Tuesday, July 14, 2009

Yesus Berjalan di atas Air: Betulkah?

Selain itu, klaim bahwa Yesus itu Allah sering membuat orang Kristen mengabaikan suatu fakta yang sudah sangat pasti bahwa Yesus dari Nazaret adalah seorang manusia seperti kita yang memiliki tubuh jasmaniah yang kongkret, yang dapat disentuh dan memiliki berat, yang dapat dipaku pada kayu salib dan mengeluarkan darah lalu mati. 
ioanes rakhmat

Pengantar

Segala sesuatu yang ada dan terjadi dalam alam harus bisa dijelaskan oleh sains (yang dihasilkan oleh akal budi yang digunakan dengan kritis dan konsisten, melalui metode observasi dan eksperimentasi) sebagai sesuatu yang sejalan dengan hukum-hukum alam (the laws of nature atau natural laws), meskipun sains pada masa kini belum bisa menjelaskan seluruh jalannya hukum-hukum alam. 

Jika ada suatu fenomena alamiah yang tidak bisa dijelaskan oleh sains pada masa kini, tidak berarti bahwa fenomena ini terjadi karena sebab-sebab supra-alamiah (misalnya karena campur tangan Allah atau campur tangan dewa-dewi) dan karenanya disebut sebagai mukjizat, melainkan berarti bahwa sains pada masa kini belum bisa menjelaskannya dan terbuka kemungkinan untuk sains di masa depan bisa menjelaskannya. Sains pada dasarnya tidak akan membiarkan hal apapun tanpa penjelasan ilmiah.

Jika kepercayaan pada adanya Allah dipertahankan, maka harus dikatakan bahwa Allah berkarya melalui dan di dalam hukum-hukum alam, dan tidak menentang atau melawan hukum-hukum alam. Lebih jauh bahkan dapat ditegaskan bahwa hukum-hukum alam itu sendiri adalah kehendak Allah yang paling langsung dan paling jelas dapat diketahui manusia dalam dunia alam. 

Beberapa abad lalu, Baruch de Spinoza (24 November 1632 – 21 Februari 1677) sudah berpikir demikian ketika dia menyatakan Deus, sive Natura, Allah atau Alam, maksudnya: Allah adalah alam, atau bahwa hukum-hukum alam itu adalah Allah sendiri. Michio Kaku, seorang kosmologiwan masa kini yang kondang, juga mengaku bisa menerima keberadaan Allah, tetapi Allahnya bukanlah Allahnya tiga agama monoteistik (Yudaisme, Kristen, dan Islam), melainkan Allahnya Spinoza!

Dengan demikian, jika ada suatu laporan apapun bahwa telah terjadi sesuatu yang menurut sains selamanya tidak akan mungkin terjadi secara alamiah di Bumi atau di alam semesta karena melanggar hukum-hukum alam, maka laporan ini tidak boleh diperlakukan sebagai suatu laporan tentang sesuatu yang faktual empiris alamiah sungguh terjadi dalam dunia.

Laporan semacam ini harus dilihat entah sebagai suatu laporan palsu yang direkayasa untuk melayani kepentingan-kepentingan insani tertentu, atau sebagai suatu laporan yang memang harus dipahami bukan sebagai suatu laporan faktual tentang suatu kejadian historis, tetapi sebagai suatu laporan atau kisah teologis (= mitos) yang memang ditemukan dalam tulisan-tulisan keagamaan dari berbagai zaman di tempat yang berbeda-beda.



Konon Yesus bisa berjalan di atas air karena dia
memiliki ilmu meringankan tubuh. Jika demikian, mengapa
dia tidak bergerak melayang di muka Bumi ketika berangkat ke Yerusalem,
tetapi berjalan kaki dan menunggang seekor keledai?

Laporan atau kisah teologis bertujuan bukan untuk melaporkan suatu kejadian historis dalam dunia alamiah manusia, tetapi bermaksud menyampaikan kebenaran-kebenaran lain yang berada dalam tatanan nilai-nilai, misalnya untuk menyampaikan ajaran-ajaran moral tentang hal yang baik dan hal yang jahat, hal yang benar dan hal yang salah, dan seterusnya, atau untuk menimbulkan efek dan respons pada emosi dan perilaku manusia terhadap sesuatu atau terhadap suatu figur insani tertentu yang menjadi objek-objek devosional/penyembahan keagamaan.

Sebagai contoh, ada sebuah tayangan audio-visual (lihat di sini http://youtu.be/8OtzHpiLsFs) yang menampilkan Dedy Corbuzier (DC), seorang mentalist Indonesia, berjalan di atas air sementara kedua tangannya menggenggam sebuah handycam di sebuah kolam renang di Jakarta. Dalam sebuah tayangan lain, DC malah, seperti spiderman, berjalan ke atas pada sebuah dinding tembok dari sebuah bangunan tinggi dengan garis tubuhnya membentuk sudut 90 derajat dengan garis vertikal tembok. 


Menurut sains, berdasarkan hukum-hukum alam dan hukum-hukum fisika, dalam kondisi normal alamiah manusia manapun di Bumi ini tidak bisa berjalan di atas air yang dalam (kecuali di atas air yang kedalamannya hanya 10-20 cm) sebab massa jenis tubuh normal alamiah manusia lebih besar dari massa jenis air, dan juga tidak bisa berjalan normal alamiah ke atas pada dinding tembok sebab di Bumi ini secara alamiah bekerja gaya gravitasi Bumi yang akan menariknya jatuh ke bawah, seperti sebuah apel akan pasti jatuh ke bawah jika apel ini terlepas dari ranting pohon apel.

Jika DC betul-betul berjalan di atas air kolam renang yang dalam dan gambar acting-nya ini dapat secara objektif diambil oleh sebuah kamera, DC sangat boleh jadi telah berjalan (dalam dugaan saya semula) di atas sambungan balok-balok es batu yang panjang dan cukup besar yang telah disiapkan sebelumnya, yang mengapung di atas air kolam renang dan tidak bisa tertangkap oleh penglihatan biasa. 


Atau, ini yang sudah dipastikan, DC berjalan di atas tiang-tiang balok kaca yang disebut plexiglass, yang dipasang tegak lurus dengan dasarnya menyentuh dasar kolam renang. Plexiglass tidak bisa dilihat oleh mata biasa, tetapi dapat ditangkap oleh kamera khusus. 

Atau, tayangan DC berjalan di atas air atau berjalan ke atas pada dinding tembok semuanya adalah rekayasa teknologi canggih pembuatan film. 

Seorang lagi, yang telah memperdaya publik, adalah Criss Angel. Si penipu ini diambil gambarnya sedang berjalan di atas air sebuah kolam renang, tanpa membawa handycam, dengan sangat berhati-hati, dan berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Dia dikelilingi gadis-gadis cantik yang dibayar. Sudah disingkap bahwa Criss bukan berjalan di atas air, tetapi di atas plexiglass. Lihat tayangan videonya dan analisisnya di youtube ini http://youtu.be/nTE3WmMnovY.

Kembali ke DC. Tujuan tayangan-tayangan tentang DC ini tidak lain adalah untuk membangun sebuah citra DC, bahwa DC adalah seorang superman atau seorang spiderman kebangsaan Indonesia, bangsa yang merindukan seorang superman benar-benar dilahirkan untuk mengangkat citra bangsa ini di mata dunia. Citra semacam ini dibangun oleh banyak kalangan serebritas di seluruh dunia, bagaimana pun juga caranya, termasuk dengan cara menipu atau memperdaya masyarakat (yang lugu) melalui teknologi canggih sinematografi atau melalui trik-trik material dan mental lainnya. Yang tak bisa saya pahami adalah pendapat sekian pendeta yang disampaikan langsung kepada saya, bahwa DC memang sungguh-sungguh berjalan di atas air, bukan sebuah acting rekayasa, dan apa yang telah dilakukan DC ini, tegas para pendeta itu, membenarkan kisah-kisah injil Perjanjian Baru tentang Yesus berjalan di atas air! Walah, walah, argumen mereka kok jadi begitu? Kepercayaan pada mukjizat Yesus dipakai oleh mereka untuk membenarkan acting DC, dan sebaliknya juga.

 

Apakah Yesus betulan berjalan di atas air yang dalam?

Dalam Injil Markus 6:45-52 (paralel Matius 14:22-33; Yohanes 6:16-21) dikisahkan bahwa Yesus berjalan di atas air Danau Galilea (atau Danau Tiberias). Kita bertanya: Apakah Yesus bisa betulan berjalan di atas air danau yang dalam? Jawabnya: Yesus secara alamiah tidak bisa berjalan di atas air di tengah Danau Galilea yang dalam, karena massa jenis tubuh Yesus lebih besar dari massa jenis air danau. Dan pasti, Yesus juga tidak bisa berjalan melayang di atas muka air danau itu, sebab Yesus memiliki tubuh yang memiliki berat, dan dia bukan roh atau angin atau hantu tanpa tubuh. Ini adalah jawaban berdasarkan pandangan saintifik.

Orang Kristen, karena kesalehan dan devosi mereka pada Yesus, umumnya akan berkeras menyatakan bahwa Yesus pasti bisa berjalan di atas air karena dia adalah Allah yang sanggup melakukan mukjizat apapun, yang melanggar hukum-hukum alam, dan bahwa Yesus pasti bisa berjalan di atas air karena Alkitab melaporkannya demikian!

Hal apakah Yesus adalah Allah atau bukan, bergantung pada keyakinan masing-masing orang; jadi klaim teologis ini bersifat subjektif doktrinal. Selain itu, klaim bahwa Yesus itu Allah sering membuat orang Kristen mengabaikan suatu fakta yang sudah sangat pasti bahwa Yesus dari Nazaret adalah seorang manusia seperti kita yang memiliki tubuh jasmaniah yang kongkret, yang dapat disentuh dan memiliki berat, yang dapat dipaku pada kayu salib dan mengeluarkan darah lalu mati. 


Suatu tubuh yang dapat dipaku pada kayu salib lalu mengeluarkan darah dan akhirnya mati, setelah tubuh ini mengalami kesakitan yang amat sangat, adalah tubuh yang pasti tenggelam di air danau yang dalam, sama pastinya dengan tenggelamnya sebutir kelereng begitu kelereng ini dilempar ke danau. 

Selain itu, karena Alkitab adalah kitab keagamaan, bukan buku sejarah, dan juga bukan buku sains, maka tidak semua berita atau kisah di dalamnya adalah sejarah atau sejalan dengan pandangan sains! Sains dan akal budilah, bukan iman, yang menentukan dan menilai apakah suatu laporan atau suatu kisah dalam Alkitab adalah suatu laporan atau kisah sejarah. 

Dengan memakai pendekatan saintifik, setiap kisah mukjizat dalam Alkitab harus dipahami pertama-tama sebagai sebuah kisah, dan tidak semua kisah adalah sejarah. Sejarah memang kisah, tetapi kisah nyata, bukan kisah fiktif. Mari sekarang kita ikuti bagaimana ihwal Yesus berjalan di atas air dikisahkan sebagai sebuah kisah.

Kalau Yesus bisa berjalan di atas air yang dalam (katakanlah karena dia memiliki “ilmu meringankan tubuh” yang konon, menurut dongeng, dimiliki para guru silat Biara Shao Lin), dia sebetulnya memiliki suatu kesempatan emas untuk mendemonstrasikan kepandaian hebatnya ini di hadapan orang banyak (konon berjumlah sampai lima ribu orang laki-laki; lihat Markus 6:30-44, sebuah perikop yang langsung mendahului perikop Yesus berjalan di atas air Markus 6:45-52) untuk membuat mereka terkesima lalu menjadi percaya padanya. 


Tetapi, menurut teks yang kita baca, dengan disaksikan orang banyak yang terus mengikutinya, Yesus dan murid-muridnya “mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi” (Markus 6:32). Demikian juga, dalam kisah sebelumnya tentang Yesus meredakan angin ribut (Markus 4:35-41), di hadapan orang banyak yang melihatnya dan dengan di kelilingi perahu-perahu lain yang sedang berlayar di Danau Galilea, Yesus seharusnya mendemonstrasikan kehebatannya jika memang dia bisa berjalan di atas air. Tetapi apa kata teks yang kita baca? Bukannya Yesus berjalan di atas air danau, dia malah “duduk” lalu “tidur” dalam perahu yang membawanya bertolak bersama murid-muridnya. 

Bukankah orang banyak akan makin terkesima lalu percaya pada Yesus jika Yesus bukan saja memperlihatkan kemampuannya meredakan angin ribut (4:39) tetapi juga kemampuannya berjalan di atas air?

Jadi, bertolak dari teks-teks ini logis jika kita menyimpulkan bahwa Yesus sebetulnya tidak bisa berjalan di atas air. Ganjil kalau Yesus dalam kejadian-kejadian itu tidak mau berjalan di atas air, sebab dengan demikian dia melewatkan dengan bodoh kesempatan-kesempatan emas itu. 

Jika demikian halnya, mengapa Markus 6:45-52 mengisahkan Yesus berjalan di atas air di tengah Danau Galilea? Untuk menjawabnya, kita perlu ingat konteks sejarah yang melahirkan kisah ini, dan memperhatikan bagaimana tuturan kisahnya berjalan dan berkembang. Kisah Markus ini tidak bermaksud melaporkan suatu kejadian sejarah faktual (bahwa Yesus dulu betulan berjalan di atas air yang dalam), melainkan mau menyampaikan ajaran tentang pemuridan (discipleship)—ajaran tentang bagaimana orang seharusnya bersikap sebagai murid Yesus dalam kehidupan nyata yang keras yang sedang mereka jalani.

Harus diingat bahwa kitab Injil Markus pertama kali dibaca bukan oleh murid-murid asli Yesus (yang konon berjumlah 12 orang) pada tahun 30-an, tetapi oleh komunitas Kristen pada tahun 70 (abad pertama Masehi) yang menjadi alamat tujuan Injil Markus yang ditulis menjelang akhir Perang Yahudi I melawan Roma (66-70 M). 


Dalam komunitas ini, Yesus, seperti pada masa kini oleh gereja-gereja Kristen di abad ke-21, disapa sebagai Tuhan dalam doa dan dipercaya hadir dalam roh di tengah kehidupan umat Kristen. Nah, kepada komunitas Kristen yang berdiri 40 tahun setelah kematian Yesus inilah kisah Yesus berjalan di atas air Danau Tiberias semula ditujukan. Apa yang diajarkan oleh kisah ini kepada gereja Markus ini?

Perhatikan kisahnya dengan saksama: Yesus berjalan di atas air ketika “hari sudah malam” (Markus 6:47), ketika perahu yang ditumpangi murid-muridnya terkena “angin sakal” dan gelombang air besar menghambat pelayaran mereka (6:48), dengan disaksikan hanya oleh murid-muridnya dalam perahu itu, bukan oleh orang banyak. 


Gambaran tentang kegelapan malam dan angin sakal yang menerpa adalah alegori yang memuat gambaran menakutkan tentang keadaan real kehidupan keras dan berat yang sedang menimpa gereja Markus, sementara di Palestina sedang berlangsung perang orang Yahudi melawan Roma yang segera berakhir dengan kekalahan telak bangsa Yahudi (tahun 70).  

Pembaca Injil Markus pada abad pertama dulu juga pasti tahu kisah khayalan tentang Air Bah yang pada zaman Nabi Nuh, dikisahkan, melanda dunia dan membinasakan semua kehidupan kecuali Nuh dan keluarganya serta binatang-binatang yang dibawanya dalam bahtera (Kejadian 7-8). Kisah dalam Perjanjian Lama ini jelas mengambil alih dan mengadaptasi kisah serupa yang dikisahkan dalam Epik Gilgamesh, epik dari Mesopotamia yang ditulis pada tahun 3.000 SM.

Dalam pandangan Alkitab, air bisa menjadi lambang penyucian dan pengudusan (Zakharia 13:1; Efesus 5:26), sepertinya halnya dengan air baptisan Kristen, atau lambang kehidupan (Yesaya 55:1; Yeremia 2:13a; 17:13b; Yehezkiel 47; Yohanes 4:10; 7:38; Wahyu 7:17; 21:6; 22:1), tetapi juga, khususnya dalam kisah Air Bah (lihat juga Bilangan 5:19, 22), bisa menjadi lambang kutuk, pembinasaan dan pemusnahan!  

Dengan demikian, kisah Markus tentang Yesus berjalan di atas air jelas adalah kisah tentang bagaimana menjadi murid Yesus dalam suatu kondisi kehidupan yang berat, sukar dan mengancam.

Nah, ketika gereja Markus sedang diterpa kekerasan dan penderitaan dalam kehidupan mereka dan terancam musnah, Yesus yang mereka panggil dalam doa didengar (via iman) bersabda, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (Markus 6:50), sementara dia menginjak-injak dan meremehkan air yang ada di bawah kakinya. Ya, siapa yang tidak takut kalau hidup dikitari peperangan, azab, kekalahan dan ancaman kemusnahan!? Tetapi, kalau gereja di tengah kehidupan yang sukar dan berat ini tetap memandang dan berkonsentrasi pada Yesus yang berkuasa atas air, semua kesukaran, keberatan dan ancaman kebinasaan ini, kata Markus, dapat diatasi, sebagaimana Petrus semula ketika berkonsentrasi pada Yesus sanggup juga, kata Matius, berjalan di atas air (lihat Matius 14:29), di atas gelombang air danau yang bergelora mematikan, di tengah kegelapan malam, ketika biduk kehidupan dilanda angin sakal kehidupan. 


Kalau berjalan di atas air dapat disamakan dengan melayang di atas muka air, tentu saja umat Kristen perdana yang membaca kisah Yesus berjalan di atas air akan pasti teringat pada tuturan dalam Kejadian 1:2 yang menyatakan bahwa pada waktu Allah sedang mencipta Bumi, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Ingatan pada teks kitab Kejadian ini akan membuat mereka menemukan di dalam kisah-kisah injil tentang Yesus berjalan di atas air suatu pesan bahwa Yesus memiliki kuasa Roh Allah sehingga dia sanggup melayang di atas muka air. Kepada Yesus yang memiliki kuasa Roh Allah inilah, mereka dapat mempercayakan diri, karena dia hadir bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk mencipta.

Nah, itulah berita, penguatan dan ajaran pemuridan dari penulis Injil Markus (dan penulis Injil Matius), yang disampaikan melalui kisah Yesus berjalan di atas air. Jika pesan ini kita tangkap dan hayati, maka secara figuratif Yesus memang berjalan di atas air, bahkan kita juga, sebagai gereja Yesus Kristus, sanggup berjalan di atas air.

Kalau DC di zaman modern berhasrat menjadi sang hero untuk bangsa Indonesia sehingga dia memperdaya publik dengan berjalan di atas air bohongan, penulis Injil Markus dan penulis Injil Matius menampilkan Yesus Kristus sebagai sang hero buat komunitas-komunitas Kristen mereka, sang hero yang sedang menginjak-injak air Danau Galilea di abad pertama. Tetapi berbeda dari tujuan acting DC, para penulis sastra injil ini tidak bermaksud memperdaya komunitas-komunitas Kristen mereka, melainkan untuk, lewat sarana kisah, menguatkan mereka, untuk membuat mereka bisa tetap tabah menjalani kehidupan dalam suatu konteks sosial yang berat dan sulit.

Orang akan bertanya meminta jawaban tegas, apakah Yesus dulu betulan berjalan di atas air danau yang dalam? Jawabnya: Ya, hanya dalam kisah khayalan, Yesus Kristus bisa berjalan di atas air, tetapi dalam fakta dia sama sekali tak bisa! Dan ingatlah: ada khayalan yang bisa membangun kehidupan, dan ada juga khayalan yang bisa membinasakan kehidupan. Cermat-cermatlah dalam berkhayal!

by
Ioanes Rakhmat


Baca juga: 
5 roti dan 2 ikan, yang makan 5000 orang

 

*) Tulisan pendek untuk pengantar acara diskusi kritis kisah-kisah mukjizat dalam Alkitab, 15 Juli 2009, Komisi Dewasa Gereja Kristen Indonesia (Jawa Barat) Kepa Duri, Tomang Barat, Jakarta Barat, Indonesia