Saturday, August 15, 2009

Kekristenan Yahudi Ebion menurut Pseudo-Klementin

Pseudo-Klementin (atau: Clementina) adalah serangkaian dokumen atau karya sastra yang menurut jenis sastranya tergolong sebagai sebuah roman atau novel teologis filosofis, yang melalui pengisahan peristiwa-peristiwa yang dialami para karakter di dalamnya gagasan-gagasan teologis dan filosofis disampaikan; dengan demikian, roman religius ini termasuk ke dalam “Tendenz-Romance”, suatu roman fiktif yang disusun dengan suatu tujuan.

Pseudo-Klementin
mencakup tiga dokumen. Dokumen pertama berjudul Rekognisi (Yunani: Anagnōseis), terdiri atas sepuluh buku, aslinya ditulis dalam bahasa Yunani, tetapi yang masih ada adalah naskah dalam bahasa Latin, hasil terjemahan Tyrannius Rufinus dari Aquileia (wafat tahun 410). Dokumen kedua tersedia dalam bahasa Yunani, berjudul Homili, terdiri atas dua puluh buku, dan teks lengkapnya telah dikenal sejak 1853. Dokumen ketiga adalah ringkasan (epitomi) dari Homili yang ke dalamnya ditambahkan bagian-bagian yang berasal dari Surat Klemen kepada Yakobus, dan dari dokumen Martyrium Clemens yang ditulis oleh Simeon Metafrastes, dan sebagainya. Dan ada juga Pseudo-Klementin dalam bahasa Syria, yang berisi dokumen Yunani Rekognisi Buku I-IV dan dokumen Homili Buku X-XIV. Juga terdapat fragmen-fragmen dari Pseudo-Klementin yang ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa Slavonia.


Dinamakan “pseudo-Klementin”, karena dalam dokumen ini Santo Klemen yang dilahirkan di kota Roma menyebut dirinya sendiri (dengan memakai kata ganti “aku”) sebagai penulisnya (lihat Rekognisi Buku I, pasal 1; dan passim), padahal siapa penulis sesungguhnya dari dokumen ini mustahil diketahui. Dengan demikian, Santo Klemen dijadikan penulis gadungan (“pseudo”) dokumen ini (= dokumen pseudonimus).

Dari catatan sejarah, kita tahu Santo Klemen, atau dikenal juga sebagai Santo Klemen dari Roma, atau, dalam bahasa Latin, sebagai Clemens Romanus, adalah Bapak Apostolik pertama dari gereja Kristen perdana, yang menjadi Paus di Roma antara tahun 92 sampai tahun 99, lalu (menurut tradisi dari abad ke-4) mati syahid pada tahun 101 atas perintah Kaisar Trajanus, dengan dirinya dilemparkan ke dalam laut sementara tubuhnya terikat oleh sebuah jangkar (lihat gambar di atas). Satu-satunya tulisan asli buah tangan Santo Klemen adalah surat 1 Klemen, yang ditulisnya sekitar tahun 96 untuk gereja di Korintus, dan merupakan salah satu dokumen Kristen tertua yang ada di luar Perjanjian Baru.


Dalam dokumen Pseudo-Klementin sendiri, Klemen dituturkan sebagai seorang teman seperjalanan Rasul Petrus menuju Roma. Setiap hal yang dikatakan Rasul Petrus di setiap tempat mengenai firman kebenaran dan sang Nabi sejati (=Yesus Kristus; Rekognisi Buku I, pasal 16, 44; dan passim) dan tindakan-tindakan sang Rasul dicatat oleh Klemen (Buku I, pasal 13, 25) untuk nantinya, dalam setiap tahun, diserahkan kepada Yakobus, saudara Yesus (Buku I, pasal 14), sesuai dengan amanat yang disampaikan Yakobus kepada Petrus sendiri (Buku I, pasal 17). Meskipun Klemen, seorang non-Yahudi yang dilahirkan di kota Roma, menjadi teman seperjalanan Rasul Petrus, Klemen tidak diizinkan Rasul Petrus untuk makan semeja dengannya dan dengan orang Yahudi lainnya selama Klemen belum menerima baptisan (Buku I, pasal 19; bdk. Buku II, pasal 70, 72; Buku VII, pasal 29; Homili XIII, pasal 4). Pada waktunya, seperti dicatat dalam Homili Buku XI, pasal 35, Klemen dibaptis oleh Petrus di suatu mata air dekat laut, dalam air yang terus mengalir. Dan, menurut catatan Tertullianus (ca. 160-ca. 220), Santo Klemen ditahbis oleh Rasul Petrus.


Rekognisi
Buku I, pasal 27-72, dipandang (sejak Adolf Hilgenfeld, 1848) sebagai bagian dari dokumen Yahudi-Kristen yang disebut Kerugmata Petrou (“khotbah-khotbah Petrus”), yang menjadi dokumen dasariah (Grundschrift) bagi penulisan Rekognisi dan Homili. Kapan dan di mana dokumen dasariah ini ditulis?


Pseudo-Klementin
menggunakan Injil Matius, Injil Lukas dan Kisah Para Rasul; dengan demikian dokumen ini sudah ditulis pada akhir abad pertama Masehi. Dalam Rekognisi Buku I, pasal 39, terdapat rujukan ke suatu tradisi yang mengetahui bahwa Gereja Induk Yerusalem diselamatkan dan dipelihara dari kehancuran akibat Perang Yahudi I melawan Roma (66-70) melalui penyingkiran ke Pella (sebelah timur Sungai Yordan, di kawasan Dekapolis) sebelum perang meletus, dan ke suatu tradisi yang mengenal edik Hadrianus (diundangkan tahun 135) yang mengharuskan orang Yahudi meninggalkan Palestina setelah Perang Yahudi II (132-135) yang dipimpin Simon Bar Kokhba dan Akiba ben Yusuf berakhir. Dengan demikian, dokumen dasariah Pseudo-Klementin pasti ditulis sesudah tahun 135. Eusebius, dalam karyanya Sejarah Gereja (III, xxxviii), yang ditulis pada tahun 325, menyebut sebuah dokumen yang ditulis oleh Klemen, yang berisi dialog antara Petrus dan Appion. Dalam karyanya yang terpenting, yang berjudul Panarion, yang juga dikenal sebagai Adversus Haereses (Latin; Inggris: “Against Heresies”), yang ditulis dalam bahasa Yunani Koine dari tahun 374 sampai tahun 377, Epifanius dari Salamis (wafat 403) menyatakan bahwa Pseudo-Klementin digunakan oleh orang Ebion sekitar tahun 360 (Panarion xxx.15). Selain itu, dalam buku yang sama (xxx.16), Epifanius juga menunjuk ke suatu dokumen yang disebut Anabathmoi Yakobou yang memiliki sejumlah kesejajaran tema dengan Rekognisi Buku I, pasal 33-71. Keterangan-keterangan ini menunjukkan bahwa Pseudo-Klementin, khususnya sumber dasariah yang digunakan penulisnya, ditulis antara tahun 100 (terminus a quo) dan abad keempat Masehi (terminus ad quem).


Di atas sudah dicatat bahwa Rekognisi Buku I, pasal 39, memuat suatu tradisi tentang pengungsian Gereja Yerusalem ke Pella sebelum pecah Perang Yahudi I melawan Roma. Catatan tentang penyingkiran ke Pella ini terdapat dalam Eusebius, Sejarah Gereja 3.5.3; dalam Epifanius, Panarion 29.7.7; dan Panarion 30.2.7; dan Risalah mengenai Berat dan Ukuran 15. Selanjutnya, Eusebius dalam karyanya, Sejarah Gereja 4.6.3, memakai karya Aristo dari Pella, Dialog antara Jason dan Papiskus (ditulis pada pertengahan abad ke-2), sebagai sumber informasi baginya mengenai perang Bar Kokhba. Sangat boleh jadi, Aristo dalam karyanya yang lain juga menuturkan tentang Perang Yahudi I, dan karya Aristo yang lainnya ini dipakai oleh Eusebius ketika dia mengacu ke tradisi pengungsian ke Pella (dalam karyanya, Sejarah Gereja 3.5.3). Karena tradisi ini mungkin sekali diteruskan hanya oleh Aristo dari Pella, maka dapat disarankan bahwa Pella, yang terletak di sebelah timur Sungai Yordan, adalah tempat ditulisnya dokumen dasariah Pseudo-Klementin.


Secara keseluruhan, dokumen Pseudo-Klementin adalah suatu dokumen yang berasal dari kekristenan Yahudi Ebion. Indikasi yang jelas tentang hal ini adalah posisi yang diberikan kepada Yakobus si Adil, saudara Yesus, sebagai uskup Gereja Yerusalem, uskup dari segala uskup. Dalam salam pembuka Surat Petrus kepada Yakobus (yang ditempatkan pada awal Homili), Yakobus disebut sebagai “Tuhan dan Uskup gereja yang kudus.” Indikasi lainnya adalah pandangan dokumen ini yang sangat negatif terhadap Paulus, yang telah memberitakan injil kepada bangsa-bangsa non-Yahudi sebelum Rasul Petrus melakukan hal yang sama. Yang juga penting untuk diperhatikan adalah bahwa pernyataan-pernyataan doktrinal dalam dokumen ini, meskipun tidak homogen, bercorak Yudaistik, bahkan ketika pernyataan-pernyataan ini bercampur dengan pemikiran spekulatif gnostik yang berasal dari kalangan non-Yahudi. Lebih khusus lagi, dokumen Pseudo-Klementin dikaitkan dengan suatu sekte Ebion yang dinamakan Elkesaites.


Untuk menemukan pandangan-pandangan dasariah kekristenan Yahudi Ebion dalam dokumen Pseudo-Klementin ini, Rekognisi Buku I, pasal 27-72, yang merupakan dokumen dasariah bagi Rekognisi dan Homili, perlu diperhatikan dengan saksama. Berikut ini uraian tentang teologi Kristen-Yahudi yang tercermin terutama dalam Rekognisi Buku I; gambaran tentang kondisi-kondisi nyata yang dialami komunitas pemakai dokumen Pseudo-Klementin juga akan diberikan.


1) Monoteisme


Umat Kristen-Yahudi yang memakai dokumen Pseudo-Klementin, khususnya dokumen dasariah Kerugmata Petrou, menganut monoteisme: hanya ada satu Allah, dan Tuhan, dan sang Bapa, sang Khalik yang baik, adil dan benar, pengasih, penyayang, panjang sabar, pemelihara dan pemurah (Rekognisi Buku I, pasal 7, 25; Homili Buku II, pasal 12, 15, 16, 40, 45; Homili Buku XI, pasal 7; Buku XVIII, pasal 22), dan, bagi mereka, hanya Allah satu-satunya yang harus disembah, dan orang Yahudi dilarang membuat gambar atau patung apapun untuk disembah (Rekognisi, Buku I, pasal 35). Allah YME ini tidak kelihatan, tetapi gambar-Nya terdapat dalam diri manusia sebagai “gambar Allah” (Homili Buku XI, pasal 4); dan barangsiapa menyembah Allah ini, orang itu akan melakukan perintah-perintah Taurat (Homili Buku XI, pasal 16) dan mengakui Yesus sebagai wahyu Allah yang telah Allah berikan kepada orang-orang yang layak menerimanya (Homili Buku XVIII, pasal 13, 14).


2) Kristologi


a) Yesus sang Nabi sejati, serupa dengan Nabi Musa

Yesus adalah sang Nabi sejati, pemberita kebenaran, yang telah dinubuatkan oleh Musa sebagai nabi yang “serupa dengan dirinya”, yang diangkat dari antara umat Israel (lihat Ulangan 18:15; Kisah Para Rasul 3:22,23) (Rekognisi Buku I, pasal 56, 57), tetapi sebagai sang Kristus dia “lebih besar” dari Musa (Buku I, pasal 59), dan juga lebih besar dari Salomo (Homili Buku XI, pasal 33). Dia disebut oleh Allah sebagai Anak Allah pada waktu dia dibaptiskan (Rekognisi Buku I, pasal 48), dan di dalam dirinya Roh Allah berdiam (Homili, Buku II, pasal 10).
Untuk membuktikan bahwa sang Nabi sejati ini “serupa dengan Nabi Musa” (Ulangan 18:15), dia mengikuti pola kepemimpinan Musa (Bilangan 11:16) dengan mengangkat tujuh puluh dua rasul lain (Lukas 10) di samping dua belas rasul utama (Matius 10) (Rekognisi Buku I, pasal 40). Begitu juga, sama seperti Musa membuat mukjizat dan menyembuhkan di Mesir, sang Nabi sejati juga membuat banyak mukjizat dan memberitakan kehidupan kekal (Buku I, pasal 41, 57). Tetapi semua ini tidak berhasil membuat orang percaya kepadanya; malah akhirnya orang jahat menyalibkan sang Nabi sejati ini. Ketika dia menderita karena penyaliban, seluruh dunia menderita bersamanya: matahari menjadi gelap, gunung-gunung berguncang terkoyak, kubur-kubur terbuka, dan tirai Bait Allah terbelah dua (Matius 27:45, 51, 52) (Buku I, pasal 41; Homili Buku XI, pasal 20). Setelah kematiannya, sang Nabi sejati bangkit kembali dari antara orang mati (Rekognisi Buku I, pasal 42, 53).

b) Yesus, sang Kristus yang kekal


Yesus diakui sebagai “sang Kristus yang kekal” (Rekognisi Buku I, pasal 43, 44, 63; bdk. Yohanes 12:34), yang berdiam “di tempat yang tidak kelihatan” (Buku I, pasal 33), dan telah menampakkan diri kepada Abraham dan Musa (pasal 33, 34, 36), dan telah menjatuhkan sepuluh tulah kepada bangsa Mesir (pasal 34). Dia juga sudah dikenal oleh Adam, Henokh, Nuh, Ishak, Yakub (Homili Buku XVIII, pasal 13). Dia disebut sebagai sang Kristus karena Allah telah mengurapinya dengan minyak rohani yang diambil dari kayu pohon kehidupan (Rekognisi Buku I, pasal 45).


c) Yesus berpraada dan telah menjadi manusia yang tak berdosa


Dengan memiliki kepraadaan/praeksistensi (Rekognisi Buku I, pasal 33, 34, 52), Yesus adalah permulaan dari segala sesuatu, “telah ada dari semula dan akan selalu ada” (Buku I, pasal 52; Homili Buku XVIII, pasal 13). Dia “senantiasa mengetahui segala hal, hal-hal di masa lampau, hal-hal di masa kini, dan hal-hal yang akan datang” (Homili Buku II, pasal 6, 10, 50), dan hanya dia yang mengetahui kebenaran (Homili Buku II, pasal 12). Dia “telah menjadi manusia”, “manusia utama dan teragung di atas manusia lainnya” (Rekognisi Buku I, pasal 45; Homili Buku II, pasal 17), penuh kasih karunia, tidak berdosa dan satu-satunya orang yang kepadanya dipercayakan kebenaran (Homili, Buku II, pasal 6).


d) Dua kedatangan Kristus


Sebagai sang Nabi sejati yang “serupa dengan Musa”, kedatangan Yesus Kristus yang pertama kali sudah diprediksi oleh Musa, dengan mengambil wujud kehidupan yang bersahaja dan rendah, yang kemudian dihakimi oleh dunia ini lalu dibunuh. Tetapi pada kedatangannya yang kedua kali, dia akan datang dengan segala kemuliaannya dan akan menjadi sang Hakim dunia pada hari penghakiman dan akan menghukum orang jahat, tetapi akan mengambil kaum mukmin untuk menerima bagian dalam kerajaannya (Rekognisi Buku I, pasal 49; juga pasal 69; Homili Buku II, pasal 46; Homili Buku XI, pasal 32). Semua orang benar, dan yang berkehendak untuk menyenangkannya, bagi mereka tersedia hal-hal baik yang tak terkatakan dan kota Yerusalem surgawi sebagai tempat tinggal mereka dalam suatu kehidupan yang tidak bisa binasa. Sedangkan, bagi orang yang tidak benar dan telah menjalani kehidupan yang jahat tersedia pembalasan yang setimpal dan keras (Rekognisi Buku I, pasal 51) dalam kehidupan di neraka (Rekognisi Buku I, pasal 52; Homili Buku II, pasal 13).


3) Kedudukan Abraham


Bangsa Yahudi adalah keturunan Abraham (Rekognisi Buku I, pasal 32); Yesus Kristus sebagai sang Nabi sejati telah menampakkan diri kepada Abraham dan mengajarkannya pengetahuan tentang keilahian, asal-muasal dan akhir dunia, keabadian jiwa, cara hidup yang diperkenan Allah, kebangkitan orang mati, penghakiman akhir yang adil, pahala bagi orang baik dan penghukuman bagi orang jahat (Buku I, pasal 33). Ketika Abraham belum dicerahkan oleh sang Nabi sejati, Abraham telah memiliki dua orang putra, masing-masing bernama Ismael (darinya berasal bangsa-bangsa barbar) dan Heliesdros (darinya muncul bangsa Persia, bangsa Brakhman, bangsa-bangsa yang berdiam di Arabia, di Mesir, dan juga di India) (Buku I, pasal 33); dan ketika Abraham sudah dicerahkan, baginya dari Sara lahir Ishak, yang darinya lahir Yakub, dan dari Yakub dua belas Bapak Leluhur Israel, dan dari dua belas ini lahir tujuh puluh dua (Buku I, pasal 34).


4) Ritual pemberian kurban


Karena Musa melihat kebiasaan jahat bangsa Mesir untuk mempersembahkan kurban kepada berhala-berhala telah tertanam sangat dalam di dalam kesadaran bangsa Yahudi yang pernah diperbudak di Mesir, dan akar dari kejahatan ini tidak dapat dicabut dari batin mereka, maka Musa mengizinkan bangsa Yahudi mempersembahkan kurban (binatang) sebagai suatu kelonggaran, dengan satu syarat, yakni kurban boleh dipersembahkan hanya kepada Allah saja (Rekognisi Buku I, pasal 36). Dengan kelonggaran ini, dikatakan, Musa dapat memangkas separuh dari akar kejahatan ini; dan separuhnya lagi akan dicabut di masa depan oleh Nabi yang “seperti Musa” yang dibangkitkan Tuhan Allah dari tengah umat Israel (Buku I, pasal 36).


5) Bait Allah tempat mempersembahkan kurban akhirnya dihancurkan


Musa telah menentukan suatu tempat suci untuk bangsa Israel dapat dengan dibenarkan oleh hukum Allah mempersembahkan kurban kepada Allah (lihat Ulangan 12:11; 2 Tawarikh 7:12). Tetapi, pada saatnya yang tepat, sejalan dengan ajaran sang Nabi sejati bahwa yang terutama Allah kehendaki bukanlah persembahan kurban melainkan belas kasih (Hosea 6:6; Matius 9:13; 12:7), tempat yang dipilih Allah sebagai tempat yang cocok untuk memberi kurban kepada Allah adalah hikmat sang Nabi sejati. Sedangkan tempat yang ditetapkan Musa, dan yang dibangun oleh Salomo sebagai rumah persembahan (2 Tawarikh 7:12), yang dipilih Allah hanya untuk sementara dan seringkali diserbu dan dijarah bangsa-bangsa asing yang bermusuhan, akhirnya seluruhnya dihancurkan (di akhir Perang Yahudi I vs Roma, tahun 66-70; Markus 13:2; Matius 24:2; Lukas 19:44) (Rekognisi Buku I, pasal 37).

Hancurnya Bait Allah di Yerusalem dan berdirinya “Pembinasa keji” di tempat kudus (Matius 24:15; bdk. Daniel 9:27) adalah tanda bahwa ritual kurban sudah berakhir (Rekognisi Buku I, pasal 64).
Sebelum sang Nabi sejati datang, Nabi yang sekaligus menolak kurban dan Bait Suci, tempat suci untuk mempersembahkan kurban itu sering dijarah dan dibumihanguskan, dan bangsa Yahudi dibuang ke tengah-tengah bangsa-bangsa asing, kemudian dipulangkan kembali ketika mereka memohon belas kasih Allah. Semua bencana ini haruslah menjadi suatu pelajaran berat dan berharga bagi bangsa Yahudi bahwa suatu bangsa yang mempersembahkan kurban-kurban akan jatuh ke tangan bangsa-bangsa lain dan diangkut keluar dari negeri asal mereka, tetapi mereka yang melakukan keadilan dan belas kasih tanpa memberi kurban-kurban dibebaskan dari penawanan dan dipulihkan kembali ke tanah asal mereka (Rekognisi Buku I, pasal 37). Jadi, setelah sang Nabi sejati datang, pemberian kurban akan malah mendatangkan bencana, dan bukan mendatangkan keselamatan dan pengampunan dosa.

6) Ritual baptisan sebagai pengganti ritual kurban


Sang Nabi sejati dalam nama Allah telah memberi peringatan kepada bangsa Yahudi untuk berhenti memberi kurban-kurban. Sebagai ganti ritual kurban untuk pengampunan dosa, sang Nabi sejati menetapkan baptisan dengan air agar, melalui ritual pengganti ini yang dijalankan dengan memanggil namanya (bahkan juga dengan memanggil tiga nama: sang Bapa, sang Putra, dan Roh Kudus; lihat Homili Buku XI, pasal 26; Rekognisi Buku I, pasal 69, 63), segala dosa orang diampuni pada masa kini, dan untuk selanjutnya di masa depan dapat menjalani suatu kehidupan yang sempurna dan tidak binasa, karena telah dimurnikan bukan oleh darah binatang, melainkan melalui pemurnian oleh hikmat Allah (Rekognisi Buku I, pasal 39).

Melalui kasih karunia ilahi yang bekerja pada waktu ritual pembaptisan dijalankan, Yesus Kristus memadamkan api yang dinyalakan imam-imam untuk membakar kurban (Buku I, pasal 48). Kedatangan sang Kristus telah meniadakan ritual kurban dan sebagai gantinya berlaku kasih karunia ilahi yang diperoleh via ritual pembaptisan (Buku I, pasal 54). Dengan menerima baptisan dalam nama Yesus, dan merayakan ekaristi, orang akan menerima pengampunan dosa, “dilahirkan kembali”, masuk ke dalam kerajaan surga, menerima keselamatan dan tidak akan mengalami bahaya pada waktu orang mati dibangkitkan (Rekognisi Buku I, pasal 55, 63, 69; Homili Buku XI, pasal 26, 27).


Setiap orang yang percaya kepada sang Nabi sejati ini, dan telah dibaptis dalam namanya, tetap terjaga sehingga tidak akan mengalami luka-luka perang yang menghancurkan (yakni, Perang Yahudi I melawan Roma, tahun 66-70; teks ini mengacu ke tradisi penyingkiran ke Pella menjelang pecahnya perang), yang menimpa bangsa Yahudi yang tidak percaya dan juga menimpa tempat suci mereka. Sedangkan orang yang tidak percaya akan didesak keluar dari tempat dan kerajaan mereka (mengacu ke edik Hadrianus, tahun 135) dan melalui semua bencana ini mereka, berlawanan dengan kehendak mereka sendiri, akan dapat memahami dan menaati kehendak Allah (Rekognisi Buku I, pasal 39).


7) Komunitas Yahudi-Kristen di sekitar Yesus dan Yakobus


Seperti sudah dikatakan di atas, Yesus Kristus sebagai sang Nabi sejati yang “seperti Musa” telah mengikuti pola kepemimpinan Musa dengan mengangkat tujuh puluh dua rasul lain, di samping dua belas rasul utama (sejalan dengan jumlah 12 bulan dalam setahun kalender matahari; lihat Homili Buku II, pasal 23). Dicatat dalam Rekognisi Buku I, pasal 43, bahwa setelah tujuh tahun dari saat kesengsaraan dan kematian Yesus, Gereja Tuhan yang dibentuk di Yerusalem berkembang pesat dan berlipatganda, dengan dipimpin secara adil oleh Uskup Yakobus saudara Yesus, yang ditahbis menjadi uskup oleh Yesus sendiri (lihat juga Buku I, pasal 66, 68, 70, 72). Ajaran dan khotbah Yakobus, saudara Yesus, dipandang sebagai dasar doktrinal Gereja Induk Yerusalem; dan jemaah dilarang menerima rasul atau guru atau nabi lain yang tidak memiliki khotbah yang dapat dengan akurat dibandingkan dan disejajarkan dengan khotbah Yakobus sebagai patokan (Homili Buku XI, pasal 35; lihat juga Rekognisi Buku IV, pasal 34-35).

8) Posisi bangsa-bangsa non-Yahudi

Menurut tradisi nenek moyang Yahudi, sang Kristus harus diterima bangsa Yahudi, yang kepada mereka dia telah datang, dan mereka harus percaya kepadanya yang diharapkan dan dinantikan untuk memberi keselamatan kepada umat; sedangkan bangsa-bangsa non-Yahudi akan memusuhinya sebab tidak ada janji atau kabar mengenai dirinya yang telah disampaikan kepada mereka, dan bahkan namanya tidak dikenal oleh mereka. Tetapi para nabi mengatakan bahwa sang Kristus haruslah menjadi pengharapan bangsa-bangsa non-Yahudi, bukan pengharapan bangsa Yahudi (lihat Yesaya 49:1; 66:19; juga Kejadian 49:10). Itulah yang terjadi: ketika Yesus Kristus datang untuk kali pertama, bangsa Yahudi menolaknya; sedangkan orang non-Yahudi yang belum pernah mendengar apa-apa tentang dirinya percaya bahwa dia telah datang dan berharap dia akan datang kembali, dan dengan demikian mereka semua menjadi “orang yang benar”, yang berhak mendapatkan tempat tinggal di “kota Yerusalem surgawi” (Rekognisi Buku I, pasal 50 dan 51). Dengan demikian, menyangkut kedatangannya yang pertama, yang mengambil rupa seorang manusia sederhana, yang bernama Yesus, orang Yahudi telah membuat kesalahan dengan menolaknya (Buku I, pasal 50). Kehancuran Bait Allah di Yerusalem (tahun 70) adalah titik awal diberitakannya Injil Yesus Kristus kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi di luar Palestina, sebagai suatu testimoni terhadap ketidakpercayaan bangsa Yahudi terhadap sang Nabi sejati, sehingga ketidakpercayaan mereka dapat dinilai dan dihakimi oleh iman bangsa-bangsa lain (Rekognisi Buku I, pasal 64), dan juga sebagai suatu upaya rahasia meluruskan para bidah yang akan bermunculan (Homili Buku II, pasal 17).


9) Posisi Rasul Paulus


Pseudo-Klementin
mengacu kepada Rasul Paulus secara tersamar sebagai sosok yang bernama Simon (bukan Simon Magus, seorang Samaria penyihir yang namanya juga muncul dalam dokumen ini), yang mendahului Petrus dalam misi pekabaran injil kepada bangsa-bangsa non-Yahudi (Homili Buku II, pasal 17, 18). Sosok Simon ini digambarkan dalam dokumen Pseudo-Klementin dengan sangat negatif, antara lain sebagai kegelapan, kebodohan dan penyakit serta sebagai seorang nabi palsu, penipu, dan penabur kesalahan yang berkhotbah dengan dalih menyebar kebenaran di dalam nama Tuhan, padahal dia sebenarnya diutus oleh Iblis, si jahat, yang telah berbantahan dengan Yesus selama empat puluh hari (Homili Buku II, pasal 17; Buku XI, pasal 35). Ditegaskan dalam dokumen ini, orang banyak telah tersesat memercayai, mengasihi dan menerimanya meskipun sang Rasul ini adalah seorang pembenci, seorang musuh, api yang membakar dan pembawa kematian (Homili Buku II, pasal 18), yang “telah menerima penugasan dari Kayafas, Imam Besar, untuk menangkap semua orang yang percaya kepada Yesus, dan harus pergi ke Damaskus dengan membawa serta surat-suratnya, dan di sana juga, dengan bantuan orang-orang yang tidak percaya, dia harus membuat malapetaka di antara kaum mukmin” (Rekognisi Buku I, pasal 71). Ketika Klemen bertanya kepada Petrus, siapa sebenarnya figur Simon ini, Petrus menjawab, “Jika engkau ingin tahu, engkau mampu untuk mengetahuinya dari orang-orang yang dari mereka juga aku telah mendapatkan informasi yang akurat mengenai segala hal tentang dirinya” (Homili Buku II, pasal 18).


Ucapan panjang Rasul Petrus dalam Homili Buku XVII, pasal 19, 1-7, ditujukan dengan nada sengit kepada Rasul Paulus. Seperti dapat dibaca dalam 1 Korintus 15:8 dan 2 Korintus 12:1, Paulus mengklaim telah melihat “penampakan” Yesus, dan dari Yesus dia juga menerima “penglihatan dan wahyu dari Tuhan.” Tetapi, dalam pandangan Petrus, penglihatan atau wahyu yang diterima melalui mimpi tidak menjamin bahwa si penerima benar-benar menerimanya dari Allah; sebab bisa terjadi penglihatan atau wahyu itu berasal dari roh pendusta atau roh jahat. Ditulis dalam Homili Buku XVII, pasal 15, “Tidaklah pasti apakah orang yang menerima penglihatan melihat sebuah mimpi yang dikirim oleh Allah.” Begitu juga, orang yang melihat penampakan Yesus dalam sebuah penglihatan atau dalam sebuah mimpi berada dalam ketidakpastian dan karena itu dia tidak berhak mengajar; hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan orang yang pernah secara jasmaniah berada bersama-sama Yesus, bercakap-cakap dengannya dan menerima pengajaran langsung darinya. Hanya para saksi matalah yang berhak menjadi rasul-rasul Yesus Kristus dan pemberita-pemberita injil. Dengan ukuran ini, jelas Paulus tidak berhak menyebut dirinya rasul. Bagi Petrus, kalau betul Yesus telah menampakkan diri kepada Paulus lewat sebuah penglihatan, ini berarti Yesus murka kepada Paulus seperti kepada seorang musuh. Petrus juga sangat meragukan kebenaran pernyataan Paulus bahwa Yesus telah menampakkan diri kepadanya, sebab apa yang dipikirkan dan diajarkan Paulus, menurut penilaian Petrus, bertentangan dengan pengajaran Yesus sendiri. Lagi, kata Petrus, jika betul Yesus telah mengunjungi Paulus dan mengajarnya dan dengan demikian menjadikannya seorang rasul, seharusnya Paulus mencintai rasul-rasul lainnya dan tidak bertengkar dengan Petrus, dan mau menerima pengajaran dari para rasul lainnya tentang hal-hal yang mereka telah terima dari Yesus serta mau bekerja sama dengan mereka. Dalam pasal II dari Surat Petrus kepada Yakobus (yang mengawali Homili), Rasul Petrus menyatakan dengan keras bahwa Paulus adalah musuhnya, yang memberitakan ajaran yang bodoh dan di luar Taurat.


Meskipun gaya khotbah dan perlakuan keras Rasul Petrus terhadap Paulus dalam Homili Buku XVII di atas kelihatan autentik, namun tradisi tentang perbantahan yang terjadi di Laodikea ini berasal paling telat dari abad kedua, dan juga tidak dapat secara langsung dikaitkan pada lawan-lawan Paulus. Selain itu, historisitas perbantahan ini juga diragukan, mengingat Rasul Petrus relatif dekat dengan Paulus. Lain halnya dengan Yakobus si Adil, atau dengan orang-orang di sekitarnya, yang memang berkonfrontasi tajam dengan Rasul Paulus. Meskipun demikian, kita dapat dibenarkan jika beranggapan bahwa dalam Pseudo-Klementin, argumen-argumen lama dari orang Kristen Yahudi di Yerusalem yang ditujukan kepada Paulus telah dipakai kembali dan dipelihara.



Sumber-sumber


(1) Lüdemann, Gerd, Opposition to Paul in Jewish Christianity (ET by M. Eugene Boring; Minneapolis: Fortress Press, 1989) 169-194.

(2) idem, Heretics: The Other Side of Early Christianity (ET by John Bowden; Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press, 1996) 57-60.

(3) Ehrman, Bart, Lost Scriptures: Books that Did Not Make It into the New Testament (Oxford, New York: Oxford University Press, 2003) 195-200.

(4) Wikipedia, the free encyclopedia, “Clementine Literature” (http://en.wikipedia.org/wiki/Clementine_Literature).

(5) Christian Classics Ethereal Library, “The Clementine Literature” (http://www.ccel.org/ccel/schaff/anf08.vi.html).