Monday, March 1, 2010

Yesus dalam Injil Markus

Pada permulaan Injilnya, penulis Injil Markus menyatakan bahwa Yesus adalah sang Mesias (=sang Kristus), Anak Allah, yang ke atasnya Roh Allah turun dan selanjutnya berdiam di dalam dirinya sejak pembaptisannya oleh Yohanes Pembaptis (Markus 1:1, 9-11). Sebagai seorang yang didiami dan dikuasai Roh Allah, Yesus pada awal karirnya berkonfrontasi dengan Iblis dan dia menang (1:12-13). Selanjutnya, dalam masa kegiatannya di Galilea di muka umum setelah Yohanes pembaptis ditangkap (1:14; 6:14-29), Yesus memberitakan suatu kabar baik (=injil) bahwa dalam masa pelayanannya di muka umum kerajaan Allah sedang mendatangi umat Israel, dan umat diminta untuk bertobat dan percaya kepada injil ini (1:14-15).

Ketika Allah menjadi sang Raja bagi umat Israel, Allah akan “menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata” (7:37). Ketika Allah sedang memerintah sebagai Raja Israel, Yesus menjadi sang Mesias di dalam kerajaan ini yang bertindak dengan kewibawaan Allah sendiri (2:5-12). Ketika kerajaan Allah ini datang, cinta atau belas kasih ilahi akan dialami oleh umat dalam bentuk kesembuhan dari segala penyakit (1:41). Kerajaan Allah yang sedang datang ini dirayakan Yesus bersama murid-muridnya dan orang-orang lain dalam perjamuan makan bersama yang terbuka, yang dapat diikuti oleh siapa saja yang mau ikut serta (2:13-17).

Ketika Allah sedang memerintah umat Israel, konfrontasi Yesus dengan Iblis terus berlanjut: Roh Allah yang ada di dalam Yesus berhadap-hadapan dengan roh-roh jahat, setan-setan dan Iblis. Yesus melihat dirinya sedang bertarung melawan “seorang yang kuat” (3:27). Seorang yang kuat ini dalam dunia rohani yang tidak kasat mata adalah “Beelzebul” atau “penghulu setan” (3:22). Jika penghulu setan ini mau ditaklukkan, sang penghulu setan ini, kata Yesus, harus “diikat” dahulu, dan kalau sudah berhasil diikat, barulah seisi rumah dapat dirampok (3:27). Maka, dalam seluruh kegiatannya di muka umum, Yesus sejak awal pelayanannya terus-menerus berkonfrontasi dengan setan-setan dan mengalahkan setan-setan ini dengan mengusir mereka dari diri orang-orang yang dirasuk mereka. Di akhir setiap pengusiran setan yang dilakukan Yesus, setan-setan itu selalu takluk pada Yesus dan mengakui dirinya sebagai sang Mesias, Anak Allah (1:23-26, 34; 3:11; 5:6-9).

Dalam dunia nyata yang kasat mata, “seorang kuat” yang sedang dihadapi Yesus adalah otoritas Romawi yang sedang menjajah negeri Israel. Penjajah Romawi ini diibaratkan penulis Injil Markus sebagai “legion”, seperti dituturkan dalam Markus 5:1-18. Pada perikop ini, “legion” merujuk pada roh-roh jahat yang banyak jumlahnya, yang merasuki seseorang di daerah orang Gerasa, yang sedang dihadapi Yesus. Pada pihak lain, kata Latin “legion” menunjuk pada satuan prajurit pejalan kaki Romawi ditambah pasukan berkuda dalam jumlah besar antara tiga ribu sampai enam ribu orang. Dengan demikian jelaslah bahwa kata “legion” dalam perikop Injil Markus ini mengacu pada dua kawasan: pada kawasan rohani, legion ini adalah setan-setan atau roh-roh jahat dalam jumlah banyak; dan pada kawasan dunia yang kasat mata, roh-roh jahat yang banyak jumlahnya ini adalah penjajah Romawi yang sedang menduduki Tanah Israel.

Dengan berani dan penuh kuasa, Yesus berkata kepada legion ini, “Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!” (5:8). Tetapi roh-roh jahat ini meminta dengan sangat kepada Yesus supaya mereka jangan diusir keluar dari daerah itu (5:10). Itulah juga yang dikehendaki penjajah Roma, yakni ingin terus menguasai Tanah Israel. Tetapi Yesus tidak mau berkompromi. Roh-roh jahat itu dimintanya keluar dari orang yang mereka rasuki, lalu roh-roh jahat ini pindah ke dalam babi-babi dan merasuki babi-babi ini. Lalu babi-babi yang kerasukan legion ini terjun ke dalam danau dan semuanya mati lemas. Itulah tujuan akhir perjuangan Yesus: kerajaan Allah Yahudi akan pasti mengalahkan kekaisaran Romawi yang sedang menduduki Tanah Israel. Dalam keyakinan Yesus, sudah sepatutnya Tanah Israel dikembalikan kepada bangsa Israel yang dulu, melalui Bapak Leluhur mereka, Abraham, telah mereka terima dari Allah sebagai Tanah Perjanjian. Kaisar Romawi tidak berhak atas Tanah Israel; sebab Tanah Israel adalah kepunyaan Allah Yahudi, Allah bangsa Israel. Karena itu tanah ini harus Kaisar kembali kepada bangsa Israel, pewaris sah Tanah Perjanjian, dan penguasa Romawi harus meninggalkan tanah ini (12:17).

Tetapi, pertarungan dan kemenangan Yesus atas legion Romawi baru berlangsung dalam wilayah simbolik, dalam kawasan rohani saja. Dalam kawasan nyata dunia ini, Roma sangat kuat menguasai Tanah Israel. Karena begitu besar jumlahnya dan sangat kuat, Yesus tahu bahwa untuk melawan Roma, dia harus melakukan perlawanan tersembunyi, tidak terang-terangan, dan harus dimulai dulu dengan pertarungan sengit di kawasan rohani melalui pengusiran setan dan penyembuhan penyakit untuk memperkuat dan memberdayakan rakyat Yahudi. Karena itulah, untuk menyamarkan pesan-pesannya di hadapan orang banyak, Yesus memakai banyak wacana perumpamaan ketika dia berbicara tentang kerajaan Allah yang sedang datang (4:11). Begitu juga, setiap Yesus selesai mengusir setan atau menyembuhkan orang sakit, dia meminta roh-roh jahat dan orang-orang yang sudah disembuhkannya untuk merahasiakan baik peristiwa yang sudah terjadi maupun identitas diri Yesus sendiri (1:34b; 1:44; 3:12; 5:43; 7:36; 8:26). Yesus tidak mau perlawanannya kepada Roma dapat segera terbaca oleh orang banyak dan oleh penguasa Yahudi dan penguasa Romawi.

Tetapi, karena para penguasa keagamaan, yakni orang-orang Farisi dan orang-orang Herodian, sejak awal tidak bisa menerima kalau Yesus banyak kali menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat, mereka menghendaki Yesus dibunuh (3:1-6; lihat juga 12:12; 14:1-2). Bagi mereka, memelihara Sabat jauh lebih penting daripada menyembuhkan orang pada hari Sabat. Tetapi bagi Yesus, jika menyembuhkan orang sakit adalah suatu perbuatan yang baik karena menyelamatkan nyawa orang, maka penyembuhan pada hari Sabat boleh dan bahkan harus dilakukan (3:4). Karena alasan keagamaan ini, di samping juga karena Yesus mengklaim memiliki otoritas ilahi untuk mengampuni dosa (2:5-12), mereka tidak berada pada pihak Yesus, tetapi menjadi lawan-lawan Yesus yang pada akhirnya, bersama pihak penguasa Romawi, mengakhiri kehidupan Yesus.

Pada akhirnya, setelah Yesus secara simbolik menolak Bait Allah dan otoritas Yahudi dan otoritas Romawi yang ada di belakang Bait ini (11:15-18), dan setelah dia selesai menyelenggarakan suatu ritual perjamuan (terakhir) yang menggantikan ritual resmi penghapusan dosa di Bait Allah (14:22-25), penguasa Yahudi tak bisa mengulur-ulur waktu lagi dan segera mereka menangkap Yesus (14:43-49). Setelah melakukan pemeriksaan atas dirinya, Mahkamah Agama dengan suara bulat menjatuhkan vonis mati kepada Yesus (14:64b). Kalau sebelumnya Yesus selalu berupaya menjaga kerahasiaan identitas dirinya, maka ketika dia sudah langsung berhadapan dengan otoritas Yahudi yang sedang mengadilinya, dia tidak lagi menyembunyikan jatidirinya, melainkan dengan terus terang mengaku bahwa dia adalah sang Mesias, Anak Manusia yang akan duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa (14:61-62). Barangsiapa mengaku diri sebagai sang mesias, Raja bangsa Yahudi, di suatu negeri yang sedang dijajah Romawi, orang yang mengaku ini dipandang sebagai seorang pemberontak. Inilah tuduhan politis yang diajukan para pemimpin Yahudi ketika mereka membawa dan menyerahkan Yesus kepada Pontius Pilatus, gubernur Romawi. Sang gubernur, ketika memulai pemeriksaannya terhadap Yesus, bertanya kepadanya, “Engkaukah raja orang Yahudi?” (15:2).

Ini rupanya yang menjadi tujuan akhir semua tindakan Yesus, yakni supaya dia pada akhirnya dapat berhadapan langsung baik dengan otoritas tertinggi Yahudi maupun dengan otoritas Romawi, dan dapat menyatakan dengan terang-terangan bahwa dirinya adalah sang mesias Yahudi, baik di hadapan otoritas Yahudi (14:62) maupun di hadapan gubernur Pontius Pilatus (15:2). Dengan kata lain, ketika Yesus berada di hadapan kedua otoritas tertinggi ini, Yesus ingin dirinya diakui sebagai Raja Yahudi yang sedang menegakkan pemerintahan Allah atas bangsa Yahudi.

Tetapi bukan pengakuan akan kemesiasannya yang diterima Yesus. Bagi otoritas Yahudi yang mengadilinya, Yesus tidaklah lebih dari seorang “penghujat Allah” yang patut dihukum mati (14:63); dan bagi Pontius Pilatus yang memeriksanya, Yesus tidaklah lebih dari seorang pemberontak yang patut “disalibkan” (15:15b). Setelah diperolok-olok sebagai raja orang Yahudi dan kepadanya dikenakan sebuah mahkota duri (15:16-20a), Yesus pun disalibkan (15:24), dan sementara tersalib dia pun menerima berbagai hujatan dari orang yang lalu-lalang dan dari para imam dan ahli Taurat (15:29-32). Bahkan menurut penulis Injil Markus, ketika disalibkan Yesus bukan saja ditinggalkan oleh murid-murid pria (14:50), tetapi juga oleh Allah sendiri sehingga dia berseru, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (15:34).

Pengakuan dari kepala pasukan Romawi ketika dia melihat cara Yesus mati bahwa Yesus “sesungguhnya adalah Anak Allah” (15:39) sebetulnya bukanlah sebuah pengakuan akan kebesaran sang mesias yang bernama Yesus, tetapi sebuah penghinaan lebih jauh dari pihak Romawi terhadap orang yang mengklaim diri sebagai sang mesias Yahudi namun menemui kematian dengan cara yang sangat memalukan: mati disalibkan. Dalam pandangan orang Yunani-Romawi, seorang anak Allah adalah seorang yang terhormat dan mulia, duduk di takhta kerajaan, bukan mati terhina disalibkan. Begitu juga, dalam pandangan Yahudi orang yang mati disalibkan adalah orang yang terkena kutuk Allah (lihat Galatia 3:13; Ulangan 21:23), suatu “batu sandungan”; dan bagi masyarakat Yunani-Romawi, sang mesias yang mati disalibkan adalah suatu “kebodohan” (1 Korintus 1:23).

Tetapi, bagi penulis Injil Markus, kematian Yesus di kayu salib adalah suatu peristiwa penting sebagai saat di mana Allah memilih untuk tidak berada terus di Ruang Maha Kudus dari Bait Allah, melainkan keluar dan meninggalkan ruangan ini dan selanjutnya dapat ditemui langsung oleh umat Yahudi tanpa lewat lembaga Bait Allah dan fungsi imamat sebagai lembaga-lembaga perantara. Penulis Injil Markus secara simbolik menyatakan hal ini ketika dia menulis bahwa pada waktu Yesus mati, “tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah” (15:38). Fungsi Bait Allah sebagai suatu lembaga yang menyelenggarakan ritual penghapusan dosa telah digantikan oleh diri Yesus sendiri melalui kematiannya di kayu salib, seperti dikatakan oleh Yesus sebelumnya, “Anak Manusia datang untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (10:45).

Dengan demikian, suatu peristiwa sejarah yang kongkret, yang melibatkan Yesus yang mengaku diri sebagai sang mesias Yahudi, yang karenanya dijatuhi hukuman mati baik oleh otoritas Yahudi maupun oleh otoritas Romawi, diubah oleh penulis Injil Markus menjadi suatu peristiwa teologis adikodrati yang melaluinya, dalam pengakuan penulis Injil ini, Allah menyediakan penebusan bagi banyak orang. Untuk menjadi sang penebus, Yesus, dalam keyakinan penulis Injil Markus, diharuskan Allah (Yunani: dei) menempuh jalan sengsara (8:31; 9:31; 10:33-34).