Friday, October 9, 2009

Kekristenan Yahudi Sejauh Tercermin dalam Surat 1, 2 Korintus dan Surat Filipi

Kata Rasul Paulus dengan sangat kasar, “Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, ....” (Filipi 3:2)

Melanjutkan hal-hal yang sudah kita teliti sebelumnya, pada kesempatan ini kita mau memperhatikan bagian-bagian surat 1 dan 2 Korintus serta surat Filipi yang memuat polemik-polemik tajam dan pembelaan diri Rasul Paulus terhadap orang-orang yang menentang dan mengkritiknya di dalam kedua jemaat yang didirikannya ini. Dengan melakukan analisis teks-teks yang semacam ini dalam kedua surat ini, kita berharap kita akan memperoleh gambaran-gambaran mengenai siapa para penentangnya ini dan apa pandangan-pandangan mereka sendiri yang membuat mereka tidak bisa menerima Rasul Paulus. Kita mau memeriksa apakah para penentang dan pengkritiknya ini berhubungan dengan Jemaat Induk Yerusalem yang dipimpin oleh tiga soko guru ternama (Yakobus, Petrus dan Yohanes). Dengan melakukan analisis dan investigasi semacam ini, kita berharap akan memperoleh pengetahuan lebih lanjut mengenai orang-orang Yahudi-Kristen yang menjadi penentang-penentang Rasul Paulus yang terus membuntuti sang rasul, dan apa pandangan mereka.

1 Korintus 9:1-18

Pasal 9 surat 1 Korintus dibuka Rasul Paulus dengan empat pertanyaan retoris, “Bukankah aku rasul (apostolos)? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat (horaō) Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan?” (9:1). Tentu empat pertanyaan retorisnya ini tidak muncul begitu saja, tanpa suatu sebab. Kalau kita baca pernyataannya dalam 9:3, “Inilah pembelaanku (hē emē apologia) terhadap mereka yang mengkritik (anakrinein) aku”, jelas kita harus menyimpulkan bahwa empat pertanyaan retoris Rasul Paulus ini dimunculkannya sebagai suatu pembelaan dirinya karena di dalam jemaat Korintus ada kalangan yang mengkritik kerasulannya, kebebasannya sebagai seorang rasul (lihat 9:19-23) dan dasar-dasar klaimnya bahwa dia adalah seorang rasul Yesus Kristus. Ayat 2 memuat suatu pernyataan Rasul Paulus sendiri yang menegaskan bahwa memang ada kalangan yang mempersoalkan kerasulannya, tulisnya, “Sekalipun bagi orang lain (Yunani: allos) aku bukanlah rasul, tetapi bagi kamu aku adalah rasul. Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai kerasulanku.”

Pada tiga ayat di atas (9:1-3), kita dapat menemukan isi pembelaan Rasul Paulus yang menegaskan bahwa dia sungguh-sungguh adalah seorang rasul Yesus Kristus. Dia memberi dua alasan mengapa dia memandang dirinya seorang rasul Yesus Kristus. Pertama, karena dia telah melihat Tuhan Yesus Kristus. Kata Yunani horaō (=“melihat”), bisa mengacu baik kepada suatu penglihatan secara jasmaniah maupun kepada suatu penglihatan secara rohaniah. Tentu, maksud Rasul Paulus bukanlah bahwa dia telah melihat Yesus secara jasmaniah, sebab dia bukanlah seorang saksi mata kehidupan Yesus. Penglihatannya lebih merupakan suatu pengalaman rohaniah yang disebut penyataan (Yunani: apokalipsis; lihat Galatia 1:12 & 16). Kedua, karena dia telah berhasil mendirikan dan menghidupkan jemaat Kristen di Korintus. Berdirinya jemaat ini adalah suatu bukti atau “meterai” kerasulannya. Jemaat ini bukan hanya buah pekerjaannya, tetapi mereka juga mengakui bahwa Paulus adalah seorang rasul (“… tetapi bagi kamu aku adalah rasul”).

Nah, yang menjadi suatu pertanyaan penting bagi kita adalah siapa “orang lain” yang menolak kerasulan Paulus di jemaat Korintus ini? Analisis teks berikut ini akan membawa kita kepada suatu jawaban atas pertanyaan ini.

Seperti telah beberapa kali dikemukakan dalam tulisan-tulisan terdahulu, alasan bahwa Paulus adalah seorang rasul karena dia telah melihat penyataan Yesus Kristus secara rohani, adalah suatu alasan yang bisa dipersoalkan berhubung tidak ada suatu bukti objektif apapun bahwa dia memang telah bertemu Yesus (secara fisik), tidak seperti halnya dengan rasul-rasul lain yang telah menjadi saksi-saksi mata kehidupan Yesus. Mungkin sekali, alasan ini memang dilihat oleh Rasul Paulus sebagai suatu alasan yang tidak bisa disederajatkan dengan sebuah alasan lain bahwa rasul-rasul lain sebelum dirinya adalah para rasul yang autentik karena mereka adalah para saksi mata kehidupan Yesus. Sejalan dengan kemungkinan ini adalah pernyataan Rasul Paulus sendiri dalam 1 Korintus 15:8-9 bahwa meskipun Yesus Kristus “telah dilihatnya” (ōfthē; bentuk pasif dari horaō), namun, dibandingkan para rasul lain yang menjadi saksi-saksi mata kehidupan Yesus (yakni Yakobus, Kefas, lima ratus saudara, dan keduabelas murid Yesus, yang semuanya terkait dengan Jemaat Induk Yerusalem), Paulus memandang dirinya sebagai “anak yang lahir sebelum waktunya” dan sebagai “yang paling hina dari semua rasul bahkan tidak layak disebut rasul.” Selain itu, Paulus juga mengetahui adanya sebuah tradisi yang menyatakan bahwa sebelum dia menjadi atau mengangkat diri sebagai seorang rasul Yesus Kristus, jabatan kerasulan sudah ditutup, sebagaimana dia sendiri tulis dalam 1 Korintus 15:7, “Selanjutnya Ia (=Yesus Kristus) menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul.” “Semua rasul” dalam tradisi ini tidak termasuk dirinya sendiri, tetapi Paulus berusaha memasukkan dirinya ke dalam kelompok “semua rasul” ini, kendatipun dia sendiri merasa dirinya tidak layak dimasukkan ke dalam lingkaran para rasul yang sebenarnya sudah ditutup sebelum dirinya tampil.

Karena dia melihat kelemahan alasan pertamanya itu, dalam ayat-ayat selanjutnya (9:4-18) Rasul Paulus tidak lagi mengulang alasan ini. Untuk mempertahankan posisinya sebagai seorang rasul di hadapan orang-orang lain yang mengkritiknya, tampaknya Paulus lebih bergantung pada alasan kedua, bahwa kerasulannya terbukti oleh kenyataan bahwa dia telah berhasil membangun dan menghidupkan jemaat Kristen di Korintus. Tetapi, dari apa yang sangat ditekankan dan diulang-ulang Paulus dalam ayat-ayat 4-18, kita dapat menyimpulkan bahwa justru “orang-orang lain” yang mengkritiknya melihat ada suatu persoalan besar sehubungan dengan alasan keduanya ini.

Dalam ayat-ayat tersebut (4-18), Paulus berulang kali menyatakan bahwa dia dan Barnabas sebetulnya memiliki “hak” atau “kewenangan” (hē eksousia) untuk “makan dan minum” dengan biaya jemaat, untuk “membawa seorang istri Kristen” juga atas tanggungan jemaat, untuk “dibebaskan dari pekerjaan tangan” lalu kehidupan mereka ditanggung jemaat yang telah didirikannya, untuk “menuai hasil duniawi” dari pekerjaannya mengabarkan injil, hasil yang berupa topangan finansal dari jemaat untuk kehidupan mereka berdua. Tetapi, Paulus menegaskan bahwa semua hak itu tidak digunakan oleh mereka berdua. Tulisnya, “Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus” (9:12b). Nah, di sinilah letak soal yang dikritik lawan-lawannya di jemaat Korintus.

Bagi para pengkritiknya, kalau benar bukti kerasulan Paulus adalah berdiri dan hidupnya jemaat Kristen di Korintus, sudah sepatutnya dia dan Barnabas mau menerima segala topangan keuangan dari jemaat Korintus untuk kehidupan mereka. Paulus bukannya tidak tahu bahwa hukum Taurat juga telah mengatur hal itu (ayat-ayat 8-10); bahkan diapun menyatakan bahwa dia mengetahui suatu perkataan Yesus tentang hal ini, seperti ditulisnya pada ayat 14, “Demikian pula Tuhan telah menetapkan bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.” Memang dalam dua injil PB kita dapatkan suatu perintah Yesus semacam itu kepada para muridnya dalam kegiatan mereka mengabarkan injil; bunyinya demikian: “Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya” (Lukas 10:7; Matius 10:10). Ucapan Yesus ini terdapat dalam suatu sumber yang tua, dari tahun 40-an sampai awal 50-an, yakni sumber “Q” (=sumber ucapan-ucapan Yesus yang dipakai baik oleh Matius maupun oleh Lukas). Tampaknya Rasul Paulus tidak mengetahui bunyi yang tepat dari perkataan Yesus yang dikatakannya dia ketahui. Fakta ini membuat kita dapat menyimpulkan bahwa Paulus bisa jadi telah mendengar perintah Yesus ini sering disebut-sebut oleh para pengkritiknya, dan dia hanya secara garis besar saja mengutip atau mengingat dari mereka.

Bagi lawan-lawan mereka di jemaat Korintus, kemandirian finansial Paulus dan Barnabas ini justru menjadi suatu bukti bahwa mereka berdua bukan rasul Yesus Kristus, yang dulu telah memerintahkan kepada murid-muridnya untuk hidup seperti yang telah ditulis Paulus sebagai ucapan Yesus, yang bunyinya lebih persis terekam dalam Injil Matius dan Injil Lukas. Jadi, para pengkritik Paulus dan Barnabas pertama-tama mendasarkan kritik mereka terhadap Paulus dan Barnabas pada ajaran Yesus sendiri yang ternyata tidak dituruti Paulus dan Barnabas, padahal mereka berdua kurang lebih mengetahui ucapan Yesus seperti yang terdapat dalam dua injil ini. Nah, data teks ini membuat kita perlu menyimpulkan bahwa orang-orang lain yang mengkritik Paulus (dan Barnabas) di jemaat Korintus adalah orang-orang yang ingin tetap setia kepada perintah Yesus sendiri dalam tugas pekabaran injil yang mereka sedang lakukan.

Ketika Paulus menyebut tentang hak-haknya yang sudah ditulis di atas, dia membandingkan dirinya dan diri Barnabas dengan “rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas” sebagai orang-orang yang memakai hak mereka untuk menerima topangan dari jemaat yang mereka bangun dan untuk membawa seorang istri Kristen (ayat 5). Penempatan dirinya dan diri Barnabas sebagai orang-orang yang menjalani kehidupan yang berbeda dari kehidupan “rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas” ini sejajar dengan pengelompokan yang dibuat pada waktu Konsili Yerusalem diadakan, seperti kita dapat baca dalam surat Galatia (1:1-10) yang sudah dibahas dalam sebuah tulisan sebelumnya. Dalam konsili ini telah dicapai kesepakatan antara Paulus dan Barnabas dengan “Yakobus, Kefas dan Yohanes” bahwa mereka berdua pergi memberitakan injil kepada orang-orang tak bersunat (bangsa-bangsa bukan-Yahudi) sedangkan tiga soko guru Jemaat Induk Yerusalem ini kepada orang-orang bersunat (bangsa Yahudi). Yakobus tentu termasuk dalam kategori “saudara-saudara Tuhan”; dan Rasul Yohanes termasuk dalam kategori “rasul-rasul lain.”

Nah, tentu bukan suatu kebetulan kalau di jemaat Korintus ini, di hadapan para pengkritiknya, Paulus menyebut “rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas” sebagai orang-orang yang memakai hak-hak mereka untuk mendapat topangan dan dukungan finansial dari jemaat Kristen yang mereka layani, orang-orang yang tidak mandiri secara finansial, berbeda tajam dari dirinya dan Barnabas yang memilih untuk mandiri secara finansial. Penyebutan para soko guru Jemaat Induk Yerusalem oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, ketika dia melakukan suatu pembelaan diri, menunjukkan bahwa para pengkritiknya di jemaat ini mengontraskan Paulus dan Barnabas dengan para soko guru Jemaat Induk Yerusalem ini. Bagi para pengkritiknya, kalau memang Paulus adalah rasul Yesus Kristus, bukan saja dia harus menaati perintah Yesus seperti sudah dikutip di atas, tetapi dia dan Barnabas juga harus hidup sejalan dengan cara hidup para soko guru Jemaat Induk Yerusalem ini. Kenyataan bahwa dia dan Barnabas memilih kehidupan finansial yang mandiri menunjukkan bahwa mereka berdua telah menjalani suatu bentuk kehidupan yang bertentangan dengan kehidupan para soko guru ini.

Jadi, dari suatu analisis teks 1 Korintus 9 di atas, dapat kita simpulkan bahwa di jemaat Korintus yang didirikannya, Rasul Paulus dan teman sepelayanannya, Barnabas, berhadapan dengan para pengkritik yang mempertahankan suatu bentuk kehidupan Kristen yang tetap setia kepada perintah Yesus dan yang berpadanan dengan kehidupan para soko guru Jemaat Induk Yerusalem. Dengan kata lain, para pengkritiknya ini adalah orang-orang Yahudi-Kristen. Mereka inilah yang menyebut diri sebagai “golongan Kefas” (1 Korintus 1:12).

2 Korintus 10-12

Ternyata, sementara Rasul Paulus sedang menulis surat 2 Korintus, yang dikenal sebagai sebuah “surat air mata” (2 Korintus 2:4), yang akan dikirimkannya ke jemaat Korintus tak lama sesudah dia menulis surat 1 Korintus, para pengkritik Paulus yang datang ke jemaat Korintus tetap tidak mengendurkan serangan mereka kepadanya sehubungan dengan kemandirian finansial yang dipertahankan Paulus dan Barnabas terhadap jemaat Kristen ini. Dalam 2 Korintus 11:7-11 sekali lagi Paulus mempertahankan kemandirian finansialnya; katanya antara lain, “Dalam segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu” (ayat 9b; lihat juga 12:13; 2:17). Para pengkritiknya menyatakan bahwa Paulus salah kalau dia tidak mau menerima topangan finansial dari jemaat Korintus, sehingga secara retoris Paulus bertanya, “Apakah aku berbuat salah jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan injil Allah kepada kamu dengan cuma-Cuma” (11:7).

Ternyata, lawan-lawan Paulus memperlebar serangan mereka kepada Rasul Paulus, dengan sekarang menyatakan bahwa Rasul Paulus tidak memiliki kuasa spiritual yang seharusnya ada pada setiap rasul Yesus Kristus. Paulus mengutip sebuah perkataan para pengkritiknya, “Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti” (10:10). Dalam 2 Kortintus 10:1, dengan tentu mengacu kepada penilaian lawan-lawannya terhadap dirinya, Paulus menulis, “Aku, Paulus, yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan.…”

Terhadap tuduhan baru ini, Paulus tidak dapat menahan dirinya; dia menjawab dengan tegas, “Tetapi hendaklah orang-orang yang berkata demikian menginsafi, bahwa tindakan kami, bila berhadapan muka, sama seperti perkataan kami dalam surat-surat kami bila tidak berhadapan muka” (10:11). Paulus bahkan menulis bahwa dia akan dapat “bertindak keras (apotomōs)” jika dia berada di tengah-tengah jemaat karena padanya ada “kuasa” (hē eksousia) yang dianugerahkan Tuhan kepadanya (13:10). Selain itu, Paulus juga menyatakan dengan tegas bahwa dia memiliki kuasa spiritual karena dia memiliki “kuasa Allah” (hē dunamis theou) (13:4) atau “Roh Allah” (1 Korintus 7:40) atau “Roh Kudus” (2 Korintus 1:22; bdk 5:5), dan karena “Kristus berkata-kata dengan perantaraan aku” (en emoi lalountas Khristou), maksudnya: Roh Yesus Kristus berkata-kata dalam dirinya (en emoi). Sebagai bukti bahwa dia memiliki kuasa Allah, Paulus menegaskan bahwa di tengah-tengah jemaat dia telah membuat berbagai “tanda (sēmeion), mukjizat (teras) dan kuasa (dunamis)” (2 Korintus 12:12). Bahkan sebagai sumber kuasa-kuasa rohani yang ada padanya, Paulus menyatakan bahwa dia telah menerima “penglihatan dan penyataan” (optasia kai apokalupsis) dari Tuhan ketika dia “diangkat ke tingkat yang ketiga dari surga” atau “ke Firdaus” dan di sana dia “mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia”(12:1-6). Paulus menyatakan bahwa kalaupun dia “kurang paham dalam berkata-kata (idiōtēs tōi logōi)” seperti dicap oleh lawan-lawannya, tidaklah demikian dalam hal pengetahuan (hē gnōsis) (11:6). “Pengetahuan” yang dimaksudkan Paulus adalah “pengetahuan mengenai kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus” (4:6).

Selain untuk membuktikan bahwa dia memiliki kuasa Allah, segala tanda, mukjizat dan kuasa yang didemonstrasikannya di hadapan jemaat baginya merupakan bukti-bukti kuat bahwa dia “adalah seorang rasul” (12:12). Kembali kita temukan di sini, bahwa keabsahan kerasulannya terus saja dipersoalkan oleh para penentangnya yang datang ke jemaat Korintus yang sebenarnya adalah jemaat buah karya pekabaran injilnya. Kalau sebelumnya dalam surat 1 Korintus Rasul Paulus mempertahankan keabsahan status kerasulannya dengan menunjuk pada pengalaman rohaninya “melihat” Tuhan dan pada keberhasilannya membangun dan menghidupkan jemaat Korintus (1 Korintus 9:1-3), maka dalam surat 2 Korintus ini dia menambah satu atau dua alasan lagi, yakni bahwa dia memiliki kuasa Allah untuk melakukan tanda-tanda, mukjizat-mukjizat dan kuasa-kuasa, dan bahwa Roh Yesus Kristus ada di dalam dirinya.

Karena dalam surat 2 Korintus, seperti sudah dicatat di atas, kemandirian finansial Paulus dipersoalkan oleh para penentangnya, sebagaimana juga dapat dibaca dalam surat 1 Korintus 9, maka jelaslah bahwa para penentangnya yang disebut-sebut dalam surat 2 Korintus ini adalah kalangan Yahudi-Kristen yang sama, golongan Kefas, atau kalangan yang terkait erat dengan Jemaat Induk Yerusalam. Bahwa mereka adalah kalangan Yahudi-Kristen, sangat jelas dari pertanyaan-pertanyaan retoris Paulus yang dijawabnya sendiri ketika dia menunjuk kepada lawan-lawannya ini dalam 2 Korintus 11:22-23, “Apakah mereka orang Ibrani? Aku juga orang Ibrani! Apakah mereka orang Israel? Aku juga orang Israel! Apakah mereka keturunan Abraham? Aku juga keturunan Abraham! Apakah mereka pelayan Kristus, …, aku lebih lagi!”

Sebutan-sebutan lain yang dibuat Paulus tentang para pengkritiknya yang tidak memberi kesan negatif mencakup sebutan-sebutan “rasul-rasul yang tak ada taranya” atau “rasul-rasul super” (hoi huperlian apostoloi) (11:5; 12:11) atau “orang-orang tertentu yang memujikan diri sendiri” (10:12a). Kalau kita perhatikan, di dalam 1 Korintus 15:8-9, ketika dia membandingkan dirinya dengan “para rasul lain, Yakobus dan Kefas”, Paulus jelas menyebutnya dirinya, seperti sudah dikatakan di atas, sebagai rasul “yang paling hina dari semua rasul bahkan tidak layak disebut rasul.” Dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksudkannya dengan “rasul-rasul super” ini tidaklah lain dari pada para rasul yang berasal dari Gereja Induk Yerusalem. Tetapi Paulus, dengan angkuhnya, menegaskan, bahwa dirinya “tidak kurang dari pada rasul-rasul yang tak ada taranya itu” (11:5), dan bahwa “dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu” (12:11b).

Tetapi, Paulus juga dan terutama sangat merendahkan lawan-lawan Yahudi-Kristennya ini melalui sekian julukan atau label sangat negatif yang dikenakannya kepada mereka. Baginya, mereka adalah “saudara-saudara palsu” (pseudadelfoi) (11:26); “rasul-rasul palsu” (pseudapostoloi), “pekerja-pekerja curang” (ergataidolioi) yang “menyamar sebagai rasul-rasul Kristus” (11:13). Bahkan Paulus sampai begitu keras menyatakan bahwa mereka adalah “pelayan-pelayan setan” (11:14-15). Semua label negatif ini, yang dikenakan Paulus kepada para pengkritiknya yang mempersoalkan status kerasulannya, menempatkan mereka justru sebagai rasul-rasul yang tidak absah! Bagi Paulus, bukan dirinya yang bukan seorang rasul, tetapi mereka! Kalaupun mereka rasul, mereka adalah rasul-rasul yang melayani setan!

Seolah belum cukup dengan pelabelan negatif dan keras semacam itu terhadap lawan-lawannya, Rasul Paulus lebih jauh menyatakan bahwa apa yang mereka beritakan dan sebarkan ke tengah jemaat adalah “Yesus yang lain” (allos Iēsous), “roh yang lain” (heteron pneuma), dan “injil yang lain” (heteron euaggelion) (11:4). Kita telah ketahui, sebutan “injil yang lain” juga dipakai Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia ketika dia menafsirkan isi injil (Yahudi-Kristen) yang diberitakan lawan-lawannya yang datang ke jemaat Galatia (lihat Galatia 1:6-7). Tidak seperti dalam surat Galatia yang memuat sedikit informasi tentang apa yang menjadi isi “injil lain” ini, dalam surat 2 Korintus informasi semacam ini tidak ditemukan. Tentang lawan-lawannya ini, Paulus hanya menyatakan bahwa mereka bermegah karena hal-hal lahiriah (tous en prosōpōi) dan bukan karena hal-hal batiniah (en kardiai) (5:12); tetapi dia tidak menjelaskan apa yang dimaksudkannya dengan “hal-hal lahiriah” ini.

Bisa jadi, “hal-hal lahiriah” yang dimaksudkan Paulus adalah hukum-hukum yang dituliskan pada “loh-loh batu” (en plaksin lithinais), bukan “di dalam hati manusia” (en plaksin kardiais sarkinais) (3:3), hukum-hukum “yang mematikan” (3:6), “hal-hal yang kelihatan (ta blepomena), bukan hal-hal yang tidak kelihatan (ta mē blepomena)” (4:18). Atau “hal-hal lahiriah” ini bisa juga mengacu kepada “penilaian terhadap Kristus menurut ukuran daging (kata sarka)” (5:16), bukan menurut roh, seperti yang dilakukan para saudara Yesus terhadap dirinya semasa dia masih hidup; atau mengacu kepada tindakan “menyucikan diri hanya dari semua pencemaran jasmaniah” (7:1). Di luar semua ini, Paulus, dalam surat 2 Korintus, tidak menulis apapun lainnya perihal “hal-hal lahiriah” ini. Tetapi, kalau kita perhatikan surat Filipi 3:4b, tahulah kita bahwa “hal-hal lahiriah” yang dimaksudkan Paulus adalah darah keyahudian yang mengalir dalam diri para pengkritiknya, bahwa mereka adalah orang Ibrani, orang Israel dan keturunan Abraham (par. 2 Korintus 11:22-23). Jadi, penyebutan tentang “hal-hal lahiriah” ini makin jelas memperlihatkan bahwa para pengkritik Paulus di jemaat Korintus adalah orang-orang Kristen asal Yahudi.

Sebagai suatu kesimpulan, kita dapat menyatakan bahwa ketika Rasul Paulus menulis surat 2 Korintus, para pengkritiknya yang sudah dihadapinya dalam surat 1 Korintus tetap saja menentang dirinya. Para penentangnya ini adalah orang-orang yang menyebut diri “golongan Kefas”, yakni orang-orang Yahudi-Kristen, yang menuntut Paulus untuk membuktikan keabsahan kerasulannya dengan kesediaannya menerima topangan finansial dari jemaat Korintus yang dibangunnya, dan dengan kuasa-kuasa spiritual yang harus didemonstrasikannya dalam tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat. Tuntutan yang kedua ini menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi-Kristen ini mendasarkan keabsahan status kerasulan seseorang pada sebuah perintah Yesus sendiri, seperti dapat ditemukan dalam sebuah catatan dalam Injil Lukas yang menginformasikan bahwa setiap rasul Yesus Kristus yang diutus untuk memberitakan injil harus “menyembuhkan orang-orang sakit” yang ada di kota-kota yang mereka kunjungi (Lukas 10:9). Dalam pandangan mereka, tanda dan mukjizat serta kuasa Allah yang diperlihatkan seseorang adalah bukti-bukti keabsahan kerasulan orang itu.

Filipi 3

Tidak terlalu jauh dari jemaat Korintus, Paulus juga telah mendirikan sebuah jemaat Kristen non-Yahudi di Filipi. Ke dalam jemaat di Filipi ini, kalangan yang menentang Rasul Paulus di Korintus juga masuk. Ketika sang rasul ini sedang mendekam dalam sebuah penjara “karena Kristus” (1:13) (mungkin di Efesus, atau di Roma, atau di Kaesarea), dia menulis surat kepada jemaat di Filipi.

Dalam Filipi 3 kita baca sebuah polemik tajam Rasul Paulus terhadap orang-orang yang dengan keras disebutnya sebagai “anjing-anjing”, “pekerja-pekerja jahat” dan “penyunat-penyunat (palsu)” (3:2). Jemaat dimintanya untuk “berhati-hati” terhadap mereka semua, yang disebutnya sebagai orang-orang yang menaruh kepercayaan terhadap “hal-hal lahiriah.” Pada ayat 4b-6, Paulus menjelaskan apa yang dimaksudkannya dengan “hal-hal lahirah”; maksudnya adalah asal-usul dirinya sebagai seorang Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, dan seorang Farisi, yang disunat pada hari kedelapan, dan pengamal Taurat yang tidak bercacat. Dan dia sangat menaruh kepercayaan pada statusnya sebagai seorang Yahudi (“Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi…”; 3:4b). Tetapi Paulus menegaskan bahwa kalau sebelum mengenal Yesus Kristus status keyahudiannya merupakan suatu keuntungan baginya, namun ketika dia sudah menjadi Kristen “apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus” bahkan dia memandang semua masa lalunya sebagai “sampah” (ayat 7-8).

Dengan demikian, para penentang sang Rasul di jemaat Filipi yang mempercayai “hal-hal lahiriah” adalah juga orang-orang Yahudi-Kristen, orang-orang yang sama, yang juga telah merepotkannya di jemaat Korintus (lihat 2 Korintus 11:21-22). Kalau dalam surat 1 dan 2 Korintus Rasul Paulus tidak menjelaskan apa yang dituntut para lawannya ini untuk dilakukan jemaat, dalam surat Filipi, seperti juga dalam surat Galatia (6:12), dengan eksplisit Paulus menyatakan bahwa mereka menghendaki jemaat Kristen di Filipi menyunatkan diri mereka, sebagai suatu kewajiban yang tak dapat ditawar lagi bagi orang-orang yang telah menerima injil Kristen. Rasul Paulus, meskipun dirinya sendiri sudah disunat, telah membebaskan jemaat Kristen yang dibangunnya dari satu tuntutan Taurat ini. Baginya, sunat yang lebih berharga adalah sunat yang dikerjakan oleh Roh Allah, sunat batiniah, bukan sunat lahiriah (3:3; bdk Kolose 2:10) yang disebutnya sebagai “sunat palsu”.

Penutup

Telah diperlihatkan di atas bahwa baik di jemaat Korintus maupun di jemaat Filipi, yang keduanya didirikan dan dipelihara oleh Rasul Paulus, orang-orang Yahudi-Kristen yang memiliki ikatan dengan Jemaat Induk Yerusalem terus menentang, mengkritik dan menolak keabsahan statusnya sebagai seorang rasul Yesus Kristus. Penentangan dan penolakan ini terjadi karena mereka berpandangan:
  • bahwa Paulus bukanlah seorang saksi mata kehidupan Yesus sehingga tidak patut disebut sebagai rasul;
  • bahwa dia hidup tidak sesuai dengan perintah-perintah Yesus, antara lain perintah untuk mau menerima topangan finansial dari jemaat yang dibangunnya;
  • bahwa dia tidak hidup sejalan dengan cara kehidupan para soko guru Jemaat Induk Yerusalem;
  • bahwa dia tidak memiliki kuasa spiritual sebagai kuasa untuk menyembuhkan dan membuat mukjizat, yang diberikan Yesus kepada murid-muridnya ketika mereka pergi memberitakan injil dari satu kota ke kota lainnya;
  • bahwa dia tidak mewajibkan orang Kristen non-Yahudi untuk menyunatkan diri mereka untuk memenuhi perintah Taurat;
  • bahwa dia tidak menaruh kepercayaan lagi pada “hal-hal lahiriah”, maksudnya pada statusnya yang superior sebagai seorang Yahudi dan pada hal-hal yang ditulis dalam Taurat Musa sebagai aturan-aturan keagamaan yang secara lahiriah harus ditaati.
Terhadap semua penilaian ini, Paulus dengan berbagai argumentasi membela dirinya bahwa dia adalah seorang rasul yang sah antara lain berdasarkan sejumlah fakta:
  • bahwa dia telah “melihat” Yesus;
  • bahwa dia telah berhasil membangun dan menghidupkan jemaat-jemaat Kristen;
  • bahwa dia memiliki kuasa dan Roh Allah yang memampukannya melakukan berbagai macam tanda dan mukjizat yang telah diperlihatkannya di tengah-tengah jemaat;
  • bahwa dia juga dapat berbangga hati dengan status darahnya sebagai seorang Yahudi, meskipun sekarang, ketika dia sudah mengenal Yesus Kristus, kebanggaannya ini tidaklah memiliki arti lagi bahkan merupakan “sampah” baginya.