus baru ini ke dalam dunia, kini masih mereka sembah.” Lucian juga menggambarkan orang-orang Kristen sebagai orang-orang “yang menyembah sofis yang disalibkan itu sendiri dan hidup di bawah hukum-hukumnya.”

Cornelius Tacitus (55/56-sekitar 120) adalah seorang senator dan sejarawan Roma yang termasyur karena dua karya sejarahnya, Histories (sekitar 105-110) dan Annals (sekitar 116/117). Seperti dilaporkan Tacitus dalam Annals 15.38-44, untuk membelokkan kecurigaan dan dakwaan terhadap dirinya sendiri atas terbakarnya kota Roma selama sembilan hari dalam tahun 64, Kaisar Nero (54-68) menjadikan orang-orang Kristen di sana sebagai “kambing hitam.” Dalam konteks inilah Tacitus menyebut nama “Kristus” sebagai pendiri gerakan Kristen yang dihukum mati:
“Karena itu, untuk menepis kabar angin itu, Nero menciptakan kambing hitam dan menganiaya orang-orang yang disebut ‘orang-orang Kristen’ [Chrestianos], yaitu sekelompok orang yang dibenci karena tindakan-tindakan kriminal mereka yang memuakkan. Kristus, dari mana nama itu berasal, telah dihukum mati (supplicio adfectus) dalam masa pemerintahan Tiberius [14-37] di tangan salah seorang prokurator kita, Pontius Pilatus [26-36], dan takhayul yang paling merusak itu karenanya untuk sementara dapat dikendalikan, tetapi kembali pecah bukan saja di Yudea, sumber pertama dari kejahatan ini, tetapi juga di Roma, di mana segala sesuatu yang buruk, menjengkelkan dan yang menimbulkan kebencian dari segala tempat di dunia ini bertemu dan menjadi populer.” (Annals 15.44).
Nah, beragam sumber independen yang telah dikutip di atas (sumber Kristen, dan sumber Yahudi maupun sumber non-Yahudi) dengan bulat menyatakan bahwa Yesus dari Nazaret telah mati disalibkan oleh otoritas Roma, dengan juga melibatkan otoritas Yahudi. Tidak ada alasan lain yang masuk akal, selain alasan melaporkan suatu peristiwa sejarah, kalau para penulis dokumen-dokumen di atas itu, secara independen, sampai melaporkan peristiwa penyaliban Yesus.

Lalu, ada satu pertanyaan penting yang harus dijawab: Dari mana datangnya tradisi yang melaporkan bahwa Yesus dari Nazaret tidak mati disalibkan, atau bahwa bukan Yesus, tetapi orang lain yang diserupakan dengannya, yang mati disalibkan? Dokumen tertua yang memuat tradisi semacam ini, sudah dikatakan di atas, bukan Alquran, melainkan beberapa dokumen kuno lain, yang jauh lebih tua dari Alquran, maksudnya: sudah ada jauh sebelum Alquran ditulis dan mungkin sekali menjadi sumber penulisan bagian-bagian tertentu Alquran, mungkin sekali lewat tradisi-tradisi lisan yang bersumber dari dokumen-dokumen ini.

Jauh mendahului Alquran, gagasan tentang ada dua orang yang terlibat dalam penyaliban Yesus, dengan yang satu menggantikan atau menyubstitusi yang lain, dijumpai dalam dua dokumen Kristen gnostik dari abad kedua dan abad ketiga, yang bersama sejumlah dokumen kuno lainnya (yang semuanya ditulis dalam bahasa Koptik) ditemukan di Nag Hammadi, Mesir, pada tahun 1945. Seluruh dokumen Nag Hammadi ini sekarang sudah tersedia dalam satu jilid dalam bahasa Inggris, yang lebih awal berjudul The Nag Hammadi Library (1988) dengan editornya James M. Robinson; dan yang lebih belakangan adalah The Nag Hammadi Scriptures: The Revised and Updated Translation of Sacred Gnostic Texts Complete in One Volume (New York: HarperCollins Publishers, 2007), dengan editornya Marvin Meyer dan pengantar oleh Elaine H. Pagels.

Sebuah dokumen Nag Hammadi yang berjudul Apokalipsis Petrus (NHC 7,3; dari abad ketiga), menyatakan bahwa Rasul Petrus melihat ada dua sosok yang terlibat dalam penyaliban: sosok yang satu sedang dipaku oleh para algojo pada tangan dan kakinya, sedangkan yang satunya lagi sedang berada di atas sebuah pohon, bergembira sambil menertawakan apa yang sedang berlangsung. Selanjutnya ditulis,
“Sang Penyelamat berkata kepadaku, ‘Dia yang engkau lihat ada di atas sebuah pohon, bergembira dan tertawa, adalah Yesus yang hidup. Tetapi yang satunya lagi, yang kaki dan tangannya dipantek paku adalah bagian ragawi dari dirinya. Sosok yang ragawi ini, yang lahir dengan memakai parasnya, sedang dipermalukan menggantikannya’” (81.7-25).
Dalam sebuah dokumen Nag Hammadi lainnya, yang berjudul Traktat Kedua Seth Agung (NHC 7,2; dari abad kedua), Yesus menyatakan bagaimana dia bisa ada di dalam dunia:
“Aku mengunjungi suatu tempat kediaman ragawi. Aku menyingkirkan penghuni pertama yang ada di dalamnya, lalu aku masuk.... Dan Akulah yang sekarang berada di dalamnya, dan aku tidak sama dengan penghuni pertama yang ada di dalamnya. Sebab penghuni pertamanya adalah seorang manusia bumi, sedangkan Aku, Aku datang dari atas, dari surga” (51.20-52.3).
Dengan demikian, bagi kalangan gnostik aliran Basilides yang menyusun traktat ini, ada dua Yesus, yakni Yesus yang ragawi, yang kelihatan secara jasmaniah, dan Yesus surgawi atau Yesus rohani. Bahkan dalam dokumen ini dikatakan bahwa Yesus terus-menerus mengubah rupanya, berubah dari satu rupa ke rupa lainnya (56.20-24). Keadaan jati diri ganda Yesus yang semacam ini menimbulkan kebingungan pada diri orang yang berada di luar komunitas Kristen gnostik ini khususnya ketika mereka mau memahami kesengsaraan dan penyaliban Yesus dan mau mengetahui siapa yang sebenarnya disalibkan.

Pada bagian 56.5-20 dari Traktat Kedua Seth Agung, Yesus berkata,
“Mereka melihat aku; mereka menghukum aku. Namun orang lainlah, yakni bapak mereka, yang meminum anggur yang dicampur empedu; bukanlah aku... melainkan seorang lain, Simon, yang memikul salib di pundaknya. Orang lainlah yang mengenakan mahkota duri. Sedangkan aku berada di tempat yang maha tinggi, dan menertawakan semua hal berlebihan yang telah dilakukan para penguasa dan buah kekeliruan dan tipu daya mereka. Aku menertawakan kebodohan mereka.”
Ketika seorang pemimpin gereja dari abad kedua yang bernama Irenaeus menulis (Adversus Haereses 1.24.4) tentang seorang pemimpin Kristen gnostik yang bernama Basilides, dia menyatakan bahwa Basilides memandang bukan Yesus yang disengsarakan, “melainkan seorang yang bernama Simon dari Kirene dipaksa untuk memikul salib Yesus menggantikannya... dan karena ketidaktahuan dan kesalahan, yang disalibkan bukan Yesus tetapi Simon ini.”

Jelas, Irenaeus di sini sedang mengacu secara tidak langsung pada dokumen Traktat Kedua Seth Agung yang sebagian telah dikutip di atas. Jika tradisi tentang penyaliban Simon dari Kirene ini sudah beredar pada abad pertama, bisa jadi inilah alasannya mengapa penulis Injil Yohanes (yang melawan kalangan Kristen gnostik zamannya) meniadakan Simon dari Kirene dalam tuturan injilnya dan Yesus digambarkan memikul salibnya sendiri (Yohanes 19:17), berbeda dari tuturan dalam injil-injil sinoptik yang menyatakan bahwa Simon menggantikan Yesus memikul salibnya (Markus 15:21 dan par).

Sebuah pertanyaan terakhir yang muncul adalah dari mana asal tradisi yang menyatakan bahwa Yesus memiliki “kembaran”, yang parasnya serupa dengan paras Yesus, sehingga terjadi kekeliruan dalam penyaliban Yesus: bukan Yesus yang disalibkan tetapi orang lain yang serupa, kembarannya itu.

Tradisi tentang “kembaran” Yesus ini muncul dari orang Kristen Syria, khususnya dari wilayah Edessa. Mereka keliru menyamakan Rasul Tomas, yang disebut tiga kali dalam Injil Yohanes sebagai “Kembaran” (Didimus) (Yohanes 11:16; 20:24; 21:2), dengan Yudas yang dalam Markus 6:3 dan Matius 13:55 disebut sebagai salah seorang dari empat saudara pria Yesus. Dari sinilah tercipta sosok Yudas Tomas sebagai kembaran Yesus, sebuah potret yang populer di kalangan kekristenan Tomas (yang pada tahap akhir sejarah perkembangannya menjadi komunitas Kristen gnostik): lihat Kitab Tomas Si Petarung (NHC 2,7; 138.2,4); Injil Tomas (NHC 2,2; 32.11); Kisah Tomas 1. Potret populer ini jelas salah; sebab faktual historisnya Yesus tidak memiliki saudara kembar. Bunda Maria tidak pernah mengandung anak kembar; ketika dia melahirkan bayi Yesus, hanya satu bayi yang keluar dari rahimnya.

Gagasan kekristenan Tomas ini bahwa Yesus memiliki seorang kembaran adalah salah satu faktor penyebab munculnya kepercayaan bahwa seorang lain yang separas dengan Yesus telah disalibkan menggantikan dirinya. Dalam lingkungan Kristen gnostik, gagasan tentang kembaran Yesus ini telah ikut melahirkan sebuah pemikiran teologis bahwa yang disalibkan itu adalah Yesus yang tampak secara ragawi atau Yesus bumi, sedangkan Yesus yang sesungguhnya (Yesus yang sepenuhnya rohani, atau Yesus surgawi), junjungan kaum Kristen gnostik, tidak bisa disalibkan. Kepercayaan ini muncul karena bagi kalangan gnostik, Yesus yang sejati adalah Yesus yang rohani, Yesus surgawi, sehingga dia tidak bisa disalibkan.

Tetapi, karena penyaliban sudah faktual terjadi dan peristiwa ini tidak bisa dibantah, orang Kristen gnostik harus menyimpulkan bahwa yang telah disalibkan itu pastilah orang lain, orang yang parasnya serupa dengan paras Yesus, Yesus ragawi, bukan Yesus junjungan mereka, Yesus surgawi. Kesimpulan ini tak sulit untuk mereka tarik, sebab mereka juga memiliki tradisi-tradisi tertulis dari kekristenan Tomas bahwa Yesus memiliki kembaran.

Jadi, gagasan bahwa yang mati disalibkan bukan Yesus, tetapi kembarannya atau orang yang separas dengannya, adalah sebuah gagasan teologis yang dibuat untuk, pada satu pihak, menerima fakta penyaliban Yesus, sementara pada pihak lain untuk mempertahankan ketidakmungkinan Yesus gnostik, Yesus surgawi, mati disalibkan. Karena orang gnostik memandang rendah daging/raga, bermentalitas sarkofobik, maka Yesus yang mereka sembah bukanlah Yesus ragawi, tetapi Yesus surgawi, Yesus rohani, yang tidak bisa disalibkan dan tidak bisa mati. Karena Yesus mereka tak bisa mati, maka sosok yang sudah mati disalibkan pastilah sosok yang lain, yang memiliki paras yang serupa.

Kesimpulannya sudah jelas: pandangan Alquran bahwa bukan Yesus yang mati disalibkan, tetapi orang lain yang “serupa” (atau “diserupakan”) dengan dirinya, adalah kelanjutan dari sebuah tradisi Kristen gnostik abad kedua dan abad ketiga yang memegang pandangan yang sama, yang masuk ke dalam Alquran, sangat mungkin lewat tradisi-tradisi lisan, pada waktu kitab suci ini ditulis dan disusun oleh Nabi Muhammad (tentu bersama sahabat-sahabatnya) pada abad ketujuh di Saudi Arabia.

Pandangan Kristen gnostik ini bukan mau menyatakan bahwa secara historis Yesus dari Nazaret tidak mati disalibkan; tetapi bahwa justru karena Yesus dari Nazaret benar-benar telah mati disalibkan, mereka perlu mencari seorang “korban pengganti” demi menyelamatkan dan mempertahankan keyakinan mereka bahwa Yesus yang mereka sembah adalah Yesus surgawi, Yesus rohani, yang tidak bisa mati disalibkan. 

Jika orang mengubah sebuah pandangan teologis menjadi sebuah laporan sejarah, tentu saja pengubahan semacam ini membuat orang menjauh dari sejarah dan menimbulkan banyak permasalahan. Seyogianya sebuah teks teologis dibaca sebagai teks teologis, bukan sebagai teks sejarah.

Dengan demikian, harus ditegaskan kembali bahwa Yesus dari Nazaret sungguh-sungguh telah mati melalui penyaliban. Bukti-bukti literer yang telah diajukan dan argumen-argumen tekstual yang telah dibangun di atas semuanya sangat kuat dan tak tergoyahkan. 

Kendatipun demikian, tidaklah berarti bahwa segala hal yang ditulis dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam kitab-kitab Injil, tentang hal-hal yang terjadi pada waktu Yesus dari Nazareth disalibkan, seluruhnya sejarah. Tidak demikian! 

Ketika Yesus ditangkap, semua murid terdekatnya melarikan diri; hal yang sangat bisa dipahami dan diterima sebagai fakta. Jadi, tak ada satu orang pun dari antara murid Yesus yang melihat dan mencatat sepersis-persisnya segala hal yang berlangsung ketika Yesus disalibkan. Sejumlah murid perempuan hanya menyaksikan peristiwa ini dari kejauhan. Dengan demikian, harus ditegaskan, misalnya, bahwa semua ucapan Yesus pada waktu dia tersalib, yang ditulis dalam keempat kitab Injil (Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes), adalah reka-rekaan masing-masing penulis kitab Injil.

Kita sama sekali tak memiliki informasi autentik dari kalangan Kristen tentang apa yang terjadi pada Yesus dari Nazareth, ketika dia disalibkan sampai ajalnya tiba, sementara peristiwa penyalibannya sendiri tak diragukan lagi adalah peristiwa sejarah, sebagaimana sudah diargumentasikan di atas.


oleh Ioanes Rakhmat