Sunday, October 19, 2008

Pendekatan-pendekatan Kritis Hermeneutik

Teks Kitab Suci dapat diperlakukan sebagai “jendela” (teropong, atau lubang kunci, atau jembatan) atau sebagai “cermin” (atau permukaan air bening). Kalau dipandang sebagai jendela, si penafsir melalui teks melihat jauh ke belakang, kepada sejarah teks, sejarah si penulisnya atau komunitasnya dan sejarah di dalam teks―ini disebut tafsir dengan pendekatan diakronik (“melintasi waktu”). Kalau teks dilihat sebagai cermin, si penafsir melihat dirinya ada bersamaan dengan dan di dalam teks (sebagaimana orang bercermin)―ini disebut tafsir dengan pendekatan sinkronik (“bersamaan waktu”).


Untuk dapat menangkap maksud dan pesan teks-teks Kitab Suci, si penafsir harus dengan seksama dan penuh pertimbangan memperhitungkan segala aspek teks. Keseksamaan dalam menimbang teks inilah yang disebut “kritisisme” (criticism) atau “kritik” (dari kata Yunani: krinein = to make a judgment prudently, based on taking various factors into account).

Kritik nomor 1 sampai dengan nomor 9 di bawah ini termasuk tafsir dengan pendekatan diakronik; kritik nomor 10 dan 11 termasuk tafsir dengan pendekatan sinkronik.

1) Kritik sejarah (historical criticism) 

Pendekatan ini menaruh perhatian pada sejarah dari teks dan sejarah di dalam teks. “Sejarah dari teks” mengacu pada hal-hal yang berkaitan dengan kelahiran, transmisi/penerusan/ persebaran dan perubahan-perubahan teks: dalam situasi sosial historis apa teks ditulis, siapa penulisnya, di mana ditulis, untuk menjawab kebutuhan dan persoalan apa teks ditulis, apa maksud dan tujuan si penulis teks, siapa penerima teks, apa kondisi sosial historis yang sedang dihadapi penerima teks, apakah teks relevan dengan persoalan yang sedang dihadapi penerima teks, dan bagaimana keadaan teks ketika diteruskan dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu generasi ke generasi lainnya, perubahan-perubahan apa yang dialami teks. “Sejarah di dalam teks” menunjuk pada hal-hal kesejarahan dan kebudayaan yang dapat dibaca di dalam teks: hal apa yang sedang dikisahkan atau dilaporkan di dalam teks, apakah kisah atau laporan di dalam teks itu betul-betul terjadi dalam dunia ini, adakah hal-hal penting di dalam teks yang perlu lebih diperhatikan, adakah kisah-kisah atau laporan-laporan paralel di luar teks yang dapat dipakai untuk lebih mengerti teks yang sedang dibaca (ini menjadi perhatian dari “history-of-religions school”), faktor-faktor sejarah dan budaya kontemporer apa yang muncul di dalam teks.

2) Kritik tekstual (textual criticism)
Fokus kritik ini adalah berbagai varian teks yang tersedia, yang daripadanya harus dipilih mana yang paling dapat diandalkan autentisitasnya. Dalam edisi-edisi kritis Kitab Suci, akan ditemukan sejumlah catatan kaki (critical apparatus) yang berguna untuk antara lain mengetahui varian-varian teks yang tersedia dan mana dari antaranya yang lebih dapat diandalkan (karena usianya yang lebih tua; atau karena pembacaan dan susunan katanya yang lebih sesuai dengan maksud perikop teks yang sedang diteliti).

3) Kritik tatabahasa (grammatical criticism)
Pendekatan ini memperhatikan bahasa teks, khususnya teks-teks yang berupa argumen-argumen pemikiran yang runtut, yang dituang ke dalam teks. Berbagai segi kebahasaan dan ketatabahasaan, termasuk juga dunia semantik teks, digumuli oleh kritik tatabahasa. Untuk kebutuhan ini, si penafsir tentu saja perlu menguasai bahasa asli teks dan tata bahasanya, dan sistem budaya yang dari dalamnya bahasa dan tatabahasa teks dihasilkan.

4) Kritik tradisi (tradition criticism)
Sebelum sebuah teks masuk ke dalam kanon (= sekumpulan dokumen yang dipandang suci dan berwibawa untuk menjadi patokan atau standard atau ukuran dalam menyusun ajaran iman yang benar), teks itu mempunyai sejarahnya sendiri, sudah ada sebelumnya dan sudah mengalami perkembangan-perkembangan dan penyesuaian-penyesuaian tertentu dalam penerusannya. Kritik tradisi memusatkan perhatiannya pada tahap-tahap historis yang dilintasi sebuah teks sebelum teks itu masuk ke dalam kanon dan mencapai bentuk akhirnya (final or canonical form). Penelitian terhadap sumber-sumber (source criticism atau juga disebut documentary criticism) teks kanonik juga masuk ke dalam bidang kajian kritik tradisi.

5) Kritik bentuk (form criticism)
Kalau kritik tradisi memperhatikan blok-blok teks yang lebih besar, maka kritik bentuk berfokus pada bentuk-bentuk teks yang lebih kecil sebagai jenis-jenis teks (literary genres) tersendiri, yang sudah muncul dan dipakai oleh komunitas-komunitas keagamaan dalam periode lisan penerusan atau transmisi teks. Sitz im Leben atau setting in life atau “konteks/kedudukan-dalam-kehidupan” pada masa tradisi-tradisi disebarkan secara lisan menjadi fokus utama kritik bentuk. Yang ingin diketahui oleh kritik bentuk adalah apa fungsi dan peran yang dimainkan oleh bentuk-bentuk atau jenis-jenis teks yang lebih kecil ini (misalnya, kisah-kisah tentang mukjizat, perumpamaan-perumpamaan, bahan-bahan pengajaran, debat-debat doktrinal, ajaran-ajaran missioner, kisah-kisah pemberitaan, madah-madah, kegiatan-kegiatan ritual, dll) ketika teks-teks ini tersebar dalam periode lisan dalam kehidupan komunitas-komunitas keagamaan perdana.

6) Kritik redaksi (redaction criticism)
Dalam memakai sumber-sumber, setiap penulis teks tentu saja tidak hanya mengambil alih dan mempertahankan bahan-bahan sumber yang mereka pakai, melainkan juga menyunting atau meng-edit atau meredaksi ulang bahan-bahan itu, entah dengan cara menambah dan memperluas bahan-bahan sumber ataupun dengan cara menyingkat dan menyusutkan bahan-bahan sumber atau pun juga dengan cara mengganti kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu dari bahan-bahan sumber. Kritik redaksi, sesuai dengan namanya, berfokus untuk menemukan bagian-bagian suntingan yang dibuat oleh redaktor atau editor terakhir teks-teks suci, dengan cara membandingkan teks final kanonik dengan bahan-bahan sumber yang dipakai si penulis teks akhir dan dengan teks-teks paralel yang tersedia. Hal ini penting dilakukan jika si penafsir ingin mengetahui sudut pandang atau teologi si penulis akhir teks-teks kanonik, yang dituangkan di dalam bagian-bagian yang diredaksi atau dieditnya.

7) Kritik literer (literary criticism)
Kritik literer menaruh perhatian pada bagaimana suatu teks disusun dalam suatu komposisi sastra yang dapat memberi efek persuasif (efek meyakinkan) pada para pembaca teks. Mengenali komposisi dan struktur suatu teks adalah penting jika orang ingin mengenali pemikiran si penulis teks. Karena setiap penulis teks ingin pembaca atau pendengarnya yakin akan kebenaran teks yang ditulisnya, maka si penulis pasti akan memakai pelbagai teknik retorik untuk mencapai tujuannya itu. Kritik retorik, karenanya, juga memperhatikan dan mempelajari berbagai teknik retorika yang dipakai si penulis teks.

8) Kritik feminis (feminist criticism) 

Kritik ini lahir dari kesadaran dan pengetahuan bahwa teks-teks Kitab Suci ditulis dalam suatu kebudayaan androsentris (“berpusat pada laki-laki”) dan patriarkhal (“dipimpin oleh laki-laki”), dan karena itu berisi bias dan agenda perjuangan kaum laki-laki yang meminggirkan kaum perempuan dari peran sosial-budaya dan politik mereka. Ada empat langkah hermeneutis yang saling mengisi dalam melakukan tafsir feminis. 

Pertama, hermeneutik kecurigaan (hermeneutics of suspicion) bertujuan untuk mendeteksi dan menganalisis prapaham-praham dan kepentingan-kepentingan androsentrik yang terdapat baik dalam teks-teks Kitab Suci maupun dalam penafsiran-penafsiran teks yang telah muncul dalam sejarah dan dalam diri para penafsir masa kini.

Kedua, hermeneutik ingatan historis (hermeneutics of remembrance) berfokus pada upaya-upaya merekonstruksi dan merajut sejarah komunitas-komunitas perempuan perdana dengan memakai baik fragmen-fragmen teks-teks Kitab Suci yang berbicara tentang perempuan maupun fragmen-fragmen ingatan-ingatan serta warisan-warisan historis kaum perempuan.

Ketiga, hermeneutik pemberitaan (hermeneutics of proclamation) menegaskan bahwa teks-teks Kitab Suci dan tafsiran-tafsiran atas teks-teks yang bercorak patriarkhal dan androsentris, yang mengeksploitasi, menjajah dan merendahkan martabat kaum perempuan, bukan sebagai teks-teks dan tafsiran-tafsiran yang memberitakan firman Allah, melainkan teks-teks dan tafsiran-tafsiran yang berisi firman kaum laki-laki.

Keempat, hermeneutik imajinasi dan visi yang membebaskan (hermeneutics of liberative vision and imagination) melibatkan para penafsir feminis dalam upaya memakai visi dan imajinasi kreatif mereka untuk menulis ulang teks-teks dan kisah-kisah dalam Kitab Suci (yang umumnya secara tradisional telah ditafsir secara androsentris dan patriarkhal) dengan menempatkan peran dan martabat perempuan di tempat utama.

9) Kritik sosial-saintifik (social-scientific criticism) 

Ini adalah pendekatan kritis paling mutakhir dalam kajian-kajian teks-teks Kitab Suci. Asumsi dasarnya adalah bahwa setiap teks membawa makna (meaning) atau maksud (intention) yang dihasilkan oleh sistem sosial di dalam mana teks dihasilkan dan si penulis teks hidup. Setiap teks dipahami sebagai socially and culturally conditioned, maksudnya: teks itu selalu dipengaruhi dan dibentuk oleh sistem sosial budaya di dalam mana si penulis teks menulis teksnya. Karena itu, untuk memahami teks dengan benar, si penafsir harus mengenali sistem sosial budaya di dalam mana si penulis teks hidup dan berkarya. Dengan demikian, kritik sosial-saintifik memerlukan bantuan ilmu-ilmu sosial untuk mengenali masyarakat-masyarakat masa lampau di suatu dunia yang berbeda dari dunia si penafsir masa kini. Sosiologi dan antropologi lintas-kultural jadinya dilibatkan dalam usaha-usaha akademik memahami teks. Dalam hermeneutik Kitab Suci, model-model yang berlaku lintas-budaya yang dikembangkan dalam ilmu-ilmu sosial tentang bagaimana suatu masyarakat beroperasi harus dipertimbangkan dan dipakai (yakni model fungsionalisme-struktural, model konflik, dan model interaksionisme simbolik).

10) Kritik naratif (narrative criticism)
Dengan kritik ini, si penafsir memusatkan perhatian bukan pada sejarah teks atau pada si penulis teks yang hidup di zaman dulu, melainkan pada dunia teks (text world) atau dunia kisah (story world) yang ada pada teks. Teks sebagai kisah-yang-berjalan, itulah yang mau diikuti si penafsir. Maksud dan pesan teks timbul dari dunia kisah yang disampaikan teks, bukan dari si penulis teks yang hidup di zaman lampau. Si penulis teks diabaikan (karena dia sudah mati); dan kini teks dengan dunianya berdiri sendiri sebagai satu kesatuan kisah bermakna di hadapan si pembaca/penafsir. Si pembaca atau si penafsir masa kini atas teks juga tidak diberi tempat dan peran untuk menentukan makna teks. Karena si penulis asli teks (zaman dulu) dan pembaca/penafsir masa kini tidak diberi tempat dalam penafsiran, maka dalam kritik naratif dimunculkanlah dua penggantinya, masing-masing disebut penulis tersirat (implied author) dan pembaca tersirat (implied reader). Karena teks ada, maka (lepas dari si penulis aslinya dulu) pasti ada penulis yang tersirat di dalam teks itu. Karena teks ada, maka (lepas dari si pembaca/penafsir masa kini) pasti ada pembaca yang tersirat di dalam teks itu. Tanpa penulis tersirat dan pembaca tersirat, tidak akan ada teks apa pun yang sudah dilepaskan dari si penulis asli zaman dulu dan dari si penafsir/pembaca masa kini. Implied author juga berfungsi atau bertindak sebagai narrator yang sedang berkisah atau memberi petunjuk-petunjuk atau catatan-catatan kepada implied reader. Dalam pandangan para kritikus naratif, penulis tersirat itu, karena dia sudah menghasilkan kisah dari awal sampai akhir, adalah tokoh yang serba tahu (tahu hal-hal yang sudah terjadi maupun yang masih akan terjadi), dan, dalam narasi-narasi Kitab Suci, mempunyai sudut pandang (point of view) yang sama dengan sudut pandang Allah sendiri sebagai Tokoh utama dalam narasi.

Karena pusat perhatian kritik naratif adalah dunia kisah, maka untuk mengerti dan menangkap pesan dan maksud teks, kisah ini harus diikuti dengan seksama dan dipahami dengan benar, dengan cara mengenali karakter-karakter (penokohan-penokohan) yang digambarkan terlibat dalam berbagai peran dan aktivitas dalam dunia kisah, melihat latar (settings) sebagai konteks cerita tentang terjadinya sesuatu di dalam dunia kisah, mengikuti alur cerita atau plot yang sedang bergerak dari tahap awal, menuju klimaks dan berakhir pada anti-klimaks dan ending atau akhir kisah. Penulis tersirat pasti berusaha meyakinkan pembaca tersirat akan kebenaran berita yang mau disampaikannya melalui kisah; karena itu, dalam kritik naratif perhatian juga harus diberikan kepada retorika (= seni mempersuasi atau meyakinkan pembaca atau pendengar) yang dipakai di dalam pengisahan.

11) Kritik tanggapan-pembaca (reader-response criticism)
Berbeda dari kritik naratif, kritik reader-response tidak berfokus pada dunia kisah dalam teks, melainkan pada diri si pembaca masa kini, pada pengalaman membaca yang sedang dialami si penafsir atau si pembaca masa kini, sebagai tanggapan pribadinya terhadap teks yang sedang dibaca. Yang menentukan makna atau pesan teks bukan dunia kisah dalam teks, juga bukan si penulis zaman dulu, melainkan si pembaca masa kini. Kritik tanggapan-pembaca, dengan demikian, adalah pendekatan tafsir yang paling subyektif: menyerahkan makna teks untuk ditentukan oleh si subyek yang sedang membaca teks. Si penafsir ahli akan menghasilkan temuan makna teks yang berbeda dari yang ditemukan si penafsir atau si pembaca awam. Kedudukan dan status sosial si pembaca, serta pengalaman-pengalaman hidupnya sendiri, akan menentukan pesan atau makna teks yang akan ditemukannya dalam teks yang sedang dibacanya. Reader-response criticism juga adalah pendekatan yang paling lentur dan dinamis, sebab tidak ada satu penafsir atau pembaca mana pun yang boleh mengklaim telah menemukan satu-satunya pesan atau makna teks. Teks menjadi terbuka untuk dipahami dalam aneka ragam arti, makna dan sudut pandang.

Dalam memakai kritik tanggapan-pembaca, pengalaman-pengalaman yang muncul ketika orang membaca teks juga menjadi tidak bisa dibatasi. Berikut ini sebagian hal saja yang bisa bermunculan ketika orang membaca teks, dengan fokus pada penemuan pengalaman membaca secara subyektif. 

  • Si pembaca bebas untuk melangkah maju atau melangkah mundur (looking forward, looking back) dalam dia mengikuti plot kisah yang sedang dibaca, bergantung pada apa yang sedang dicari atau dipertanyakan olehnya. 
  • Dalam melakukan langkah-langkah ini, tiba-tiba saja si pembaca bisa memperoleh insights baru atas teks yang sedang dibacanya. 
  • Kalau si pembaca merasa ada bagian-bagian yang terhilang atau tidak jelas dalam narasi atau kisah yang sedang dia tekuni, dia bebas mengisi bagian-bagian yang hilang atau tidak jelas itu (filling gaps), untuk memberinya rasa puas dalam membaca teks dan mengembangkannya. 
  • Kalau si pembaca menemukan ironi-ironi di dalam teks yang sedang dia baca, dia bebas membuat sebuah rekonstruksi atas teks supaya ironi-ironi yang ditemukannya itu tidak ditafsirkannya secara harfiah. 
  • Si penafsir juga bisa menyatakan perlawanan atau ketidaksetujuannya terhadap teks yang sedang dibacanya; dia menjadi a resisting reader, seorang yang melawan teks yang sedang dibacanya, dan mengusulkan penyusunan atau pengisian baru atas teks yang sudah ada. 
  • Si pembaca juga akan bisa dibawa kepada pengalaman menemukan bagian-bagian di dalam teks yang ternyata menghancurkan atau menelan teks secara keseluruhan (the self consuming artifact); dia harus siap sedia dengan pengalaman menemukan bagian-bagian teks yang menyimpangkan, membelokkan atau membinasakan hal-hal yang sudah dikemukakan bagian-bagian teks sebelumnya.


Baca juga Langkah-langkah Menafsir Teks Kitab Suci