Monday, March 17, 2008

Bagaimana Kanon Perjanjian Baru Ditetapkan?


Bagaimana Kanon Perjanjian Baru Ditetapkan?
(Disusun oleh Ioanes Rakhmat, bersumber pada Roy W. Hoover, “How The Canon Was Determined”, The Fourth R, January 1992, 1-7).

Bagaimana dulu gereja memutuskan kitab-kitab mana yang termasuk ke dalam Perjanjian Baru? Kapan keputusan itu dibuat? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan di seputar apa yang secara tradisional disebut sebagai kanonisasi atau pembentukan kanon. Arti kata Yunani kanōn adalah “norma” atau “kaidah”, “patokan” atau “standar” yang dengannya sesuatu dapat diukur. Dalam menyebut dua puluh tujuh kitab dalam PB sebagai sebuah kanon, gereja awal dulu menyatakan bahwa kumpulan 27 kitab itu berfungsi sebagai “kaidah” atau “standar” yang dengannya gereja merumuskan iman dan melaksanakan kehidupan praktis; dus, kanon adalah kumpulan tulisan/kitab yang “normatif” bagi gereja. Faktanya, ternyata tidak ada hanya satu kanon; kanon ada dalam berbagai versi, semuanya ditetapkan berdasarkan konsensus.


Panjang Prosesnya  

Daftar (list) pertama kitab-kitab “kanonik” yang memuat 27 kitab yang sama dengan yang kita temukan dalam PB, muncul di dalam sebuah Surat Paskah dari Athanasius, Bishop dari Aleksandria, Mesir, tahun 367 M. Dia menyebut semua kitab dalam PB dengan urutan yang berbeda dari yang kita punyai sekarang. Meskipun demikian, daftar pertama yang cocok dengan yang ada pada kita sekarang akan muncul masih jauh di depan, setelah melewati proses yang panjang.

Pada masa Athanasius, atau tidak lama sebelumnya, gereja telah mencapai suatu konsensus informal atas kebanyakan tulisan yang kemudian masuk ke dalam Perjanjian “Baru”. Bahkan sebetulnya, kesepakatan tentang daftar kanon telah dicapai lebih dari satu abad sebelumnya. Malah proses membentuk sebuah kanon telah dimulai lebih awal lagi.

Ada bukti yang menunjukkan surat-surat Paulus telah dikoleksikan oleh gereja-gereja di beberapa lokasi geografis pada akhir abad pertama M. Di dalam sebuah surat yang dikirim dari gereja di Roma kepada gereja di Korintus, si penulisnya menulis (1 Klemen 47:1): “Periksalah surat yang ditulis Paulus, rasul yang diberkati. Apa yang mula-mula dia telah tulis kepadamu, ketika dia baru saja mulai mengabarkan Injil?” Ini adalah sebuah rujukan kepada surat 1 Korintus yang ditulis Paulus. Ini menunjukkan bahwa gereja-gereja di Roma masih memiliki sebuah kopi surat Paulus itu, setengah abad setelah Paulus menulisnya. Pengarang surat 2 Petrus juga mengenal sebuah kumpulan surat Paulus (3:15-16) dan menganggap pembacanya juga mengenalnya. 2 Petrus ditulis pada awal abad kedua M.

Pada awal abad kedua juga, Ignatius, Bishop Antiokhia, menulis surat-surat kepada tujuh gereja sementara ia dalam perjalanan menuju Roma, di mana dia kemudian mati syahid. Di dalam surat-suratnya ini, dia menggunakan bahasa yang dengan jelas memperlihatkan pengenalannya atas surat-surat Paulus. Dia sering kali mengacu kepada Paulus dengan menyebut namanya.

Bukti-bukti di atas menunjukkan dengan jelas bahwa pada pergantian abad pertama M, sejumlah gereja telah memperoleh salinan-salinan dari surat-surat Paulus untuk mereka gunakan. Tahap formatif dari kumpulan surat-surat Paulus telah berlangsung.

Bahkan lebih awal lagi dari itu, orang-orang Kristen lainnya telah juga membuat koleksi-koleksi ucapan-ucapan Yesus dan kisah-kisah tentang dirinya. Injl Ucapan-ucapan, yang diberi nama Injil Q (= Quelle = sumber; sekarang terdapat di dalam Injil Matius dan Injil Lukas), adalah sebuah kompendium/kumpulan ucapan-ucapan Yesus; kemudian Injil Tanda-tanda ―yang menjadi salah satu sumber penulisan Injil Yohanes ― adalah sebuah kumpulan kisah-kisah perbuatan ajaib yang ditautkan kepada Yesus. Dua kumpulan tulisan ini telah dimasukkan ke dalam kitab-kitab Injil yang berisi narasi-narasi tentang Yesus. Para penulis kitab-kitab Injil PB telah menata ulang kumpulan-kumpulan ucapan-ucapan dan kisah-kisah tentang Yesus itu (Injil Q dan Injil Tanda-tanda) untuk membuat kisah-kisah yang bersambungan. Seperti surat-surat Paulus, kitab-kitab Injil ini, bersama dengan tulisan-tulisan lain, telah dikumpulkan oleh pelbagai gereja. Pada pertengahan abad kedua, ada banyak sekali ragam tulisan yang telah dikenal gereja-gereja, yakni: Injil-injil naratif (Matius, Markus, Lukas, Yohanes), setidaknya satu Injil Ucapan-ucapan (Injil Thomas), dialog-dialog dan wahyu-wahyu yang diasalkan pada Yesus, bermacam-macam kisah kelahiran Yesus, beberapa kisah perbuatan para Rasul, kotbah-kotbah, dan banyak lagi. Gereja sedang dengan cepat menjadi gereja yang membaca pelbagai bahan tulisan. Dalam waktu satu abad setelah kematian Yesus, orang-orang Kristen telah menghasilkan sejumlah kecil, tetapi beraneka ragam, perpustakaan yang memuat tulisan-tulisan yang dipakai untuk kehidupan mereka. Meskipun demikian, sampai pada waktu itu belum ada saran untuk menciptakan suatu daftar resmi tulisan-tulisan suci, suatu kanon.

Marcion dan Kanon Pertama 


Gerak pertama yang penting menuju pada pembentukan sebuah kanon Kristen dimulai oleh Marcion, seorang pemilik kapal dan pedagang, anak dari seorang bishop dari gereja di Asia Kecil. Marcion (wafat th 160 M) mengusulkan untuk gereja menolak Kitab Suci Yahudi dan menerima sebuah kanon baru yang dimilikinya sendiri. Kanon itu harus terdiri dari hanya satu Injil, yaitu Injil Lukas, dan satu rasul, yakni Paulus. Berdasarkan tafsirannya atas Paulus, Marcion berpendapat bahwa Kitab Suci Yahudi hanya berkaitan dengan Allah yang membuat perjanjian dengan Israel, dan Kitab Suci ini tidak sah bagi orang-orang Kristen. Demi kepentingan menjaga kesatuan gereja dan kebenaran Injilnya, maka gereja harus menentukan tulisan-tulisan normatifnya sendiri dan harus tidak lagi menggunakan Kitab Suci Yahudi. Marcion yakin bahwa rujukan-rujukan kepada Allah yang disembah orang Yahudi yang muncul dalam Injil Lukas dan tulisan-tulisan Paulus adalah penyimpangan-penyimpangan dari apa yang semula ditulis Lukas dan Paulus. Alhasil, Marcion menghapus rujukan-rujukan yang semacam itu dari versi-versi yang ia masukkan ke dalam Perjanjian Baru yang diusulkannya.

Marcion memakai Paulus sebagai pandunya dalam ia merumuskan pandangan Kristen yang benar tentang hal-hal itu. Ditumpasnya oleh Roma pemberontakan Bar Kokhba th 132-135 M, yang merupakan suatu usaha terakhir orang-orang Yahudi memperoleh kemerdekaan mereka, bisa jadi telah memegang andil dalam Marcion menentukan pandangannya tentang Kitab Suci Yahudi. Jika Kitab Suci Yahudi hanya berkaitan dengan sejarah bangsa Yahudi dan Bait Allah, dan jika pranata-pranata ini telah berakhir, maka gereja tidak perlu lagi berurusan dengan Kitab Suci Yahudi. Penyingkiran atas Kitab Suci Yahudi ini telah dibenarkan oleh peristiwa-peristiwa yang telah menimpa bangsa Yahudi. Gerak radikal Marcion ini telah mendorong gereja untuk dengan sadar mengangkat untuk pertama kalinya persoalan penentuan kanon. Marcion jelas adalah orang pertama yang menyarankan perlunya ada sebuah kanon baru yang khusus bagi gerakan Kristen.

Usul Marcion memang sangat mengejutkan bagi banyak orang pada zamannya; rationale (alasan-alasan) teologisnya heterodoks ―bahkan heretik, bidaah. Ini perlu diberi tanggapan. Ini telah memaksa gereja untuk menentukan sikap atas nilai dan status Kitab Suci Yahudi yang telah diambilnya sebagai Kitab Sucinya sendiri. Dan ini juga telah mempercepat gereja untuk menentukan mana dari antara tulisan-tulisan yang dimilikinya yang harus dipandang kanonikal ―normatif―dan mengapa.

Daftar-daftar Pertama  


Gereja menghadapi tantangan Marcion dengan cara menentukan daftar-daftar dari kitab-kitab yang telah disetujui untuk dibaca dalam gereja-gereja. Yang paling awal dari daftar-daftar ini adalah Kanon Muratori, yang biasanya dipandang disusun pada akhir abad kedua. Yang paling memberi pencerahan dari sekian daftar yang ada adalah daftar yang dibuat Eusebius, Bishop Kaisarea, di dalam karya multi-jilidnya tentang sejarah gereja yang diterbitkan tahun 325 M. Daftar buatan Eusebius menunjukkan bahwa sebuah konsensus telah dicapai atas sedikitnya dua puluh kitab yang dimasukkan ke dalam koleksi baru tulisan-tulisan suci, yang dikenal sebagai Perjanjian Baru. Dia membagi tulisan-tulisan ke dalam tiga kategori: tulisan-tulisan yang “diakui”, “diperdebatkan”, dan “ditolak”. Pembagian semacam ini juga berlaku bagi daftar-daftar yang lebih awal. Kita tahu, misalnya, Irenaeus, Bishop dari Lyon di Gaul (Perancis), dalam karyanya yang dihasilkan tahun 185 M, memandang sebagai kanonikal kedua puluh kitab yang kemudian muncul dalam kategori Eusebius sebagai kitab-kitab yang “diakui”. Selain itu, Irenaeus juga mengakui Kitab Wahyu dan Gembala Hermas, sehingga totalitas tulisan yang diakui dua puluh dua buah. Pada awal abad ketiga, Origenes dari Aleksandria mendukung kedua puluh dua kitab itu sebagai kanonik. Daftar buatan Origenes hampir sama dengan yang diterima Irenaeus dan terdaftar sebagai kitab-kitab yang “diakui” oleh Eusebius.

Maka dapat dikatakan, bahwa tidak lebih dari dua puluh lima atau tiga puluh tahun setelah Marcion mengusulkan kanonnya, Irenaeus telah mengusulkan sebuah daftar “ortodoks” yang mencakup dua puluh tulisan sebagai kanonik. Daftar ini kemudian ditambahkan, tetapi tidak pernah diubah dalam perdebatan-perdebatan tentang kanon yang terjadi di kemudian hari. Gereja menerima dua kategori mendasar yang diusulkan Marcion, yakni “injil” dan “rasul”, tetapi tidak sependapat dengan definisi-definisi minimalistik atas keduanya yang diusulkan Marcion. Bukan satu injil, tetapi empat; bukan satu rasul, tetapi “semua” rasul, yang harus dimasukkan ke dalam kanon. Kisah Para Rasul masuk ke dalam daftar sebagai kitab rasuli juga, bersama dengan surat-surat Paulus dan dua surat umum (surat-surat edaran).

Empat Injil, Satu Injil 


Adanya empat Injil dalam pandangan beberapa orang akan membahayakan kesatuan Injil gereja. Marcion telah mengusulkan suatu injil tunggal, yang memberikan keuntungan berupa terhindarnya kesenjangan-kesenjangan dan inkonsistensi-inkonsistensi apa pun. Sekitar tahun 165 M, Tatian di Syria telah menghasilkan Diatessaron (secara harfiah berarti “satu melalui empat”). Tatian telah menciptakan suatu Injil tunggal gabungan, lewat kombinasi dan harmonisasi teks-teks Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Teks selengkapnya dari karya inovatif ini telah hilang, tetapi ini menyingkapkan suatu dorongan lain untuk membuat kesatuan Injil sebagai kenyataan. Tetapi gereja perdana dulu menolak dorongan-dorongan semacam ini dan memilih untuk memahami keempat Injil sebagai empat kesaksian terhadap satu kisah injil, satu berita keselamatan. Bahkan Irenaeus menambahkan dengan berargumentasi bahwa sama seperti adanya empat penjuru bumi dan empat arah mata angin, maka begitu juga harus ada empat pilar Injil yang Allah telah berikan kepada dunia. Jumlah empat dipakai Irenaeus sebagai bukti langsung dari otentisitas Injil-injil: gereja sedunia dapat memiliki sebuah Injil rangkap empat, tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih.

Eusebius (Penasihat Kaisar Konstantinus) 


Pada waktu Eusebius menghasilkan “daftar”-nya dalam tiga golongan di tahun 325 M, ia menggunakan tolok-tolok ukur (kriteria) yang lebih rasional dibandingkan dengan yang dipakai Irenaeus lebih dari satu abad sebelumnya. Eusebius bertanya, apakah tulisan-tulisan telah disebut oleh generasi-generasi terdahulu para pemimpin gereja, apakah gaya penulisannya sejalan dengan tulisan-tulisan yang diketahui telah ditulis pada masa awal sejarah gereja, dan apakah isinya konsisten dengan ortodoksi yang sudah mapan. Jika ada tulisan-tulisan yang mengklaim mengetengahkan iman gereja tetapi tidak memenuhi kriteria ini, maka dia melabelkan tulisan-tulisan itu sebagai “pemalsuan yang dilakukan oleh orang-orang sesat.”

Kanon disediakan hanya untuk karya-karya awal, sejauh kekunoan karya-karya itu dapat ditentukan. Para pengumpul Kanon Muratori telah menolak tulisan Gembala Hermas, meskipun tulisan ini populer, karena tulisan ini diketahui disusun “baru-baru ini”. Beberapa orang berpendapat, dengan dasar yang lebih beraneka warna, bahwa empedu harus tidak dicampur dengan madu, di mana madu dianggap menggambarkan karya-karya yang lebih ortodoks. Tetapi tidak satu pun dari daftar-daftar yang ada menyebut pengilhaman (inspirasi) sebagai sebuah tolok ukur untuk menentukan tulisan-tulisan mana yang harus dimasukkan ke dalam kanon. Tampaknya, alasannya adalah bahwa karena semua orang Kristen dipenuhi Roh, sebuah klaim pengilhaman tidak akan berguna sebagai suatu cara untuk membedakan tulisan-tulisan Kristen yang kanonikal dari yang ekstra-kanonikal (di luar kanon). Sering kali dicatat bahwa satu tulisan di dalam PB yang mengklaim diilhamkan adalah kitab Wahyu Yohanes, tapi justru kitab inilah yang persisnya paling sering diperdebatkan di antara tulisan-tulisan lainnya yang diusulkan masuk ke dalam PB.

Daftar yang dibuat Eusebius tahun 325 M memuat dua puluh satu tulisan yang dinyatakan “diakui”, atau diterima sebagai kanonikal, jika kita menganggap bahwa dia memasukkan Surat Ibrani di antara surat-surat Paulus, dan jika kita memperhitungkan Wahyu Yohanes di antara tulisan-tulisan yang diperdebatkan. Dia tidak mengatakan surat-surat-surat apa yang termasuk ke dalam surat-surat Paulus; dan ia mendaftarkan Wahyu Yohanes dua kali, pertama sebagai tulisan yang ada di antara tulisan-tulisan yang diakui, dan sekali lagi di antara tulisan-tulisan yang diperdebatkan. 


Athanasius 

Daftar berikutnya yang masih ada dari zaman kuno adalah daftar yang dibuat Athanasius yang diterbitkan tahun 367 M. Daftarnya memuat dua puluh tujuh kitab, yang sama dengan yang membentuk PB kita. Di antara masa Eusebius dan masa Athanasius, enam kitab yang diperdebatkan atau ditolak (Yakobus, Yudas, 2 Petrus, 2 dan 3 Yohanes dan Wahyu Yohanes) akhirnya menjadi kitab-kitab yang termasuk kategori diakui. Dari zaman Athanasius sampai zaman kita sekarang, kedua puluh tujuh kitab ini tetap berada di dalam kanon, meski pun kitab-kitab itu telah ditantang dari waktu ke waktu oleh para pemimpin gereja dan teolog. Martin Luther (abad 16), misalnya, memandang surat Yakobus, surat Ibrani, surat Yudas dan Wahyu Yohanes tidak pas untuk dimasukkan ke dalam kitab-kitab kanonik.

Alkitab dan Tipu-daya Politik 


Apa yang terjadi di antara masa Eusebius dan masa Athanasius untuk kita dapat menerangkan langkah terakhir yang diambil yang membawa gereja pada suatu konsensus? Bagaimana akhirnya gereja sampai bisa memutuskan apa yang bisa masuk ke dalam kanon dan apa yang harus dikeluarkan dari dalamnya? Sayangnya, sumber-sumber yang bisa kita pakai tidak mengatakan apa-apa tentang hal ini. Konsili Nicea di tahun 325 M tidak membahas masalah ini, dan baik Eusebius maupun Athanasius atau pun para penulis lainnya dari periode ini tidak menceritakan kepada kita mengapa ini bisa terjadi.

Ada satu perkembangan di abad keempat yang bisa memberikan sebuah penjelasan yang menarik dan masuk akal. Pada tahun 331 M., Kaisar Roma, Konstantinus, mengirim sebuah surat (teksnya ada pada kita) kepada Bishop Eusebius di Kaisarea, memintanya untuk mengatur penerbitan lima puluh Alkitab. Kelima puluh Alkitab ini haruslah merupakan salinan-salinan dari “Kitab Suci ilahi” yang dibuat dengan mahir pada perkamen (kertas kulit) yang baik, untuk digunakan di dalam gereja-gereja dari kapitol yang baru dari kekaisarannya, Konstantinopel. Konstantinus bukan hanya menjanjikan akan membayar semua biaya yang dikeluarkan untuk proyek ini; dia juga menyediakan dua kereta kuda untuk menjamin pengapalan yang cepat untuk salinan-salinan yang sudah selesai dikerjakan, supaya ia pribadi dapat memeriksanya.

Eusebius adalah seorang penasihat dan orang kepercayaan sang Kaisar. Dia di mana-mana dipandang sebagai arsitek utama dari filsafat politik dari kekaisaran yang dibentuk Konstantinus. Dia adalah seorang sekutu terpercaya sang Kaisar dalam membela dan menerapkan kebijakan-kebijakan untuk mengatur negara yang baru dikristenkan. Eusebius tahu bahwa Konstantinus peduli terhadap kesatuan gereja dan kesatuan kekaisarannya. Eusebius juga tahu bahwa kelima puluh Alkitab yang baru itu yang telah disiapkan untuk ibu kota kekaisarannya akan memainkan suatu peran penting dalam membangun kesatuan gereja. Inklusivitas daftar buatan Athanasius tampak merupakan akomodasi atau penyesuaian politis. Daftar ini mengatasi silang-sengketa mengenai status kanonik dari surat Ibrani dan Wahyu Yohanes dengan cara memasukkan keduanya ke dalam kanon. Karena itu, tampak masuk akal jika kita menduga bahwa penambahan enam buku terakhir ini ke dalam daftar kanon bukanlah hasil dari argumen historis atau teologis, tetapi didesak oleh kebutuhan negara. Dengan kata lain, kanon PB dimantapkan demi tujuan-tujuan praktis ketika Konstantinus memberi perintah untuk memproduksi lima puluh Alkitab. Penerbitan kelima puluh Alkitab ini adalah bukti yang jelas dari kesatuan gereja dan karenanya juga kesatuan kekaisaran.

Alkitab: Kanon Yang Terbuka  


Kanon abad keempat telah dapat bertahan lama, tetapi kanon ini tidak dipandang sebagai final dan tidak pernah diterima secara universal. Di antara gereja-gereja Ortodoks Timur keanekaragaman kanon nyata terjadi, sebelum Konstantinus bergerak lebih jauh. Kanon gereja Syria, misalnya, adalah Peshitta, sebuah versi Syria dari PB yang ditetapkan pada abad kelima. Dalam Peshitta tidak ada 2 Petrus, 2 dan 3 Yohanes, Yudas, dan Wahyu Yohanes. Luther menempatkan Ibrani, Yakobus, Yudas, dan Wahyu Yohanes terakhir di dalam terjemahan PB yang dibuatnya tahun 1522, karena dia meragukan klaim berstatus kanonik dari tulisan-tulisan ini. Alkitab Gustavus Adolphius (Stockholm, 1618) memperlakukan keempat tulisan ini sebagai tulisan-tulisan apokrif. William Tyndale, “Bapak Alkitab berbahasa Inggris”, menempatkan keempat tulisan yang sama ini di tempat terakhir dalam terjemahan PB yang dibuatnya tahun 1526, tampaknya mengikuti langkah Luther.

Gereja Roma Katolik (GRK) tidak mengeluarkan sebuah pernyataan otoritatif mengenai isi Alkitab sampai 8 April 1546, ketika Konsili Trente, dengan voting 24 lawan 15, dengan 16 abstein, menyatakan tulisan-tulisan di dalam versi Latin Vulgata, yang disusun Jerome, sebagai kanon resmi gereja. Namun, kanon GRK berbeda dari Alkitab yang diterima kebanyakan gereja Protestan: kanon GRK mencakup Apokrifa PL, serangkaian kitab antar-perjanjian yang tidak diterima kanon Protestan.

Sebetulnya, tidak ada suatu kanon tunggal yang diterima sebagai final oleh seluruh gereja. Untuk gereja am/katolik/universal, status kanon pada masa kini menyerupai statusnya pada masa Eusebius: status ini menyangkut masalah konsensus dan masalah perbedaan. Di dalam mencapai konsensus, tentu saja berbagai kepentingan insani dan duniawi bermain sangat kuat.

Lampiran 1: Eusebius mengenai Kanon PB 


Tapi sekarang ketika kita sudah mencapai pokok ini, maka masuk akal jika kita meringkaskan tulisan-tulisan mana yang masuk ke dalam PB seperti telah disebutkan sebelumnya. Maka, pertama-tama kita harus menempatkan empat Injil kudus, yang diikuti oleh Kisah Para Rasul. Setelah ini, kita harus memperhitungkan surat-surat Rasul Paulus, sesudahnya kita harus menyatakan sebagai asli surat/epistle Yohanes, demikian juga surat Petrus. Setelah semua tulisan ini, kita harus menempatkan, jika ini sungguh tampak benar, Wahyu Yohanes, pandangan-pandangan yang sudah dipegang tentang mana kita akan paparkan pada waktu yang tepat. Semua tulisan ini termasuk ke dalam tulisan-tulisan yang diakui. Tetapi ada tulisan-tulisan yang diperdebatkan, meski pun sudah dikenal oleh mayoritas, yakni: Surat Yakobus, surat Yudas, dan surat 2 Petrus; dan 2 dan 3 Yohanes, entah apakah keduanya milik penulis Injil atau mungkin milik orang lain yang memiliki nama yang sama. Di antara tulisan-tulisan palsu, ada yang juga harus disebut: Kitab Akta Paulus, dan Gembala sebagaimana ini disebut; dan Wahyu Petrus; dan, tambahan lagi, surat Barnabas, dan Pengajaran Para Rasul sebagaimana ini disebut; dan, lagi, seperti saya sudah katakan, Wahyu Yohanes jika ini tampak benar. (Yang terakhir ini, sudah saya katakan, ditolak oleh sejumlah orang, tetapi ada juga kalangan yang memberinya tempat di antara tulisan-tulisan yang diakui). Dan di antara tulisan-tulisan ini, beberapa orang memperhitungkan juga Injil Orang-orang Ibrani, sebuah karya yang diterima khususnya oleh orang-orang Ibrani yang telah menerima Kristus. Adapun semua tulisan ini masuk ke dalam tulisan-tulisan yang diperdebatkan; namun kita telah dipaksa untuk membuat sebuah katalog dari tulisan-tulisan ini juga, untuk membedakan tulisan-tulisan yang oleh tradisi gereja dipandang benar dan asli dan diakui, dari tulisan-tulisan lain yang tidak termasuk ke dalam tulisan-tulisan yang benar dan asli ini; namun, meski pun tulisan-tulisan lain ini tidak kanonik bahkan diperdebatkan, tulisan-tulisan ini diakui oleh kebanyakan gerejawan. [Dan kita sudah melakukan ini] agar kita dapat mengetahui baik tulisan-tulisan yang sama maupun juga tulisan-tulisan yang oleh para bidaah diajukan di dalam nama para rasul, entah yang berisi Injil Petrus atau pun Injil Thomas dan Injil Matthias, atau bahkan beberapa tulisan lain selain yang telah disebut ini, atau yang berisi Akta Andreas dan Akta Yohanes dan akta rasul-rasul lainnya. Tidak satupun di antara tulisan-tulisan bidaah ini telah dipandang patut disebut di dalam suatu risalah yang dibuat oleh satu anggota dari serangkaian generasi para gerejawan; dan karakter dari gaya penulisan tulisan-tulisan ini tidak mencerminkan sama sekali gaya penulisan para rasul; dan pemikiran serta tujuan dari isi tulisan-tulisan ini sama sekali tidak selaras dengan ortodoksi yang sejati, sehingga ini menyatakan dengan tegas bahwa tulisan-tulisan ini pastilah tulisan-tulisan palsu yang dibuat para bidaah. Karena alasan ini, tulisan-tulisan ini bahkan haruslah tidak ditempatkan di antara tulisan-tulisan palsu, tetapi harus ditolak sama sekali sebagai tulisan-tulisan yang buruk, menakutkan dan tidak beriman.

Lampiran 2: Athanasius, Daftar-daftar kanonik 


Haruslah tidak boleh ada keraguan untuk menyatakan lagi [kitab-kitab] dari PB; kitab-kitab ini adalah: Empat Injil, yakni Injil menurut Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Selanjutnya, setelah ini, juga Kisah Para Rasul, dan tujuh surat yang disebut Surat-surat Katolik dari para Rasul, sebagai berikut: Surat Yakobus, 1 dan 2 Petrus, lalu 3 surat Yohanes; dan setelah ini, surat Yudas. Sebagai tambahan dari ini semua, ada empat belas surat dari Paulus, dengan urutan sebagai berikut: Pertama, surat Roma; lalu dua surat Korintus; dan setelah ini surat-surat Galatia, Efesus; lalu surat-surat Filipi dan Kolose dan dua surat Tesalonika; dan surat Ibrani. Selanjutnya dua surat Timotius; dan satu untuk Titus, dan yang terakhir surat Filemon. Juga, Wahyu Yohanes…. Tetapi saya perlu menulis, bahwa saya perlu menambahkan ini demi setidaknya kelengkapan, bahwa ada kitab-kitab lain selain yang telah disebut ini, yang kendatipun tidak kanonik, namun “direkomendir” olah para Bapak Gereja untuk dibaca oleh para pemula dan oleh mereka yang ingin diajar dalam pengajaran kesalehan: Hikmat Salomo, Hikmat Sirakh, Esther, dan Yudit, dan Tobit, dan apa yang disebut Pengajaran Para Rasul, dan Sang Gembala. Dan, kekasihku, tulisan-tulisan yang sebelumnya telah dikanonisasikan, dan yang kemudian perlu dibaca; akan tetapi, tidak disebutkan tulisan-tulisan apokrifa, tetapi tulisan-tulisan apokrifa adalah suatu alat dari kalangan bidaah, [yang] menulis tulisan-tulisan ini ketika mereka mau lalu menyetujui semuanya dan memberikan waktu penulisan pada periode awal supaya dengan itu mereka dapat menampilkan semuanya sebagai tulisan-tulisan kuno; dengan begitu, mereka mempunyai sebuah dalih untuk menyesatkan orang-orang sederhana melalui tulisan-tulisan ini.

Lampiran 3: Viktor Konstantinus Maximus Augustus kepada Eusebius 


Di dalam kota yang memakai namaku, dengan pertolongan Allah, providentia Penyelemat kita, sejumlah sangat besar orang telah menggabungkan diri mereka ke dalam gereja yang paling kudus. Karena itu, sementara segala hal yang dilakukan di sana telah meningkat dengan sangat besar, tampaknya sudah sangat wajib bahwa harus ada lebih banyak gereja yang dibangun di dalam kota itu. Engkau begitu ingin menerima apa yang aku telah putuskan untuk melakukannya. Sebab tampaknya pas, untuk menandakan kebijaksanaanmu, bahwa engkau harus memesan lima puluh salinan Kitab Suci ilahi (persedian dan penggunaannya, tentang mana kamu sudah tahu, akan sangat diperlukan bagi pengajaran gereja) yang harus ditulis pada kertas kulit yang telah disiapkan dengan baik, oleh para penyalin yang paling cakap di dalam seni menulis dengan benar dan tepat; salinan-salinan Kitab Suci itu harus sangat mudah dibaca; dan dapat dengan mudah diangkut sampai pada penggunaannya. Tambahan pula, surat-surat telah dikirim kepada pejabat kepala keuangan dari keuskupan, yang berisi perintah bahwa dia harus telaten menyediakan segala hal yang diperlukan untuk menyelesaikan salinan-salinan yang telah dikatakan. Ini, karena itu, akan menjadi tanggungjawabmu, untuk memperhatikan agar salinan-salinan itu dapat dengan segera disediakan. Engkau juga akan diberi kuasa dengan otoritas surat kami ini, untuk menggunakan dua angkutan umum kereta kuda, untuk membantu transportasi. Sebab, dengan sarana ini, hal-hal yang dituliskan dengan benar, dapat dengan lapang diperlihatkan kepada penglihatan kami, yakni, satu dari para diaken gerejamu dipakai untuk pelaksanaan pekerjaan ini. Yang, ketika dia datang kepada kami, akan dibuat pantas untuk menerima karunia kami. Allah memeliharamu, saudaraku tersayang!

Lampiran 4: Nama-nama dan peristiwa

 
Klemen (abad 1 M): Mungkin bishop ketiga dari kota Roma, dan penulis sebuah surat (1 Klemen) yang ditujukan kepada gereja di Korintus kira-kira tahun 95.

Ignatius (sekitar 35-107 M): Bishop Antiokhia di Syria dan penulis surat-surat kepada beberapa gereja: Efesus, Magnasia, Trallia, Roma, Filadelfia, Smirna. Dia juga menulis sebuah surat kepada Polikarpus, bishop Smirna.

Marcion (wafat sekitar th 160): Seorang penduduk asli Sinope di Pontus dan seorang pemilik kapal yang kaya raya. Dia diekskomunikasikan pada th 144.

Kanon Muratori: daftar tertua yang masih ada dari tulisan-tulisan PB, ditemukan pada abad 18 oleh L.A. Muratori di dalam manuskrip abad kedelapan. Daftar ini umumnya dipandang berasal dari abad kedua M.

Tatian (abad kedua M): Seorang penduduk asli Assyria; dia adalah seorang apologis Kristen dan penulis Diatessaron, sebuah sejarah kehidupan Kristus yang dihimpun dari empat Injil dan dipakai di gereja Syria sampai abad kelima M.

Irenaeus (ca. 130-200 M): Bishop dari Lyon, Gaul (Perancis).

Origenes (ca. 185-254 M): Kritikus Alkitab dari Aleksandria, penafsir, teolog dan penulis soal-soal kerohanian.

Eusebius (ca. 260-340 M): Bishop Kaisarea. Karyanya yang multi jilid, Sejarah Gereja, berisi sejarah gereja sampai sekitar th 300 dan diterbitkan th 325 M.

Konstantinus (ca. 274-337 M): Kaisar Roma yang kebijakannya adalah menyatukan gereja Kristen dengan Negara melalui ikatan-ikatan yang sedekat mungkin. Hukum-hukum dan surat-suratnya menjadi suatu sumber utama bagi kajian-kajian tentang hubungan-hubungan kekristenan dengan Negara dari th 313 ke depan.

Athanasius (ca. 296-373 M): Bishop dari Aleksandria, Mesir.

Konsili Nicea (325 M): Konsili umum pertama dari gereja Kristen yang dihimpun oleh Kaisar Konstantinus yang takut bahwa pertikaian yang terjadi di dalam gereja akan dapat menimbulkan kekacauan di dalam kekaisaran. Kredo/Pengakuan Iman Nicea adalah hasilnya.

Konsili Trente (1545-1563): Sebagai tanggapan terhadap Reformasi Protestan, konsili ini mendefinisikan doktrin Katolik yang berbeda dari doktrin Protestan dan menerapkan pembaruan-pembaruan untuk memulai suatu revitalisasi.