Tuesday, October 7, 2008

Spiritualitas Yesus dari Nazaret

Istilah “spiritualitas” telah diberi banyak dan beragam definisi. Yang jelas, istilah ini sendiri dibentuk dari kata Latin “spiritus” yang memiliki beberapa arti, antara lain: roh, jiwa, sukma, nafas hidup, ilham, kesadaran diri, kebesaran hati, keberanian, sikap dan perasaan.[1] Dari beragam arti ini, istilah “spiritualitas” dapat dilihat mengacu pada suatu sikap hidup yang erat kaitannya dengan pengenalan/kesadaran diri yang bersumber pada kawasan roh sebagai sumber nafas hidup. Jadi, pada istilah ini tercakup tiga hal, yakni kawasan spiritual, pengenalan diri, dan sikap hidup.

Dengan demikian, menurut pengertian ini, kalau kita berkata-kata mengenai spiritualitas seorang Kristen, ini mengacu kepada kedalaman atau intensitas hubungannya dengan Roh Yesus Kristus atau Roh Kudus sebagai kawasan spiritual yang menjadi landasan dan sumber pembentukan jati dirinya yang dinampakkan dalam sikap dan perilaku hidupnya terus-menerus. Kehidupan yang dijalaninya dalam hubungan dan persekutuannya dengan Roh Yesus Kristus memungkinkannya untuk menemukan makna asasi[2] (ultimate meaning) dari hidupnya; kisah-kisah hidup Yesus menjadi bingkai dalam mana ia menjalani hidupnya sendiri dan menemukan persekutuan dengan Allah yang mendatangkan pembaruan dalam dirinya. Seperti dikatakan seorang penulis,

“Spirituality....involves a form of practice, a pattern of life in search of ultimate meaning. For Christians this practice most usually involves the belief that communion with Jesus Christ is the way of encountering ultimate meaning. The story of Jesus becomes in various ways the story within which Christians seek to live their lives, discovering in this particular unsubstitutable path the transforming companionship of God”[3]
Dengan demikian jelaslah, menemukan spiritualitas Yesus dari Nazaret berarti menemukan bentuk intensitas hubungannya dengan kawasan Roh yang merupakan kawasan makna paling hakiki yang menjadi sumber jati diri, kehidupan dan karyanya. Hubungan Yesus dengan kawasan Roh tentu tidak bisa disamakan dengan hubungan yang dihayati seorang Kristen dengan Roh Yesus Kristus, sebab tidak mungkin menyatakan hubungan Yesus dengan kawasan Roh sebagai hubungannya dengan Roh Yesus Kristus. Pada masa Yesus dari Nazaret hidup dan berkarya[4], tentu “kawasan Roh” yang menjadi pusat hidupnya harus mengacu pada suatu dimensi yang lain. Injil-injil Sinoptik (Markus, Matius dan Lukas) menggambarkan kawasan Roh yang menjadi pusat hidup Yesus dan membentuk jati dirinya sebagai kawasan Allah yang dipanggilnya “Bapa” (atau ‘abba dalam bahasa Aram sebagai bahasa Yesus).[5] Memakai istilah teknis agama Yahudi yang juga dipakai dan diberi arti khas oleh Yesus, khususnya di dalam perumpamaan-perumpamaannya (yang mendominasi tuturan Injil-injil Sinoptik), kawasan ini disebut “Kerajaan Allah” atau “pemerintahan Allah” (Ibrani: malkuth hasyamayim, Yunani: basileia tou theou) atau “imperium Allah” (berhadapan, dalam konteks abad pertama, dengan imperium Romawi) atau “pemerintahan imperial Allah.” Dengan demikian tepat kiranya kalau spiritualitas Yesus dari Nazaret disebut sebagai “spiritualitas kerajaan Allah”.[6]

Spiritualitas kerajaan Allah yang dihayati Yesus akan diuraikan secara garis besar dalam dua pokok yang saling berkaitan. Pertama, bentuk hubungan spiritualnya yang mendalam dengan kawasan Roh, yaitu dengan Allah yang dipanggilnya sebagai Bapa yang sedang menjalankan kekuasaan-Nya. Hubungan spiritualnya ini membentuk jati diri Yesus dan memberinya makna hakiki eksistensial ketika ia mendemonstrasikan kekuasaan pemerintahan Allah di dalam karya-karya dan kata-katanya yang terus-menerus dihayatinya. Kedua, dampak penghayatannya atas spiritualitas kerajaan Allah pada tatanan sosial masyarakatnya yang pada akhirnya membawanya pada kematian. Pokok yang kedua ini dapat menjadi suatu peringatan berharga bagi kalangan tertentu dalam kekristenan masa kini yang mempraktekkan dan mengunggulkan suatu jenis spiritualitas “mengawang” dan eskapis, yang tidak bersentuhan dengan, dan bahkan melarikan diri dari, realitas sosial.

Hubungan Yesus dari Nazaret dengan Roh[7] digambarkan berlimpah ruah dalam Injil-injil Sinoptik Perjanjian Baru yang menjadi sumber-sumber utama bagi pengkajian pokok ini. Gambaran selektif yang akan ditampilkan berikut ini kurang lebih memakai sumbangan dari kajian historis atas Injil-injil dan atas Yesus sejarah.[8]


A. Penglihatan-Penglihatan di Padang Gurun


“Pencobaan Yesus di padang gurun” yang dituturkan dalam Markus 1:12-13 (paralel Sumber “Q”: Matius 4:1-11; Lukas 4:1-13) jelas mau menampilkan perjuangan spiritual Yesus pada awal ia mencari visi dan menemukan panggilan hidupnya. Mengingat kejadian pencobaan ini tentunya lebih merupakan pergumulan batiniah Yesus sendiri, maka kita tidak perlu membayangkan semuanya itu betul-betul secara harfiah dan material berlangsung seperti yang digambarkan. Meskipun rincian tuturan Inji-injil (Matius dan Lukas) mengenai kejadian itu lebih mencerminkan teologi para penulis Injil,[9] tetapi pada intinya tuturan itu mau menyatakan fakta sejarah bahwa Yesus dari Nazareth mengalami pergumulan batin dan spiritual yang berat ketika ia mula-mula mencari-cari visi dan panggilan hidupnya.

Bahwa Yesus pernah mengalami pencobaan berat seperti ini (dalam tuturan Markus, ia “berada di padang gurun empat puluh hari lamanya, dicobai Iblis, di antara binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia”) juga dikuatkan kebenarannya oleh antropologi budaya yang menemukan gejala-gejala umum lintas budaya yang serupa yang juga dijalani oleh tokoh-tokoh kharismatis yang mencari penglihatan-penglihatan dari dunia ilahi dalam banyak kebudayaan zaman dulu maupun zaman kini.[10] Kalau tuturan kejadian ini dikaitkan dengan tuturan sebelumnya mengenai pembaptisan Yesus (Markus 1:9-11; paralel Sumber “Q”: Matius 3:13-17; Lukas 3:21-22) pada waktu mana ia memasuki dunia Roh ketika ”Ia melihat langit terkoyak” (seperti juga dituturkan tentang Nabi Yehezkiel ketika ia menerima penglihatan-penglihatan; lihat Yehezkiel 1:1) dan “Roh seperti merpati turun ke atas-Nya”, maka jelas semua rangkaian kejadian ini pada intinya mau menyatakan satu hal. Yakni bahwa Yesus mempunyai hubungan yang kuat dengan kawasan Roh yang memberinya penglihatan-penglihatan dan kuasa-kuasa, yang dicari dan diterimanya dari Roh melalui ujian-ujian fisik dan batiniah yang berat di padang gurun dekat kawasan Laut Mati. Satu acuan lagi dalam Injil-injil tentang “penglihatan” Yesus ditemukan dalam Lukas 10:17-18, “....Lalu kata Yesus kepada mereka, ’Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit’”.[11]


B. Keintiman Yesus dengan Roh


Dalam Injil-injil Sinoptik, dituturkan bahwa pada waktu Yesus dibaptis dan mengalami kontak dengan kawasan Roh (“Ia melihat langit terkoyak”), terdengar suara dari kawasan itu, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Markus 1:11).[12] Penyataan ilahi ini menegaskan bahwa Yesus adalah “anak Allah”.

Dalam arti apakah sebutan/ungkapan “anak Allah” harus dipahami apabila diterima bahwa mungkin sekali Yesus sendiri menyebut dirinya anak Allah? Jelas tentu bukan dalam pengertian yang diberikan komunitas Kristen perdana sesudah Yesus,[13] melainkan harus dalam bingkai Yudaisme zaman Yesus sendiri. Dalam tradisi Yahudi, ada tiga rujukan apabila gelar “anak Allah” dipakai yakni, pertama, kepada Israel keseluruhannya sebagai suatu bangsa (misalnya Hosea 11:1; Keluaran 4:22-23) atau, kedua, kepada raja Israel (Mazmur 2:7; 2 Samuel 7:14), ketiga, kepada tokoh-tokoh suci kharismatis sezaman dengan Yesus dari kalangan orang Yahudi yang disebut “anak Allah” dan yang memanggil Allah sebagai ’Abba (Bapa) dan tercatat bahwa ia juga menyebut dirinya “anak” dalam relasi dirinya dengan Allah, yang menandakan bahwa ia menaruh kepercayaan dan pengharapan yang tulus, penuh dan murni bersahaja kepada Allah.[14] 
 
Sebutan-sebutan tersebut mau menyatakan adanya hubungan keanakan yang akrab dan mendalam dengan Allah: antara Allah dengan Israel sebagai umat pilihan-Nya, dengan raja Israel sebagai anak angkat-Nya, dengan para tokoh suci Yahudi (misalnya Hanina ben Dosa dan Honi si Pembuat Lingkaran, juga termasuk Yesus dari Nazaret) sebagai orang yang mengenal Allah dengan mendalam dan dikenal Allah.[15] Dengan demikian, dalam hubungan dengan kawasan Roh, Yesus berada dalam hubungan yang akrab, tulus, mendalam, murni dan bersahaja, dengan Allah yang dipanggilnya ’Abba (Bapa) dan kepada-Nya ia menyebut diri “anak” yang kepadanya Allah sebagai sang Bapa berkenan membagi rahasia dunia ilahi (Matius 11:25-27// Lukas 10:21-22).[16]


C. Doa-doa Meditatif Kontemplatif Yesus


Dalam beberapa episode tuturan Injil-injil, diceritakan bahwa Yesus terbenam dalam doa yang sangat mendalam dan berlangsung lama, bisa berjam-jam bahkan sampai semalam suntuk (Markus 6:46; 9:2; Matius 14:13, 23; Lukas 6:12; 9:18; 9:28-29; 11:1). Tentu ini bukan karena ia mempunyai daftar pokok doa yang panjang bukan kepalang. Sebagai seorang yang hubungannya sangat akrab dan mendalam dengan Allah, ‘Abba-Nya, tidak perlu diragukan kalau Yesus juga betul-betul melakukan praktek-praktek doa spiritual yang intens dalam ia memelihara hubungannya dengan kawasan Roh. Dalam zamannya, tokoh-tokoh suci Yahudi seperti Honi si Pembuat Lingkaran dan Hanina ben Dosa sebelum melakukan tindakan penyembuhan menenangkan diri di hadapan Allah dalam waktu yang panjang di dalam doa-doa meditatif dan kontemplatif mereka.[17]

Dalam suatu kesempatan, Yesus bersama tiga muridnya (Petrus, Yakobus dan Yohanes) dikisahkan menyendiri (untuk berdoa dalam kontemplasi dan meditasi – lihat Lukas 9:28-29) di sebuah gunung yang tinggi. Di sana saat ia berdoa, Yesus berubah rupa dan pakaiannya menjadi “sangat putih berkilat-kilat”, dan murid-muridnya melihat Elia dan Musa bersamanya, bercakap-cakap dengannya dan mereka dilanda kegentaran hebat (Markus 9:2-4; bdk. Matius 17:1-3; Lukas 9:28-32). Bagaimana ini harus dijelaskan? Historis ataukah tidak, kejadian transfigurasi Yesus ini?[18] 

Tetapi lepas dari apakah kejadian “di gunung yang tinggi” ini sungguh terjadi atau tidak, yang jelas adalah bahwa kejadian ini mengingatkan orang pada kejadian di Gunung Sinai, yang dipandang sebagai simbol axis mundi, poros dunia, yang menghubungkan dunia manusia dengan kawasan ilahi ketika Nabi Musa naik ke puncaknya dan di sana mengalami komunikasi akrab dengan Allah. Menurut Kitab Keluaran (34:29-30,35), pada waktu Musa turun dari gunung itu, wajahnya memancarkan cahaya kehadiran dan kemuliaan Allah. Dengan peristiwa ini, Musa digambarkan sebagai tokoh suci yang menghubungkan dunia manusia dan dunia Roh; ia adalah seorang yang “mengenal Allah berhadap-hadapan muka” (Ulangan 34:10).[19] 

Dalam hal Yesus, peristiwa di gunung tinggi itu menggambarkan suatu segi penting siapa dirinya: ia disetarakan dengan Musa dan Elia (yang juga adalah seorang tokoh suci Yahudi yang dikatakan menempuh perjalanan dalam “kuasa Roh” – 1 raja-raja 18:46) sebagai manusia pilihan Allah, Anak-Nya (Markus 9:7), yang berhubungan langsung dengan alam Roh.[20] Pada dirinya bertemulah dua dunia itu, yang satu kasat mata dan yang lain tidak kasat mata. Ia adalah poros yang memerantarai pertemuan dua dunia ini. Sebagai pilihan Allah, dirinya memancarkan cahaya kehadiran ilahi yang menyelimutinya dan menggentarkan orang. Selain praktek-praktek doa meditatif kontemplatif ini, Yesus juga giat berpuasa.

Praktik-praktik spiritualnya ini jelas menjadi wahana-wahana untuk ia masuk ke dalam sumber-sumber daya atau kuasa spiritual ilahi yang besar. Kuasa ilahi ini tampak memancar dari dirinya seperti dirasakan dengan takjub dan gentar oleh murid-muridnya. Disaksikan dalam Injil Markus 10:32 bahwa “awan keilahian yang menetap” (numinosum)[21] menyelimuti Yesus: “Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa takjub dan juga orang-orang yang mengikut Dia dari belakang merasa takut dan gentar.”[22] Ketika ia mengajar, orang banyak “takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa,.....” (Markus 1:22).

Ringkasnya, hubungan Yesus dengan dunia Roh begitu mendalam, dan hubungan ini menjadi sumber kuasa ilahi yang memancar dari dirinya, yang membuat takjub dan gentar bukan saja murid-murid dan orang banyak, tetapi juga setan-setan. Orang banyak berseru, ”Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya” (Markus 1:27).


D. Setan-setan Berhadapan dengan Yesus


Persekutuan akrab Yesus dengan Roh membuatnya berhadapan dengan kuasa anti-Allah, yakni kuasa setan. Sudah merupakan kesimpulan pasti para pakar bahwa eksorsisme (pengusiran setan) dan penyembuhan sakit penyakit dan berbagai cacat tubuh adalah bagian faktual dari tindakan-tindakan Yesus,[23] sebagaimana juga dipraktikkan oleh orang-orang Yahudi lainnya yang sezaman dengannya (lihat antara lain Matius 12:27). Bedanya, eksorsisme yang dilakukan Yesus dalam kuasa Roh Allah dinyatakannya dengan terang-terangan sebagai tanda bahwa Allah sekarang ini sedang berkuasa, kerajaan-Nya sudah datang. Di dalam tindakan-tindakan eksorsisme Yesus, kuasa pemerintahan atau kerajaan Allah sedang berhadapan dengan kuasa setan.

Sebagai seorang yang dipenuhi Roh, Yesus berkata:

“Jika Aku mengusir setan (setan-setan; Yunani: ta daimonia) dengan Roh Allah, maka sesungguhnya kerajaan allah sudah datang kepadamu.” (Sumber “Q”: Matius 12:28; par. Lukas 11:20)[24]
Dalam ucapan otentik Yesus yang baru dikutip di atas, nyata pemahaman dirinya (”Jika Aku....”)[25] yang berkaitan dengan tugas panggilan yang dihayatinya, yakni bahwa ia memiliki Roh Allah untuk mengusir setan-setan. Ia memiliki Roh Allah karena ia mengalami hubungan langsung dengan dunia Roh yang memberinya kuasa dan wibawa spiritual[26] untuk mengusir setan-setan.

Seluruh potensi yang berasal dari dunia Roh dipakai Yesus untuk mendemonstrasikan bahwa Allah kini memerintah, dan kuasa anti-Allah, musuh Allah, yakni Setan, dihadapi, diusir[27] dan ditaklukkannya. Dalam perumpamaan Yesus “orang kuat” (yakni Setan) yang “memasuki rumah” (yakni orang yang dirasuk setan) harus “diikat” dulu (yakni dikalahkan, diusir) supaya rumahnya dapat dirampok dan hartanya dirampas (yakni si korban dibebaskan kembali melalui eksorsisme) (Matius 12:29//Markus 3:27//Lukas 11:21-22). Eksorsisme yang dilakukan Yesus bukan hanya perkara yang berkaitan dengan makhluk-makhluk adikodrati dari dimensi lain yang tidak kasat mata saja. Ada kaitan timbal-balik dengan dimensi lainnya, yakni dimensi sosial-politik kongkrit dan historis yang dihadapi masyarakat dan bangsanya yang sedang berada di bawah penjajahan Roma (sejak tahun 63 S.M.). Dimensi lainnya ini nanti akan diuraikan sedikit lebih panjang. Sekarang, berkaitan dengan ini, yang langsung harus segera diingat adalah bahwa gagasan mengenai “kerajaan Allah” adalah gagasan Yahudi yang menyeluruh, tidak mengenal pemisahan dikotomis antara kawasan spiritual dan kawasan sosial politik (hanya gereja pada zaman sekarang saja yang menafsirkannya sebagai gagasan spiritual saja!).

Jadi, berkaitan dengan ucapan Yesus tentang pengusiran setan di atas, maka harus dikatakan bahwa akta pembebasannya itu (artinya tindakannya mendatangkan pemerintahan Allah itu) berlaku baik bagi dimensi mental spiritual maupun bagi dimensi sosial-politik dalam masyarakat dan bangsa yang sedang dijajah. Dalam hal ini, patut dicatat bahwa akta pengusiran setan dan akta penyembuhan ini telah menimbulkan pada pihak penguasa Yahudi yang menjadi kaki-tangan Roma kemarahan dan keinginan untuk mengakhiri hidup Yesus, seperti dituturkan dalam Lukas 13:31-32. Dituturkan di situ, beberapa orang Farisi datang memperingatkan Yesus supaya ia pergi sebab Herodes bermaksud membunuhnya. Jawab Yesus kepada orang-orang Farisi itu, “Pergilah dan katakanlah pada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai.” Jawaban Yesus ini menyatakan bahwa eksorsisme dan penyembuhan yang dilakukannya telah mengganggu tatanan sosial-politik yang telah mapan, yang wajib dipertahankan Herodes.[28]

Jadi, spiritualitas kerajaan Allah yang dihayati Yesus, yang membuatnya berhadapan dengan kuasa anti-Allah, menimbulkan dampak sosial-politik penting dalam tatanan masyarakat Yahudi zamannya.


E. Dampak Sosial-Politik Spiritualitas Yesus


Untuk melihat dampak sosial-politik spiritualitas Yesus dari Nazaret pada tatanan sosial masyarakat Yahudi zamannya, orang harus menempatkan spiritualitasnya itu dalam sistem sosial[29] Yahudi yang berlaku pada abad pertama dan dalam masyarakatnya yang sedang dalam penjajahan Roma.

Umumnya, dalam suatu sistem sosial, tatanan dan ekuilibrium sosial terpelihara apabila setiap bagian dan unit dalam masyarakat menaati dan memelihara garis-garis pembatas yang ditetapkan dalam menggolong-golongkan peringkat kedudukan dan status orang-orang, perkara-perkara, kejadian-kejadian, tempat-tempat dan hal-hal lainnya, sehingga “segala sesuatu berada pada tempatnya yang sepatutnya dan ada tempat yang sepatutnya untuk segala sesuatu”. Sistem pemberian batas-batas, pemahaman-pemahaman, definisi-definisi dan penggolong-golongan peringkat sosial demi tatanan atau orde sosial terjaga ini disebut “sistem puritas” (suatu istilah abstrak dari seorang antropolog Inggris, Mary Douglas).[30]

Sistem puritas ini membentuk suatu ideologi atau “dunia simbolik” (kawasan makna dan nilai) dari suatu masyarakat yang dengannya tatanan dan ekuilibrium sosial dipertahankan, diwariskan, dan dilegitimasi. Dengan sistem puritas ini, masyarakat distrukturkan bukan hanya dalam peringkat-peringkat hierarkis status dan peran sosial, tetapi juga pada akhirnya dalam kontras-kontras atau polaritas-polaritas kudus/najis, tahir/cemar, suci/bernoda, benar/ berdosa, halal/haram, utuh/cacat, laki-laki/perempuan, kaya/miskin, Yahudi/kafir, dst. Di samping untuk manusia/persona (diri sendiri dan diri orang-orang lain) sebagai “obyek-nilai” , peringkat hierarkis sosial dan polaritas dalam sistem puritas ini berlaku juga untuk obyek-obyek nilai lainnya: benda-benda (alam, ruang, waktu), kejadian-kejadian dan Allah.[31]

Dalam “sistem puritas” Yahudi, cara, bentuk penataan dan penstrukturan masyarakat dibuat dan diselenggarakan dengan berpusatkan pada suatu pengakuan bahwa Allah itu kudus (Imamat 19:2, “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus”; juga 11:44, 45; 20:7, 26; 21:8; lihat 1 Petrus 1:16; Matius 5:48; bdk. Ulangan 18.13). Kekudusan Allah menjadi salah satu nilai inti[32] (core value) dari sistem puritas Yahudi abad pertama. Nilai inti ini harus merembesi dan mengarahkan secara normatif seluruh gerak hidup anggota-anggota dalam sistem sosial masyarakat. Jadi, seluruh Israel sebagai umat Allah harus hidup dalam kekudusan.

Tetapi dalam penataan masyarakat, karena satu dan lain hal yang tumbuh dalam sejarah sosial dan tradisi sosio-religius bangsa Israel,
[33] tidak seluruh anggota umat Israel dipandang memiliki peringkat kekudusan yang sama, bahkan ada yang sama sekali dipandang najis dan cemar kendatipun masih termasuk dalam komunitas sendiri. Di antara mereka sendiri berlaku suatu peringkat hierarkis kekudusan, dan tata-susunan peringkat kekudusan ini menjadi sebuah “cultural-map”, peta budaya, bagi pengelolaan dan perekayasaan kehidupan kultural, sosial politik dan keagamaan serta ekonomi bangsa Yahudi. Peringkat seseorang dalam sistem puritas hierarkis Yudaisme ini bergantung pada kelahiran/keturunan, pekerjaan, perilaku (dari yang sepele yang hanya membuat orang najis untuk sementara, sampai pada yang serius yang mengakibatkan orang dicap tidak kudus untuk selamanya), keadaan tubuh (yang sifatnya bawaan menetap, ataupun yang berlangsung sementara saja seperti pada proses-proses fisik biologis alamiah-kodrati), gender, keadaan ekonomi, dan kebangsaan.[34]


Dengan sistem puritas hierarkis yang berpusat pada kekudusan Allah ini, maka segala sesuatu telah diatur dengan jelas untuk ada pada tempatnya masing-masing yang sepatutnya. Batas-batas sosial-relegius yang telah dibuat menggolong-golongkan, memberi batasan-batasan, dan membangun struktur hubungan-hubungan berperingkat, antar golongan-golongan dalam masyarakat. Diterimanya berkat ilahi atau kutuk ilahi (dari sudut sosiologis antropologis berarti: terciptanya tatanan/order yang membawa kesejahteraan anggota masyarakat, atau terjadinya kekacauan/chaos atau disorder yang menghancurkan masyarakat) bergantung pada apakah sistem puritas hierarkis ini dipertahankan atau dirobohkan, karena sistem puritas ini diyakini berpola-dasar pada sistem puritas primordial ilahi yang telah dibangun Allah pada waktu penciptaan alam semesta (Kejadian 1; tentang ini lihat lebih lanjut di bawah). Dengan demikian, semua anggota umat Israel diikat oleh kewajiban mempertahankan tatanan yang telah dibangun di atas dasar sistem kekudusan ini.[35]

Dalam peringkat kekudusan dari dunia simbolik Yahudi abad pertama, karena Allah yang kudus diyakini hadir dan memerintah di dalam Bait Allah yang dibangun di Yerusalem, maka Bait ini dan kota Yerusalem adalah tempat-tempat paling kudus dari segala tempat lain di seluruh Tanah Israel (bahkan di seluruh alam semesta). Makin jauh dari Bait Allah dan kota Yerusalem, tempat-tempat makin berkurang kekudusannya, sampai pada akhirnya terdapat tempat-tempat yang sama sekali najis atau cemar, khususnya tempat-tempat di luar Tanah Israel di kawasan bangsa-bangsa lain. Hierarki kekudusan tempat-tempat ini mencakup sepuluh tempat/kawasan, dengan pusatnya Bait Allah yang di dalamnya terdapat Ruang Maha Kudus dimana Allah bertakhta di atas kherubim. Makin jauh dari pusat ini makin kurang kudus, dan tanah di luar Tanah Israel cemar.

♦ Ruang Maha Kudus (dari Bait Allah)
♦ Ruang Kudus (dari Bait Allah)
♦ Ruang antara Portiko dan Altar (dari Bait Allah)
♦ Serambi para Imam (dari Bait Allah)
♦ Serambi orang-orang Israel (dari Bait Allah)
♦ Serambi Perempuan (dari Bait Allah)
♦ Benteng
♦ Bukit Sion
♦ Kawasan di dalam tembok-tembok kota Yerusalem
♦ Kota-kota yang dikelilingi tembok-tembok (dari Tanah Israel)
♦ Tanah Israel
Dengan demikian juga, orang-orang yang bekerja di Bait Allah dan jenis-jenis pekerjaan yang berlangsung dalam Bait Allah, lebih kudus dibandingkan orang-orang lain dan jenis-jenis pekerjaan lainnya; dan orang-orang Yahudi lebih kudus dibandingkan orang-orang bukan Yahudi. Orang-orang bukan-Yahudi dipandang dan diperlakukan sebagai orang-orang kafir; para penyembah berhala; mereka dipandang sebagai suatu sumber kenajisan, dan tidak diperkenankan masuk ke dalam pelataran dalam Bait Allah.[36]

Sepuluh peringkat kekudusan orang Israel diberlakukan dalam sistem puritas Yahudi, dengan yang paling kudus para imam, lalu menyusul orang-orang lain dengan peringkat kekudusan yang makin menurun.

♦ Para imam
♦ Orang Lewi
♦ Orang Israel
♦ Para Petobat
♦ Budak-budak yang sudah dibebaskan
♦ Imam-imam yang dicopot dari jabatan mereka
♦ Budak-budak dalam bait Allah (Netzin)
♦ Anak-anak haram (Mamzer)
♦ Orang-orang dengan testis hancur
♦ Orang-orang tanpa penis
Telah dikatakan bahwa sistem puritas Yahudi abad pertama dipoladasarkan pada sistem puritas primordial yang Allah telah bangun pada waktu penciptaan. Pada waktu Allah menciptakan alam semesta (Kejadian 1), pemisahan-pemisahan (1:4,7,14), klasifikasi-klasifikasi, batasan-batasan, struktur berperingkat, Allah telah tanamkan dalam orde kosmos, yang semuanya dipandang-Nya “baik”. Ketika semua unit ciptaan Allah telah terklasifikasi dan tertata dalam peringkat hierarkis dan kontras-kontras, Allah memberikan berkat bagi “hari ketujuh”, hari dimana Ia “berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu”.

Kalau seluruh orde kosmik yang sudah diciptakan-Nya dilihat-Nya “baik”, maka pemberian “berkat” bagi hari Sabat adalah akta ilahi yang menegaskan beberapa hal. Pertama, karena hari Sabat tidak dapat dilepaskan dari hari-hari sebelumnya dalam orde penciptaan, maka pemberian berkat primordial ini menegaskan bahwa seluruh orde kosmik yang sudah berdiri sebagai buah tangan Allah sendiri diperkenan-Nya dan berada dalam kasih karunia dan berkat-Nya. Kedua, bahwa pranata religius Israel (dhi. Hari Sabat) adalah puncak dari semua yang “baik” yang telah diordekan sebelumnya dalam tatanan alam semesta. Ketiga, ini juga berarti, dalam skala lebih luas, seluruh pranata keagamaan bangsa Yahudi adalah puncak atau pusat dari seluruh penetapan orde semesta.[37]

Ketika sistem hierarkis Bait Allah (sistem pemberian kurban) dengan semua obyek nilainya (Allah, manusia, ruang, waktu, benda-benda lain termasuk hewan-hewan kurban) menjadi salah satu fungsi terpenting Bait Allah (juga di zaman Yesus), sistem ini merupakan replika/tiruan orde kosmik primordial[38] dan menampilkan mikrokosmos dari kosmos primordial. Dengan kata lain, Bait Allah di Yerusalem, kota Yerusalem, dan seluruh dunia Yahudi (Tanah Israel), adalah pusat alam semesta atau axis mundi, poros jagat raya. Dengan demikian, sistem puritas Yudaisme bukan hanya mengatur segala jenis hubungan hierarkis intra-umat-Isreal, tetapi juga menentukan pandangan dan sikap umat Israel sebagai bangsa yang kudus terhadap bangsa-bangsa lain di luar kawasan Tanah Israel sebagai tanah yang dipandang paling kudus satu-satunya dalam jagat raya.

Bagaimanakah Yesus dengan spiritualitas kerajaan Allah yang dihayatinya menimbulkan dampak pada masyarakatnya yang diatur menurut sistem puritas? Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu ingat bahwa pada zaman Yesus, Tanah Israel bukanlah tanah merdeka. Roma sudah menjajah bangsa Yahudi sejak tahun 63 S.M. Jadi, seluruh Tanah Israel, kecuali dalam batas-batas tertentu Bait Allah, sudah dinajiskan dengan masuk dan berkuasanya bangsa lain yang dalam sistem puritas mereka dipandang sebagai bangsa kafir yang najis. Dalam situasi terjajah ini, tentu akan muncul banyak pertanyaan.

Bagaimana hubungan kemutlakan sistem puritas ini yang menempatkan Tanah Israel dan umat Yahudi paling unggul, par excellence, dibandingkan kawasan-kawasan dan bangsa-bangsa lain di luarnya, dengan kenyataan bahwa Tanah Israel sedang dijajah Roma, bangsa kafir dari tanah yang najis? Bangsa Roma sudah memasuki Tanah Suci (sebutan “suci” untuk Tanah Israel harus ditempatkan dalam kerangka sistem puritas Yahudi; bukan pada tanahnya itu sendiri); dan sebagai bangsa suci “pilihan Allah” Israel sudah menjadi taklukannya, bangsa jajahannya. Kecemaran jadinya melanda seluruh negeri. Apakah dalam situasi ini, kekudusan masih mungkin ditemukan di dalam Bait Allah yang di dalamnya sistem pemberian kurban dan ritus-ritus penyucian masih boleh dijalankan dengan cukup independen? Tetapi, dalam situasi imperial seperti itu, bukankah berbagai bentuk ritus kurban dan ritus penyucian hanya berfungsi menjinakkan dan memasifkan orang Israel di tengah-tengah keresahan sosial dan dendam membara kepada Roma yang sudah menajiskan tanah mereka sendiri? Tetapi bukankah dengan penajisan Tanah Suci Israel di mana-mana, dan dengan sistem Bait Suci saja yang masih bertahan dalam sistem kurban dan ritus-ritus penyucian (di bawah Imam Besar), sistem puritas itu sendiri telah diamputasi dan kehilangan legitimasinya? Bagaimana Tanah Suci harus dipulihkan kembali dan bagaimana menjadikan sistem puritas tidak makin menindas rakyat dan hanya menguntungkan kalangan elitis pemegang kekuasaan dalam Bait Allah yang mendapat dukungan dari penjajah?

Pertanyaan ini semua terus mengganggu rakyat dan pemimpin Israel yang tidak mau tunduk pada kekuasaan Roma. Mereka yang seperti ini jelas berada dalam posisi melawan Roma dan orang-orang Yahudi aristokrat yang menguasai Bait Allah tetapi juga langsung atau tidak langsung termasuk kaki-tangan Roma yang membebani rakyat dengan pajak-pajak untuk Bait Allah maupun untuk Roma dan memanfaatkan sistem puritas untuk memasifkan rakyat.

Sejarah Israel abad pertama Masehi memperlihatkan bahwa jawab atas pertanyaan ini bisa mengambil baik bentuk perlawanan dengan kekerasan maupun perlawanan tanpa kekerasan.[39] Apa jawab Yesus? Yesus dari Nazareth melakukan perlawanan tanpa kekerasan senjata melalui khususnya ucapan-ucapan dan cerita-ceritanya atau perumpamaan-perumpamaannya tentang kerajaan Allah serta tindakan-tindakan simbolisnya. Walaupun bukan perlawanan dengan kekerasan, semua ini akhirnya membawanya kepada kematian di kayu salib, karena pihak penguasa Roma melihat kemapanan politik dapat terganggu serius apabila Yesus terus dibiarkan melantunkan “sajak-sajak”-nya dan menyampaikan kisah-kisahnya tentang Kerajaan Allah yang sedang datang dan memperlihatkan kiprah-kiprah simbolik perlawanannya.

Kata Yesus:

“Kerajaan Allah itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” (Lukas 13:20-21; Matius 13:33)
Ragi adalah metafora untuk kenajisan dan kecemaran,[40] untuk sesuatu yang marjinal di dalam masyarakat yang ditatastrukturkan menurut sistem kekudusan Yudaisme. Kalau Yesus menyatakan bahwa “Kerajaan Allah itu seumpama ragi”, ini berarti kekuasaan dan pemerintahan Allah tidak lagi berada di Bait Allah dengan sistem kurbannya yang dijalankan oleh institusi imamat dari kalangan elitis aristokrat para imam (di bawah Imam Besar), tetapi berada di antara kalangan yang dalam sistem puritas Yahudi tergolong marjinal dan najis, persisnya di antara rakyat kebanyakan. Kekudusan Allah (suatu nilai inti dalam teologi Yudaisme) di tengah-tengah penajisan oleh kekuasaan kafir (Roma) atas Tanah Israel ditemukan di antara kalangan yang najis.

Tindakan Yesus membangun dan memasuki persekutuan dan persaudaraan dengan orang-orang yang najis dan marjinal, dan makan bersama-sama mereka tanpa memakai meja (open commensality)[41] sehingga terbentuk suatu komunitas yang anggota-anggotanya setara, egaliter, adalah perwujudan dari keyakinan dan pewartaannya bahwa Kerajaan Allah adalah kerajaan yang merobohkan hierarki sosial-religius yang dipertahankan dalam sistem puritas.[42] Sekaligus juga, komunitas yang terbentuk di sekitar Yesus ini adalah dampak nyata dari spiritualitasnya; karena Roh, Yesus tidak menghendaki rakyat dipecah-pecah dan diceraiberaikan berdasarkan sistem puritas. Dengan demikian, dalam ajaran dan kiprah-kiprah Yesus, kerajaan Allah didesentralisasikan atau didemokratisasi, dipindahkan dari pusatnya di Bait Allah yang dikuasai kalangan elitis aristokrat yang berorientasi kepada Roma, ke tengah-tengah rakyat yang paling merasakan penderitaan karena penjajahan.

Kata Yesus sebagai orang yang dipenuhi Roh Allah,
“...sesungguhnya kerajaan Allah ada di antara kamu!” (Lukas 17:21b).[43]

Kerajaan itu ada di tengah rakyat yang najis dan paling menderita karena penjajahan Roma dan sistem puritas yang dipertahankan kalangan elit imamat aristokrat. Oleh Injil-injil penderitaan rakyat ini, pada satu pihak, ditampilkan nyata-nyata dan dramatis dalam sakit-penyakit yang mereka harus tanggung dan dalam kersaukan-kerasukan setan yang mendehumanisasikan mereka. Di lain pihak, dikisahkan, Yesus memerangi setan-setan dan melakukan eksorsisme.[44] Maka, mestinya ada kaitan antara bentuk-bentuk penderitaan rakyat ini yang digambarkan bersumber pada kuasa-kuasa jahat adikodrati yang tidak kasat mata yang harus dikalahkan dan situasi penjajahan sosial, politik dan religius oleh Roma dan kaki tangan mereka.

Dalam suatu situasi krisis yang melanda suatu masyarakat, misalnya situasi dijajah kekuatan asing besar seperti yang dialami bangsa Israel zaman Yesus, teknik-teknik ritual (seperti ritus pembasuhan), tabu-tabu, mukjizat, termasuk eksorsisme, dan kisah-kisah yang menuturkannya, berfungsi untuk mempertahankan suatu posisi simetri mereka sebagai bangsa terjajah berhadapan dengan pihak asing yang menjajah, sekaligus untuk mempertahankan integritas eksistensi mereka sendiri.[45] Situasi krisis sosial yang menekan ini dalam masyarakat mitis diekspresikan sebagai situasi di bawah ancaman kuasa-kuasa jahat adikodrati. Pengusiran setan jadinya berarti suatu obyektivasi dari tuntutan dan dorongan subyektif sosial dan individual untuk mengalahkan kekuasaan jahat dan mempertahankan eksistensi suatu masyarakat. Secara subyektif, kekuasaan asing yang obyektif dari si penjajah sudah dikalahkan melalui eksorsisme.

Perlawanan terhadap penjajah, pada gilirannya, dapat mengambil bentuk perlawanan dalam sastra yang dapat efektif mengubah realitas krisis. Tuturan sastra Injil tentang seorang Gerasa yang kerasukan roh jahat (Markus 5:1-20) secara simbolik menyatakan perlawanan ini ― perlawanan Yesus dari Nazaret, perlawanan Israel terjajah, perlawanan umat Kristen perdana. Ketika Yesus bertanya kepada roh jahat itu siapa namanya, roh itu menjawab, “Namaku legion, karena kami banyak.” (ayat 9). Kata Latin “legion” dikenakan untuk satuan prajurit pejalan kaki Roma ditambah pasukan berkuda, dengan jumlah besar antara 3.000 sampai 6.000 orang. Pasti nama ini adalah kiasan untuk penjajahan Roma atas Tanah Israel. Permusuhan dan perlawanan terhadap orang-orang Roma yang menduduki tanah mereka diungkap dengan jelas ketika Yesus berseru kepada setan-setan itu, “Keluar dari orang ini!” Tetapi setan-setan itu meminta untuk diizinkan tetap tinggal di daerah itu (ayat 10) ― inilah yang memang dikehendaki Roma, yakni terus mengontrol seluruh negeri. Sebaliknya, rakyat Israel menginginkan mereka diusir dan dibenamkan ke dalam danau seperti babi-babi. Yesus tampil sebagai seorang pengusir setan yang digdaya; dan kehadirannya sebagai orang yang dipenuhi Roh Allah sungguh merupakan suatu ancaman nyata bagi kedamaian dan stabilitas masyarakat Israel di bawah rekayasa kolonial Roma (pax Romana): saat Roma mati terbenam dalam air danau hanya menunggu waktunya saja, pembebasan tidak lama lagi tiba.[46]

Perlawanan Yesus bukan hanya terhadap kekuatan jahat adikodrati setan-setan; dalam perlawanannya ia juga terus memasuki pusat lahiriah dunia yang diatur menurut sistem puritas Yahudi: Bait Allah. Ketenangan dan kestabilan politik Roma di Tanah Israel sangat ditentukan oleh bagaimana institusi Bait Allah dijaga untuk tetap berfungsi sebagai pusat kekuatan ekonomi, religius dan politik bangsa Yahudi yang berada dalam kendali dan pengawasan Roma, langsung atau tidak langsung, baik melalui client-kings mereka maupun melalui kelompok elit imam aristokrat yang menguasai Bait Allah.

Pada zaman Yesus, Bait Allah tegak bukan hanya untuk kepentingan bangsa Yahudi dengan sistem puritas mereka, tetapi juga untuk kepentingan Roma. Dalam Bait Allah, ritus mempersembahkan kurban juga dilaksanakan untuk menghormati Roma dan Kaisar; dan bila tidak dilaksanakan, ini sama dengan pemberontakan. Bait Allah dengan demikian berfungsi sebagai suatu sarana pelegitimasi kekuasaan penjajah dan kontrol terhadap rakyat jajahan.[47]

Menjelang, dan pada abad 1, muncul beberapa perlawanan terhadap institusi Bait Allah.[48] Di antaranya, Yesus dengan spiritualitas kerajaan Allah yang dihayatinya. Ia menyampaikan ucapan-ucapan profetis tentang keruntuhan Bait Allah Yerusalem (lihat Markus 13:2b; 14:58; 15:29; Injil Thomas logion 71), [49] dan (dalam skala kecil) “mengobrak-abrik” Bait Allah (Markus 11:15-19; Matius 21:12-13; Lukas 19:45-48; Yohanes 2:13-16). Apa maksud tindakannya ini? Ini jelas bukan suatu akta penyucian Bait Allah untuk menjadikannya hanya sebagai rumah rohani yang suci dan jauh dari kegiatan bisnis komersial (tentu saja tafsiran semacam ini berisi nilai moral yang baik juga untuk masa kini sehubungan dengan ’gereja’!). Tindakan Yesus ini adalah suatu tindakan simbolik penolakan dan penghancuran terhadap kekuasaan imamat aristokrat yang terpusat di Bait Allah yang merupakan perpanjangan dari kekuasaan Roma yang menarik keuntungan ekonomi dan politik dari Bait Allah, dan juga terhadap institusi Bait Allah sendiri yang mengekalkan sistem puritas Yahudi yang mengotak-ngotakkan dan mengalienasi rakyat melalui kegiatan-kegiatan ritual, pemberian kurban dan fiskalnya.

Penyerangan terhadap Bait Allah sebagai pusat kegiatan sosial, ekonomi, keagamaan dan politik Israel berarti juga penyerangan terhadap Roma. Akibatnya: Yesus ditangkap lalu dieksekusi di kayu salib[50]― suatu hukuman mati gaya Romawi bagi seorang nabi spiritualis-sosial yang juga telah menyampaikan ucapan profetis tentang kehancuran Bait Allah, yakni kehancuran institusi dan sistem yang menguntungkan, dan dipertahankan oleh, kalangan elitis religius imamat aristokrat dan bangsa Roma yang menjajah Israel. Kematiannya adalah kematian seorang nabi spiritual-sosial yang sebelumnya memang telah menyatakan bahwa dirinya berada dalam konflik dengan kekuasaan Roma, sebab baginya segala sesuatu adalah milik Allah, bukan milik sang Kaisar Roma, termasuk Tanah Israel yang dijajah Roma. Kata Yesus, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (Markus 12:17). Jadi, sudah seharusnya, Kaisar Roma menyerahkan Tanah Israel kepada Allah yang telah memberikan hak bagi umat Israel untuk mendiami tanah itu. Kalau “kerajaan sorga ada di antara rakyat”, maka kekuasaan imperial Roma harus lenyap. Tetapi, ternyata Roma mengeksekusi Yesus lebih dulu.


Notes


[1] Lihat K. Prent, J. Adisubrata, WJS Poerwadarminta, Kamus Latin-Indonesia (Yogyakarta: Kanisius, 1969) 807.

[2] “Makna asasi” untuk hidup manusia tidak hanya ditemukan dalam, dan ditawarkan oleh, agama (teistik maupun non-teistik), tetapi juga dalam pandangan-pandangan dunia yang telah terbukti memberi sumbangan untuk peningkatan kebajikan (virtue) semesta. Karena itu, spiritualitas agung juga dapat ditemukan dalam diri persona-persona di luar komunitas keagamaan.

[3]Mark A McIntosh, Christology from Within. Spirituality and the Incarnation in Hans Urs von Balthasar (Notre Dame & London: University of Notre Dame Press, 1996) ix.

[4] Masa hidup Yesus kira-kira dari tahun 6 atau 7 S.M (patokannya: matinya Herodes Agung pada 4 S.M) sampai kurang lebih tahun 30 Masehi, ketika ia mati disalib pada masa pemerintahan Pontius Pilatus (sedangkan jabatan Pontius Pilatus sendiri berakhir tahun 36). Pada kurun waktu masa hidupnya, Yesus dari Nazaret menjadi pemberita kerajaan Allah. Di hadapan orang banyak telunjuknya menunjuk ke kawasan Roh, yaitu Allah sang Bapa yang berbelarasa yang sedang memerintah. Ia meminta orang berpaling kepada Bapanya ini. Tetapi sesudah kematiannya dan sesudah peristiwa yang oleh para pengikutnya diklaim sebagai kebangkitannya, Yesus menjadi isi pemberitaan gereja perdana dan obyek penyembahan yang ditunjuk gereja dalam misi pewartaannya.

[5] Pada hakikatnya, hubungan seorang Kristen dengan Allah harus tidak dikategorikan berbeda dari hubungan Yesus dengan Allah, meskipun hubungan itu baginya sebagai seorang Kristen berlangsung “di dalam nama Yesus Kristus”. Perbedaan bisa terjadi hanya pada tingkat kedalaman hubungan itu, bukan pada hakikatnya; jadi, perbedaannya in degree but not in kind. Menurut hemat penulis, bagaimana merumuskan nisbah hakiki hubungan-hubungan ini akan menentukan apakah Yesus akan diperlakukan sebagai “Allah kedua” atau tidak (atau: apakah iman Kristen akan berubah menjadi “diteisme” atau tidak). Rumusan doktrin Tritunggal harus dipandang sebagai suatu (bukan satu-satunya) hasil usaha gereja pada abad-abad permulaannya baik untuk menggambarkan relasi-relasi di dalam hubungan Yesus dengan Allah dalam kaitan dengan komunitas Kristen maupun untuk mempertahankan monoteisme. Dalam praktik berdoa, karena “taat” pada doktrin Tritunggal, seorang Kristen yang memanggil Allah dan memanggil Yesus harus mengerahkan dan mengarahkan pikiran terus-menerus bisa jadi bukan pada isi doa tetapi pada sugesti ortodoksi trinitarian bahwa “mengingat satu berarti mengingat tiga, mengingat tiga berarti mengingat satu” hanya supaya ia tidak terjatuh ke dalam diteisme atau triteisme! Ketika komunitas Kristen di suatu tempat dan suatu zaman mulai menyadari dan melihat panggilan sejarah yang berbeda dari yang dihayati komunitas Kristen abad-abad 3-5, maka, sehubungan dengan relasinya dengan Allah dan Yesus, otomatis mungkin sekali akan lahir juga rumusan-rumusan yang berbeda dari rumusan doktrin Tritunggal. Bila ini terjadi, ini bukanlah suatu bidaah, melainkan suatu tugas sejarah dan panggilan zaman. “Ortodoksi” dus berarti bukan suatu ajaran atau dogma yang dibekukan dan dibakukan (difosilkan) karena dianggap lurus, melainkan sebuah tanggapan pada Allah (doksa) yang sejalan (lurus; orthos) dengan panggilan zaman yang di dalamnya Allah sedang bekerja.

[6] Suatu refleksi kristiani masa kini mengenai spiritualitas kerajaan Allah, lihat misalnya Jon Sobrino, Spirituality of Liberation. Toward Political Holiness (Maryknoll, New York: Orbis Books, 1990).

[7] “Roh” yang dimaksud di sini bukanlah Oknum Ketiga dalam doktrin Trinitas, melainkan dalam arti umum Roh sebagai Allah, tepatnya Roh Allah seperti yang dipahami dalam Perjanjian Lama: Roh Pencipta, Roh yang kehadiran-Nya dilihat Musa dalam semak belukar yang bernyala tetapi tidak habis terbakar, yang berfirman di Gunung Sinai kepadanya, yang mengilhami dan mendatangi para nabi untuk berbicara dan memberikan penglihatan-penglihatan.

[8] Sebutan “Yesus sejarah” (the historical Jesus, the Jesus of History, atau the essential Jesus, the real Jesus, the pre-Easter Jesus) mengacu pada Yesus dari Nazaret yang belum melewati interpretasi dan perspektif doktrinal para penulis Perjanjian Baru, khususnya penulis Injil-injil. Harus diakui bahwa setiap gambaran apapun tentang Yesus tidak bisa merupakan gambaran yang obyektif seratus persen, bebas nilai dan bebas sudut pandang. Tetapi apabila yang dimaksud adalah Yesus yang dilepaskan dari beragam interpretasi dan perspektif kristologis dari para penulis PB, yakni Yesus sebagai seorang Yahudi dalam dunia sosialnya pada pertigaan pertama abad pertama, Yesus yang semacam ini dapat direkonstruksi secara ilmiah interdisipliner dan dapat terbebas dari prapaham si perekonstruksi.

[9] Teologi komunitas Kristen perdana pasca-Paskah di sini adalah: Yesus itu pemimpin ‘Israel baru’ (gereja) yang berhasil mengalahkan semua godaan dan pencobaan di padang gurun yang dulu gagal diatasi oleh para pemimpin Israel lama dalam perjalanan mereka di padang gurun ketika keluar dari tanah Mesir. Tetapi mengingat kejadian ini dituturkan dalam Injil Markus dan sumber “Q”, ada dasar kuat untuk menyatakan bahwa tradisi tentang pencobaan Yesus ini berasal dari lapisan-lapisan awal tuturan Injil-injil.

[10] Lihat Marcus J Borg, Kali pertama Jumpa Yesus Kembali. Yesus Sejarah dan Hakikat Iman Kristen Masa Kini (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997) 45. Diterjemahkan oleh Ioanes Rakhmat dari buku aslinya: Meeting Jesus Again for the First Time. The Historical Jesus and the Heart of Contemporary Christianity (New York: HarperCollins, 1994). Lihat juga buku Borg, Jesus A New Vision. Spirit, Culture, and the Life of Discipleship (San Francisco: Harper & Row, 1987, 1991), khususnya Bab 3: “The Spirit-filled Experience of Jesus”, hlm. 39-56; catatan 17 (hlm. 43) berisi acuan buku-buku tentang kejadian lintas-budaya para tokoh kharismatis pencari penglihatan ini.

[11] Kata “melihat” di sini bisa berarti mengalami penglihatan, tetapi mungkin juga seluruh ucapan Yesus ini sebagai kiasan tentang kekalahan Iblis (bdk. tema ini dengan Markus 3:27).

[12] Paralel Matius 3:17; Lukas 3:22. Dalam tuturan Matius, ‘suara dari sorga’ memproklamirkan kepada umum bahwa ”Inilah Anak-Ku...”, berbeda dari yang dimuat dalam Injil lainnya yang tertuju kepada Yesus pribadi, ”Engkaulah Anak-Ku...”

[13] Misalnya seperti yang diberikan Rasul Paulus dan penulis Injil Yohanes dan komunitasnya sebagai Anak Allah yang berpra-ada (= sudah ada sebelum dunia dijadikan); atau oleh penulis Injil Lukas dan Injil Matius sebagai Anak yang dikandung oleh Roh kudus dan dilahirkan dari perawan Maria; apalagi dalam pengertian “Allah Anak” sebagai Oknum Kedua dalam doktrin Trinitas yang dirumuskan pada abad ke-4 dan abad ke-5 yang, apabila disodorkan kepada Yesus, tentu akan membuatnya heran luar biasa.

[14] Lihat diskusi panjang lebar tentang dua sebutan yang dipakai Yesus ini (‘abba’ dan ‘anak’) dalam bingkai agama Yahudi dalam Geza Vermes, The Religion of Jesus the Jew (Minneapolis: Fortress, 1993) 160-185.

[15] Kurang lebih sezaman dengan Yesus, terdapat sejumlah orang suci atau tokoh kharismatis Yahudi yang dalam banyak hal menyamai Yesus dari Nazaret. Dua di antaranya yang paling tersohor adalah Honi si Pembuat Lingkaran dan Hanina ben Dosa, yang dapat dibandingkan dengan Nabi Elia yang juga akrab dengan kawasan Roh. Tentang Honi, dalam suatu tradisi Yahudi dikatakan bahwa ia berdoa demikian, “Tuhan semesta alam, anak-anak-Mu telah berpaling kepadaku karena aku adalah seorang anak dalam rumah-Mu di hadapan-Mu”. Tentang Hanina diceritakan bahwa ia menyembuhkan anak dari Rabi Gamaliel yang hampir mati karena penyakit demam, meskipun pada waktu kesembuhan terjadi ia berada di Galilea dan anak itu berada di Yerusalem yang jauhnya kira-kira 100 mil. Suatu “suara dari langit” menyatakan “seluruh alam semesta terpelihara karena anak-Ku Hanina”. Lihat Geza Vermes, Jesus the Jew. A Historian’s Reading of the Gospels (New York: Macmillan 1973) 206-209; juga Religion of Jesus the Jew (Minneapolis: Fortress Press, 1993) 5, 178, passim.

[16] Geza Vermes, The Religion of Jesus the Jew,162; Borg, Kali Pertama Jumpa Yesus Kembali, 46.

[17] Marcus J Borg, Kali Pertama Jumpa Yesus kembali, 45. Geza Vermes, The Religion of Jesus the Jew, 160 n.10; 164 n15; 195 n 11. Perhatikan ucapan Yesus dalam Markus 9:29, “Jenis ini (maksudnya: jenis roh jahat ini –I.R.) tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.”

[18] Masih terdapat perbedaan pendapat di kalangan para pakar, apakah transfigurasi ini suatu epifani, ataukah suatu penglihatan, ataukah suatu gambaran pendahuluan tentang parousia Kristus, atau malah suatu bagian dari cerita-cerita penampakan yang salah penempatannya, ataukah suatu gambaran kuno yang punya arti khusus bagi umat zaman lampau yang sudah sulit diketahui lagi maksudnya pada masa kini. Penulis karangan ini memilih untuk mengambil kemungkinan terakhir yang diajukan ini.

[19] Marcus J. Borg, Kali Pertama Jumpa Yesus kembali, 43.

[20] A Roy Eckardt, Menggali Ulang Yesus Sejarah. Kristologi Masa Kini (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996) 42-44, memandang ini sebagai gambaran Yesus yang kepenuhan Roh; gereja perdana (diwakili Petrus, Yakobus dan Yohanes) ikut serta dalam pengalaman dipenuhi Roh itu. Buku ini terjemahan Ioanes Rakhmat dari buku aslinya: Reclaiming the Jesus of History. Christology Today (Minneapolis: Augsburg Fortress, 1992).

[21] A. Roy Eckardt, Menggali Ulang Yesus Sejarah, 42.

[22]Kata-kata “takjub”, “gentar dan takut”, tidak dipakai TB LAI. Mestinya dipakai untuk menggambarkan perasaan manusia ketika berhadapan dengan “yang kudus”, “numinosum”, yang memancar dari seorang suci yang memerantarai dunia Roh. Borg, Jesus A New Vision, 55 n32, mengutip Rudolf Otto [The Idea of The Holy (New York: Oxford University Press, 1958; 1917)], bahwa dalam Markus 10:32, penulis Injil ini menyatakan “dengan kuat, sangat bersahaja dan dalam sedikit kata yang padat dan mengagumkan.... kesan langsung akan numinous yang memancar dari Yesus.”

[23] Lihat Marcus J. Borg, Jesus A New Vision, bab 4. Juga Graham H. Twelftree, Jesus the Exorcist. A Contribution to the Study of the Historical Jesus (Peabody, Massachusetts, 1993).

[24] Ucapan Yesus ini asli; ditempatkan dalam konteks perdebatan apakah Yesus memakai kuasa Beelzebul (Baalsyamayim, “Penguasa langit”, setan) (Matius 9:32-34; 12:22-30; Markus 3:22-27; Lukas 11:14-23). Matius memakai ungkapan “dengan Roh Allah” (en pneumati theou) (lihat Yehezkiel 11:5; 8:1); Lukas “dengan jari Allah” (en daktuloi theou) (bdk. Keluaran 8:19; 31:18; Ulangan 9:10; Mazmur 8:3); keduanya sinonim menyatakan tindakan langsung Allah sendiri.

[25] Pemakaian kata ganti egō di sini (Sumber Q), seperti satu-satunya lagi untuk tokoh yang berbeda dalam Matius 8:9/ Lukas 7:8 (Sumber Q), mau menekankan pribadi Yesus dan wibawa spiritualnya. Lihat Twelftree, Jesus the Exorcist, 109, 217-224.

[26] Meskipun jelas berasal dari tangan penulis Injil Lukas sendiri, nas programatis dalam Lukas 4: 18-19 ini memuat suatu ucapan yang dengan pas menampilkan pemahaman diri Yesus sendiri sebagai seorang yang memiliki Roh Allah (ayat 18a: Roh Tuhan ada pada-Ku,...).

[27] Kata “mengusir” (ekballō) dalam LXX (Septuaginta) dipakai dalam konteks pengusiran musuh yang menghalangi pemenuhan kehendak Allah atas umat-Nya, Israel, sehingga kehendak Allah terwujud. Lihat Twelftree, Jesus the Exorcist, 109-110.

[28] Richard A Horsley, Jesus and the Spiral of Violence. Popular Jewish Resistance in Roman Palestine (Minneapolis: Fortress Press, 1993) 188.

[29] “Sistem sosial” secara umum mengacu pada cara-cara atau mekanisme yang dipakai suatu masyarakat dalam memberikan atau menyediakan anggota-anggotanya suatu cara hidup kemasyarakatan yang bermakna dan mendatangkan keteraturan/tatanan dan ekuilibrium dalam relasi-relasi antar unsur-unsur atau unit-unit yang ada di dalamnya. Acuan sistem sosial dapat bermacam-macam, bergantung pada model-model sosiologis yang dibangun yang sebetulnya juga saling melengkapi. Model adalah representasi atau gambaran abstrak, umum dan bersahaja atas pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi sosial manusia yang dalam kenyataannya sering sangat rumit. Ada model fungsionalis struktural, model konflik, dan model simbolik (disebut juga model interaksi simbolik atau model interpretatif). Dalam dua model pertama, sistem sosial mengacu pada mekanisme interaksi semua unsur dalam unit-unit sosial dan keseluruhan masyarakat yang ditatasusun dan diarahkan pada kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama. Sedangkan pada model simbolik, sistem sosial adalah sistem simbol-simbol yang dipegang orang dan yang juga memegangnya. Sistem simbol-simbol ini membangun suasana pikiran dan perasaan serta motivasi-motivasi yang kuat, menyeluruh, bertahan lama, dan dipandang realistik karena diberi bentuk faktual (lihat catatan 31 di bawah, tentang simbol). Dalam sistem ini dirumuskanlah obyek-obyek yang dipandang masyarakat bernilai (obyek-obyek-nilai, value objects), yang padanya dilekatkan dan ditanamkan makna-makna, nilai-nilai, dan perasaan-perasaan tentang makna-makna dan nilai-nilai tersebut. Obyek-obyek nilai ini mencakup manusia-manusia/persona-persona (diri sendiri dan orang-orang lain), benda-benda (alam, waktu dan ruang), peristiwa-peristiwa (kegiatan-kegiatan orang-orang dan benda-benda lainnya), dan juga Allah. Lihat tentang ini dalam Bruce J. Malina, The New Testament World. Insights from Cultural Anthropology (Louisville, Kentucky: Westminster/Jihn Knox Press, 1993, rev.ed.) 20-26.

[30] Lihat Mary Douglas, Purity and Danger. An Analysis of Concepts of Pollution and Taboo (London: Routledge & Kegan Paul, 1996). Untuk penerapannya pada dunia Yahudi abad pertama, lihat Jerome H. Neyrey, “The Symbolic Universe of Luke-Acts: “They Turn the World Upside Down”, dalam Jerome H. Neyrey (ed), The Social World of Luke-Acts. Models for Interpretation (Peabody, Massachusetts, 1991) 271-304; juga terutama Bruce J. Malina, Christian Origins and Cultural Anthropology. Practical Models for Biblical Interpretation (Atlanta: John Knox Press, 1986).

[31] “Obyek-obyek nilai” (value-objects) adalah obyek-obyek yang oleh masyarakat diberi makna dan karenanya menimbulkan perasaan-perasaan tertentu serta motivasi-motivasi. Dalam ilmu sosial, obyek-obyek nilai ini, karena menyandang makna dan membangkitkan perasaan dan motivasi, dinamakan simbol-simbol (yang keseluruhannya membentuk, memakai istilah dari sosiologi pengetahuan, suatu ‘dunia simbolik’ bagi dan dari suatu tatanan sosial). Contoh pemaknaan atau simbolisasi: sepotong kain merah dan sepotong kain putih pada dirinya sendiri masing-masing adalah benda-benda biasa; tetapi ketika seseorang menyatukan kedua potongan kain itu membentuk bendera merah-putih, maka potongan-potongan kain yang sudah menyatu itu berubah menjadi obyek nilai atau simbol yang bermakna, yang membangkitkan perasaan dan motivasi pada orang Indonesia yang melihatnya. Pada komunitas Kristen, dua potong kayu yang terlepas dan berdiri sendiri-sendiri tidak menampilkan makna apa pun; tetapi ketika keduanya disilangkan membentuk salib, maka dua potong kayu itu menjadi simbol bermakna yang menghubungkan realitas dunia dengan realitas ideal transenden yang mengacu pada penebusan ilahi atas manusia. Begitu juga, sepotong roti dan segelas anggur yang pada kehidupan sehari-hari hanyalah makanan dan minuman biasa (meskipun anggur boleh tergolong minuman ‘bangsawan’), kedua benda pangan ini berubah menjadi benda-benda bermakna simbolik yang menggerakkan perasaan dan motivasi ketika sang imam atau sang pendeta dalam suatu acara ritual keagamaan meneguhkannya sebagai benda-benda suci yang menunjuk pada kematian Yesus Kristus.

[32] Dalam ilmu sosial, “nilai” adalah suatu kualitas umum dan orientasi hidup yang diharapkan diwujudkan manusia dalam perilaku dan tindakan mereka; suatu orientasi umum dan normatif di dalam suatu sistem sosial. Dalam masyarakat zaman Alkitab di kawasan Laut Tengah, selain kekudusan, juga kehormatan dan rasa malu menjadi nilai-nilai inti mereka.

[33] Misalnya terutama karena kebutuhan melegitimasi kekuasaan kelompok-kelompok elit relegius dan sosio-politik dan ekonomi mapan yang berkuasa, atau karena pandangan-pandangan dan praktek-praktek keagamaan yang diyakini diwahyukan, atau pun juga karena keadaan-keadaan kodrati dan sosial tertentu. Tidak salah apabila dikatakan bahwa sistem puritas Yudaisme ini sampai batas-batas tertentu adalah ideologi dari kelompok-kelompok elit yang dominan yang menguasai kehidupan politik, keagamaan dan ekonomi. Lihat Borg, Kali Pertama Jumpa Yesus Kembali, 62.

[34] Lihat Borg, Kali Pertama Jumpa Yesus Kembali, 58- 62.

[35] Meskipun tampak rakyat di mana-mana mentaati “ritus pembasuhan” sebagai suatu bagian lahiriah dari usaha mempertahankan sistem kekudusan ini [lihat E.P. Sanders, Judaism, Practice and Belief 63 BCE – 66 CE (London/Philadelphia: SCM Press/Trinity Press International, 1992) 228-230], namun sistem kekudusan yang menata masyarakat secara hierarkis ini, yang berpusat pada Bait Allah, dalam sejarah bukanlah sistem yang tidak dilawan rakyat.

[36] Bangsa Yahudi kuno kerap kali menjadi bangsa taklukan bangsa-bangsa lain. Ini menyebabkan kehadiran “bangsa-bangsa kafir” di Tanah Suci merupakan kenyataan menyakitkan hati yang tidak terhindarkan. Ada dinding pemisah yang mencegah orang-orang bukan -Yahudi memasuki pelataran dalam Bait Allah. Diskusi tentang sejauh mana orang bukan-Yahudi dipandang najis dan dalam hal apa tidak dalam hubungan dengan Bait Allah, lihat E.P. Sanders, Judaism, Practice and Belief, 72-76.

[37] Berita imamat ini, yang disusun dalam konteks pembuangan di Babel pada abad ke-6 S.M, selain bermaksud untuk mempertahankan makna dari hari Sabat sebagai pengikat jati diri dan kesatuan bangsa Israel dalam pembuangan, juga memperlihatkan penghayatan Israel akan supremasi pranata relegius mereka baik di tengah-tengah bangsa kafir yang menjadi tempat pembuangan mereka maupun di seluruh alam semesta.

[38] Uraian tentang replika (salinan/peniruan) orde kosmik primordial dalam sistem hierarkis Bait, lihat Neyrey, The Social World of Luke-Acts, 276-278.

[39] Berikut ini gambaran perlawanan yang bermunculan yang sangat disederhanakan. Perlawanan dengan kekerasan dan teror (tertuju khususnya pada kelompok aristokrat imamat Yahudi) diambil kelompok Zelotes yang mempersenjatai diri dengan “badik”/sikari yang juga tampil di pertengahan pemberontakan Yahudi tahun 66-70 (ada 2 pemberontakan lainnya: tahun 4 S.M. dan tahun 132-135 M) . Yang non-kekerasan tampil dalam bentuk penghayatan mendalam, tanpa kompromi serta sesempurna mungkin, terhadap hukum Allah yang dinyatakan dalam Torat dan hukum-hukum keagamaan (seperti hukum puritas tentang cara makan dan makanan, perilaku seksual, perkawinan, sikap terhadap kekayaan) serta kultus dan ritus Bait Suci. Perlawanan dalam bentuk yang kedua ini ditemukan pada Sekte Qumran yang menarik diri dari masyarakat, dan pada kelompok Farisi yang pada abad 1 memilih tetap bertahan dalam masyarakat dan mempraktekkan ketentuan tentang makan dalam Bait Allah sampai ke dalam rumah tangga sehari-hari serta aktif dalam penafsiran-penafsiran baru atas Torat. Kalangan Saduki sebagai kelompok imam aristokrat (menguasai Bait Allah) menekankan, sebaliknya, penafsiran harfiah atas Hukum Musa yang tertulis. Kalangan cendekiawan Yahudi lainnya (kelompok keempat/the fourth philosophy) juga melakukan perlawanan yang berbentuk penolakan membayar pajak kepada Roma dan sensus penduduk. Banyak juga bentuk perlawanan non-kekerasan yang mengajak orang banyak mengingat kembali akta ilahi pembebasan dari Mesir yang dialami nenek moyang Israel, yang kemudian setelah melewati perjalanan di padang gurun, lalu melintasi Sungai Yordan, memasuki Tanah Kanaan, seperti ditemukan antara lain pada Yohanes Pembaptis yang hidup di gurun dan melaksanakan ritus baptisan pertobatan di sungai Yodan (sebetulnya ada cukup banyak gerakan mesianik abad 1 yang berwawasan seperti ini, tetapi yang mengambil bentuk pemberontakan dengan kekerasan melawan Roma, yang sebelum mekar sudah ditumpas Roma). Tentang bentuk-bentuk perlawanan populer dalam masyarakat Yahudi terhadap kekuasaan Roma abad 1, lihat Richard A. Horsley, Jesus and the Spiral of Violence.

[40] “Ragi” dalam Keluaran 12:19 ditunjuk sebagai penyebab kenajisan yang membuat seorang Israel dicampakkan dari komunitas (“…sebab setiap orang yang makan sesuatu yang beragi, orang itu harus dilenyapkan dari antara jemaah Israel,...”); perhatikan ucapan Rasul Paulus dalam Galatia 5:9 yang memuat metafora “ragi” sebagai penyebab menyimpangnya orang dari kebenaran, dan dalam 1 Korintus 5:6-8 sebagai perbuatan dosa (pada ayat 8 “roti yang tidak beragi” menjadi metafora untuk kemurnian dan kebenaran); dalam Markus 8:15 Yesus memperingatkan murid-muridnya untuk waspada terhadap “ragi orang Farisi dan ragi Herodes”. Lihat tentang ini dalam Bernard Brandon Scott, ”Profile of Jesus. The Reappearance of Parables”’ dalam The Fourth R, Januari-April 1997, hlm. 3-14. Lihat bukunya yang membahas perumpamaan-perumpamaan Yesus dari sudut analisis sastra dan analisis sosiologis: Hear Then the Parables. A Commentary on the Parables of Jesus (Minneapolis: Fortress Press, 1989).

[41] Kata Latin untuk meja adalah mensa. Dari sini lahir istilah “open commensality” untuk menggambarkan komunitas egaliter yang antara lain Yesus bentuk, yang di dalamnya hierarki sosial ditumbangkan sebagaimana disimbolkan oleh tiadanya meja yang digunakan dalan acara makan bersama mereka.

[42] Tentang kerajaan Allah sebagai “open commensality”, lihat Lukas 14: 21b-23 dan Matius 22:9-10.

[43] Lepas dari konteks Lukas, ucapan asli Yesus ini menekankan realitas masa kini kerajaan Allah (berbeda dari visi apokaliptik Yohanes Pembaptis) yang, seperti termuat dalam Injil Thomas logion 113, diucapkan kepada para muridnya yang bertanya kapan kerajaan datang (lihat J.D. Crossan, The Historical Jesus. The Life of a Mediterranean Jewish Peasant [New York: Harper Collins, 1991] 282-283).

[44] Dalam tuturan Perjanjian Lama, eksorsisme tidak disebut-sebut. Para nabi, misalnya, lebih banyak dituturkan melawan berhala-berhala asing dan nabi-nabinya. Pertarungan mereka dengan berhala-berhala asing bertujuan untuk menghadapkan orang Israel pada pilihan apakah memilih Yahweh (Tuhan) atau memilih berhala-berhala asing. Tentang ini lihat antara lain tuturan dramatis dalam 1 Raja-raja 18:16-40. Di situ diceritakan bagaimana Nabi Elia bertempur secara spiritual melawan para nabi Baal (dan Asyera) pada masa Raja Ahab (869-850 S.M) melalui persembahan hewan-hewan kurban, yang akhirnya dimenangkannya. Meskipun bukan suatu tuturan tentang eksorsisme, dimensi politik pertarungan spiritual Nabi Elia ini kentara sekali: kemenangan Yahweh berarti pemulihan kembali secara mutlak Yahwisme (baca: pemerintahan teokratis Yahweh) atas Israel; dan para lawan Yahweh harus dibinasakan seluruhnya (maka 450 nabi Baal konon disembelih Elia di sungai Kison!). Pengaruh agama Persia/Iran (abad 5. S.M dst.) antara lain dualisme kosmiknya (kuasa baik Amesha Spentas dan kuasa jahat Angra Mainyus yang sama-sama menguasai kosmos) membuat agama Israel mengenal kuasa-kuasa jahat di luar Allah, dan malaikat baik dan malaikat jahat pun mulai dilukiskan tampil berkonflik dalam pentas sejarah manusia. [Diskusi ringkas pengaruh agama Persia ini (Zoroastrianisme) pada agama Israel, lihat Lester L. Grabbe, Judaism from Cyrus to Hadrian. Vol. 1: The Persian and Greek Periods (Minneapolis: Fortress Press, 1992) 100-103]. Maka, ketika dalam Perjanjian Baru Yesus dituturkan bertarung dengan kuasa-kuasa setan, pada satu segi ini dilatarbelakangi perkembangan pemikiran keagamaan Yahudi yang menerima realitas kuasa jahat adikodrati, tetapi pada segi lainnya, ketika rakyat dituturkan banyak yang kerasukan setan, tuturan ini tentunya juga berisi pesan sosial-politik riil.

[45] Tentang eksorsisme sebagai salah satu fungsi “reality-maintenance” dari masyarakat untuk menjaga simetri antara kenyataan obyektif dan kenyataan subyektif, lihat Peter Berger & Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality. A Treatise in the Sociology of Knowledge (1966: London: Penguin Books, 1967, 1973) 175-176. Lebih jauh mengenai kaitan antara kisah-kisah mujizat dan pengusiran setan/eksorsisme, dan dimensi sosial politik pada masa Israel di bawah kolonial Roma, lihat Gerd Theissen, The Miracle Stories of the Early Christian Tradition (trans. Francis Mc.Donagh; Edinburgh: T & T Clark, 1983) 231-264. Juga Richard A Horsley, Jesus and the Spiral of Violence, 184-190. Pembahasan bagus atas motif-motif politis simbolik dalam gambaran figur Setan di tengah pertarungan antar kekuasaan-kekuasaan politik duniawi dalam sastra-sastra PB dan Kekristenan Perdana, Lihat Elaine Pagels, The Origin of Satan (New York: Vintage Books, 1995).

[46] Pemahaman atas perikop ini mengikuti Gerd Theissen, The Miracle Stories, 255.

[47] Patung garuda emas yang dibangun Herodes di atas portal pintu gerbang besar Bait Allah menjadi simbol kontrol Roma atas Bait Allah Yerusalem. Tentang hubungan kekuasaan Roma dan Bait Allah, lihat Horsley, Jesus and the Spiral of Violence, 285-292. Bahwa sistem kurban dalam Bait Allah membuka pelbagai ajang bisnis, lihat Sanders, Judaism, Practice and Belief, 77-89.

[48] Ikhtisar tentang perlawanan rakyat kebanyakan terhadap Bait Allah Yerusalem pada abad 1, lihat Crossan, Who Killed Jesus? (San Francisco: Harper Collins, 1995) 50-60. Di sini diajukan beberapa saja: menjelang kematian Herodes Agung (4 s.M) patung garuda emas (lihat di atas) dihancurkan, dan para pelakunya yang dipimpin dua guru Yahudi dibakar hidup-hidup dan sebagian lagi diserahkan kepada para juru jagal (Horsley, Jesus and the Spiral of Violence, 71-77). Sesudah Yesus dari Nazareth, maka pada tahun 62, seorang yang bernama Yesus anak Ananias menubuatkan tanpa henti kehancuran Bait Allah, dan ini betul-betul terjadi dalam Perang Yahudi tahun 66-70.

[49] “…Tidak satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan.” (Markus 13:2); “….Aku akan merubuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini….” (14:58). Inti ucapan yang sudah diberi penerapan ini (berkaitan dengan kehancuran Bait Allah dalam Perang Yahudi 66-70; kebangkitan Yesus atau pun parousia) adalah ucapan peringatan (atau kutukan) profetis Yesus terhadap Bait Allah. Diskusi tentang ini lihat J.D. Crossan, The Historical Jesus, 354-359; idem, Who Killed Jesus?, 59-60; Horsley, Jesus and the Spiral of Violence, 292-296.

[50] Diskusi kritis tekstual dan historis dalam usaha memahami kiprah historis aktual Yesus terhadap Bait Allah yang (dalam skala sangat kecil) diobrak-abriknya dalam hubungan yang mungkin dengan penangkapan dan eksekusinya langsung, lihat John Dominic Crossan, The Historical Jesus, 354-360. Bertolak belakang dengan Crossan, lihat Horsley, Jesus and the Spiral of Violence, 297, yang menyatakan bahwa demonstrasi dan penyerangan Yesus di Bait Allah sangat besar dan serius sehingga pihak penguasa Roma dan otoritas Yahudi di Bait Allah membiarkannya saja sampai suatu saat lainnya ia ditangkap. Yang jelas, penyerangan Yesus atas Bait Allah ini telah membuat pihak penguasa Yahudi memutuskan pasti “akan membunuh” Yesus (Markus 11:18); hanya tinggal menunggu waktu saja.